RSS

Wahai Manusia, Traveling-lah di Segala Penjuru Dunia!

jalan-jalan-halal

Sepasang kekasih halal menjelajahi alam (foto nadhillah gayvani)

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. [Al Mulk: 15]

Siapa yang tidak suka jalan-jalan? Rasanya belum pernah bertemu sama tipe orang seperti ini. Kalaupun ada yang mengatakan tidak suka jalan-jalan, biasanya orang tersebut mempertimbangkan tentang pengeluaran kepada hal-hal yang menurutnya lebih penting.

Sehingga tak jarang ada yang mengatakan jalan-jalan hanya untuk menghambur-hamburkan uang saja. Tidak salah memang. Tetapi yakinlah, meski ia memiliki idealisme seperti itu, namun jika diajak jalan-jalan, apalagi gratis, rasanya mustahil ia untuk menolak.

Umumnya, orang yang melakukan jalan-jalan tujuannya tidak lain adalah untuk refreshing. Menyegarkan diri setelah dihadapi dengan rutinitas pekerjaan. Jalan-jalan adalah obat penghilang rasa lelah. Memang banyak cara untuk meredam rasa lelah. Tetapi yakinlah, jalan-jalan adalah obat paling mujarab, walaupun sekadar bersilaturahmi ke rumah saudara atau berkunjung ke taman di komplek rumah.

Tentu saja jalan-jalan yang dimaksud di dalam Al Quran sebagaimana di awal paragraf ini adalah yang bermakna positif, mengandung manfaat. Yang membuat diri semakin dekat kepada Sang Pencipta. Dengan menjelajahi segala penjuru bumi, bahkan mungkin ke luar angkasa. Melihat ciptaan-Nya yang memesona, sehingga tak jarang membuat berdecak kagum.

Salah satu manfaat jalan-jalan adalah semakin menyadari bahwa diri ini sangat kecil di hadapan-Nya. Bagai butiran debu. Sehingga senantiasa untuk belajar menjadi lebih baik.

Menyaksikan keindahan alam, bahkan keajaiban dunia yang diakui dalam The Seven Wonder, tujuh keajaiban dunia. Merasakan perbedaan dengan ragam bahasa. Aneka ras dengan warna kulit yang berbeda-beda. Padahal sejatinya, nenek moyang manusia adalah satu, Adam dan Hawa.

Manusia disuruh untuk bertafakkur. Merenung. Bersyukur. Dan semakin mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Alam Semesta.

 

Berikut ayat-ayat Al Quran yang memaknai tentang perjalanan:

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku lalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku lalim kepada diri sendiri.” [Ar Rum: 9]

 

“Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [Al Ankabut: 20]

 

“Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.” [An Naml: 69]

 

“…berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” [An Nahl: 36]

 

“Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Adalah orang-orang yang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka.” [Ghafir: 82]

 

 

 
3 Comments

Posted by on February 20, 2017 in Uncategorized

 

Tags: , , , , ,

Love Overland

images-33

Perjalanan melalui jalan darat adalah hal yang sangat menyenangkan. Kalau ada perjalanan ke luar kota, jika tidak mendadak, aku lebih memilih melintasi daratan, menggunakan bis. Meski saat ini, harga tiket pesawat bahkan ada seharga nasi padang.

Jalan-jalan bukan sekadar sampai di tujuan. Perjalanan itu sendirilah tujuannya. Tak jarang, saat tiba di tujuan, seakan merasa perjalanan sudah berakhir saja.

Seperti pengalamanku saat menempuh perjalanan darat dari Medan ke Jakarta. Saat bis mulai bergerak mengawali perjalanan, seakan semangat pun mulai mengecas. Rasa excited melihat tempat-tempat baru dan berbeda.

Waktu yang paling aku sukai adalah saat mentari masih menampakkan dirinya, siang hari. Melihat kehidupan masyarakat lokal dari balik jendela bis. Bahasa dan kebiasaan yang senantiasa berubah. Berawal dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, hingga berakhir di Jakarta.

Salah satu lintasan favoritku adalah daerah Mesuji, Lampung. Di sini akan terlihat suguhan berupa rumah-rumah nan artistik. Ornamen-ornamen peribadatan umat Hindu. Ya, daerah ini banyak dihuni orang Hindu. Selama sekitar 15 menit pemandangan ini akan menjadi panorama nan berkesan.

Di perlintasan Lampung ini juga ada kawasan ladang tebu yang super luas, seakan tak bertepi. Memandangnya mampu merontokkan rasa jenuh. Segar sekali. Mirip ladang-ladang di negeri barat sana. Perkebunan penghasil gula ini adalah milik perusahaan gulaku.

Perjalanan darat memang selalu menyuguhkan hal-hal menarik dan tak terduga. Meskipun itu hanya pemandangan berupa hiruk-pikuk kehidupan di pasar kumuh, tetapi bagiku adalah suguhan nan menarik.

Kalau sudah cinta terhadap sesuatu terkadang bagi orang lain akan terlihat aneh. Ibarat seorang penggila bola yang rela bangun di saat orang sedang tahajud. Sama halnya dengan kegemaranku berpetualang melintasi bumi.

