A Magic of Deadline

deadlineDeadline atau dikejar target adalah sebuah kata yang memiliki momok menakutkan bagi sebagian orang. Keharusan untuk segera menyelesaikan suatu tugas membuat mereka yang di landa deadline merasa tertekan. Apalagi jika persiapan yang dilakukan belum maksimal dan resiko yang harus ditanggung jika kebobolan deadline cukup mengerikan. Maka hal itu dapat mengakibatkan keringat bercucuran, nafas terengah-engah karena ketergesaan, jantung berpacu dengan cepat, dan pikiran-pikiran negatif terhadap resiko yang akan diterima semakin membayangi pikiran.

Tetapi dibalik momok menakutkan sebuah deadline tersebut sebenarnya Read the rest of this entry »

Sebuah Renungan

*Artikel ini bersumber dari email yang saya terima dari salah seorang teman.*

Assalamu alaikum warahmatulloh,

Semoga Alloh Yang Maha Mengetahui setiap daun yang berguguran di seluruh bumi ini,
akan menyaksikan hamba-hamba- Nya yang khusyuk mengejar petunjuk-Nya.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat Taufik dan Hidayah-Nya.

Dari Seorang Sahabat

Bahan Renungan Untuk Anda, Sahabatku, yang mungkin terlalu sibuk bekerja…
Luangkanlah waktu sejenak untuk membaca dan merenungkan pesan
ini…

Alhamdulillah, Anda beruntung telah terpilih untuk mendapatkan

kesempatan membaca email ini.

Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi kita. kita seolah
lupa dengan sesuatu yang kita tak pernah tau kapan kedatangannya.
Sesuatu yang bagi
sebagian orang sangat menakutkan.Tahukah kita kapan
kematian akan menjemput kita???

berikanlah waktu anda dan bacalah sampai habis, semoga dapat menjadikan
hikmah buat kita semua dan sadar, bahwa kita akan mati dan tinggal

menunggu waktunya,

semoga kita termasuk dalam orang-orang yang khusnul khotimah…. amien….

Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku
dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar
doa ibuku saat pulang
dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam
shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama,

apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

Aku
sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri :

“Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar- benar

mengherankan!

“Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang mukmin dan itulah
shalat orang orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk

munajat kepada Allah.

Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang
matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat
selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari

pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku.

Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung
beban sebagai orang terasing.

Disana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi
suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup

sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku
ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol.. Di samping menjaga
keamanan
jalan,tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan

semangat dan dedikasi tinggi.

Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan
sering melamun sendirian … banyak waktu luang … pengetahuanku

terbatas.

Aku mulai jenuh … tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku
sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan
orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain.

Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah sebuah

peristiwa yang hingga kini tak pernah aku lupakan.

Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas disebuah pos
jalan.

Kami asyik ngobrol … tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan
yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil

bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan.
Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.
Kejadian yang sungguh
tragis.

Kami
lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis. Keduanya
segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami
cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas

dengan amat mengerikan.

Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma.
Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat. Ucapkanlah
“Laailaaha Illallaah … Laailaaha Illallaah ..” perintah temanku.

Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu.
Keadaan itu membuatku merinding.

Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat …

Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku
tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah

menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti
ini.

Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat.

Tetapi …. keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.

Tak ada gunanya … Suara lagunya terdengar semakin melemah …. lemah
dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara
lagi, disusul orang
kedua.

Tak ada gerak …. keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa
mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatahpun.

Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening…

Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara.Ia berbicara tentang hakikat
kematian dan su’ul
khatimah (kesudahan yang buruk).

Ia berkata “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik
atau buruk..

Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya

selama di dunia.

“Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang
diriwayatkan dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara bagaimana

seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara
lahir batin.

Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang
kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa

kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa
ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat
khusyu’ sekali.

Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.
Aku kembali
pada kebiasaanku semula … Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang
menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang lalu. Tetapi

sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya
lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala.

Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua
orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang menakjubkan !.

Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu …. sebuah kejadian
menakjubkan kembali
terjadi di depan mataku. Seseorang mengendarai
mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah
terowongan menuju kota . Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang

kempes. Ketika ia berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan ban serep,
tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah
belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika.

Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama

cepat-cepat menuju tempat kejadian.

Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit
agar langsung mendapat penanganan. Dia masih sangat muda, wajahnya
begitu bersih.Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik,

sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika
kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang
keluar dari mulutnya.

Ia melantunkan ayat-ayat suci
Al-Qur’an … dengan suara amat lemah.

“Subhanallah ! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat Read the rest of this entry »