
Ujung Kulon
Ujung Kulon. Pertama kali mendengar nama ini ketika duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) saat jam pelajaran IPS. Pada saat itu yang terlintas dipikiran mengenai nama ini tidak lebih dari sebuah nama daerah yang memiliki spesies langka berupa Badak Bercula Satu. Sejak setelah pelajaran IPS itu hingga saat sebelum menginjakkan kaki di Ujung Kulon, anggapan mengenai daerah terbarat Pulau Jawa itu tetap sama, tidak lebih dari keterkenalannya akan kepemilikan spesies langka badak bercula itu.
Pertengahan April 2010 menjadi momen yang tak terlupakan dalam catatan harian perjalanan perjalanan hidup ini. Bersama empat belas sahabat backpacker menyatukan visi mengatur rencana mewujudkan mimpi untuk menaklukkan Ujung Kulon. Pasar Festival, Kuningan menjadi titik start pertemuan sebelum memulai perjalanan. Tepat pukul setengah sebelas malam, Elf (sejenis kendaraan travel) yang menjadi angkutan selama perjalanan menancapkan gas meninggalkan Pasar Festival. Perkiraan perjalanan untuk tiba di Ujung Kulon akan memakan waktu sekitar 5 Jam. Tetapi waktu yang diperkirakan tersebut meleset. Ditengah perjalanan, saat Elf yang ditumpangi melintasi Pandeglang, kendaraan ini berulah. Ban bocor! Elf trhenti seketika. Pak Hari, Sopir Elf, turun melihat kondisi ban. Setelah dicek ternyata kebocoran terdapat pada ban kiri belakang. Eits. Tidak hanya ban kiri saja, ternyata ban kanan juga mengalami hal yang serupa. Gubrak.
Jarum jam menunjukkan waktu telah subuh. Sang fajar masih enggan menampakkan dirinya. Gelap. Tidak ada cahaya lampu jalanan sebagaimana di kota. Dikiri dan kanan jalan terhampar deretan pepohonan yang (sepertinya) menyerupai hutan. Asumsi ini muncul disebabkan gelap yang melanda sehingga sulit untuk memprediksikan keadaan sekitar dengan pasti.
Tak jauh dari tempat kejadian ban bocor, tampak cahaya kekuningan Read the rest of this entry »