(foto culturacollectiva. com)

 
8 Comments

Posted by on February 14, 2017 in Uncategorized

 

Rasakan Serunya Bertualang bersama Buku Jelajah Kepri

3 Jurus jitu

Provinsi Kepri bukan Provinsi Riau. Kalimat pertama ini sengaja saya tegaskan karena seringkali orang luar terkecoh dengan kedua wilayah beda provinsi ini. Kepri merupakan akronim dari Kepulauan Riau. Meski ada embel-embel kata “Riau” tetapi wilayah kepulauan ini sudah berdiri menjadi provinsi sendiri sejak 14 tahun lamanya. Katakan saja Kepri.

Jika ingin mengetahui lebih jauh seperti apa tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi di Provinsi Kepri cobalah sentuh buku biru karya komunitas Blogger Kepri. Buku ini berjudul Jelajah Kepri. Mengulas tentang ragam tempat wisata yang ada di Provinsi Kepri. Sebuah provinsi maritim di negeri ini yang terdiri atas 7 wilayah kabupaten/kota.

Dua wilayah berstatus kotamadya yaitu Tanjungpinang yang merupakan ibukota Provinsi Kepri dan Batam. Adapun nama-nama kabupatenya adalah, Bintan, Karimun, Lingga, Anambas, dan Natuna. Provinsi bergelar Bunda Tanah Melayu ini didominasi oleh wilayah lautan dengan persentase sebesar 96 persen, sedangkan luas daratan hanya 4 persen.

Ragam tempat wisata dibahas detail di buku ini. Mulai dari wisata pantai, gunung, sejarah, hingga melihat langsung adat dan kebiasaan masyarakat di suatu pulau. Letaknya yang berjiran dekat dengan Singapura dan Malaysia menjadi nilai tambah bagi potensi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Kepri berada di peringkat ketiga sebagai provinsi dengan kunjungan wisman terbanyak setelah Jakarta dan Bali.

Batam merupakan gerbang utama bagi wisatawan yang hendak memasuki wilayah Kepri. Baik itu wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, karena letaknya yang bertetangga dengan dua negara maka pintu masuk wisman dari Singapura dan Malaysia bisa  juga diakses langsung melalui Karimun dan Tanjungpinang. Sedangkan wilayah Kepri yang bisa diakses langsung dari Jakarta selain Batam adalah Tanjungpinang, Anambas, dan Natuna.

Membaca goresan para penulis dunia maya yang sudah melanglang buana ke semua kabupaten dan kota di Provinsi Kepri ini akan membawa Anda seolah ikut bertualang di dalamnya. Setelah tuntas membaca buku Jelajah Kepri ini Anda bisa mencoba jajal tempat-tempat seperti yang diceritakan dalam buku. Jika ada yang ingin ditanyakan tinggal ketik saja alamat situs blog para blogger ini yang tertera di setiap judul tulisan. Kami tunggu kedatangan kamu di Kepri! Jangan lupa bagikan pengalaman perjalanan ke semua orang.

 
15 Comments

Posted by on February 6, 2017 in Uncategorized

 

Liburan Seru ke Pulau Peucang (Trip Ujung Kulon)

26828_1287456859003_3548541_n

Jernihnya air laut di Pulau Peucang

Hari libur sering dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk mengunjungi tempat-tempat yang sudah dikenal oleh banyak orang. Baik itu objek wisata maupun negara tertentu. Hal ini tentu saja menyebabkan tempat-tempat mainstream tersebut menjadi ramai, terkadang penuh sesak. Saya termasuk tipe yang menyukai wisata anti-mainstream. Bertandang ke tempat-tempat yang jarang terjamah oleh manusia.

Ujung Kulon merupakan sebuah daerah di Provinsi Banten yang memiliki akses cukup sulit untuk mencapainya. Selain berupa gugusan pulau-pulau kecil, daerah ini juga memiliki akses jalan yang belum bersahabat. Jalannya masih berupa tanah kuning dan bergelombang. Bagi yang hobi bertualang tentu saja hal ini menjadi tantangan dan keasikan tersendiri.

Perjalanan dari Jakarta ke Ujung Kulon menghabiskan waktu sekitar 7 jam. Disarankan untuk berangkat pada malam hari agar tiba di tujuan hari sudah mulai benderang. Perjalanan dari Jakarta ke Banten sejatinya tidak begitu bermasalah. Jalanan masih berupa aspal mulus.

Hanya saja ketika memasuki kawasan pedesaan di pesisir pantai jalanan sudah berganti berupa tanah kuning dengan tekstur keras dan bergelombang. Meski begitu, kehadiran panorama alam berupa lautan cantik berwarna biru kehijauan di sisi kanan seketika melupakan dengan kondisi jalan yang kurang bersahabat. Panorama indah tersebut terlihat sesekali, mengikuti jalan yang dilewati.

Mobil yang kami tumpangi tiba di rumah Pak Komar. Rumah Pak Komar yang terletak di Desa Tamanjaya ini merupakan pemberhentian terakhir sebelum menyeberang ke pulau-pulau kecil di depan sana. Bagi yang sering berwisata ke Ujung Kulon, maka nama Pak Komar sudah tidak asing lagi. Beliau merupakan orang yang dipercaya untuk melayani wisatawan yang akan berwisata ke Ujung Kulon. Bahkan peralatan snorkeling pun bisa disewa dengan beliau.

Pesona Pulau Peucang

boat-pantai-peucang

Keheningan ombak di pesisir Pulau Peucang

Ujung Kulon menyimpan pesona pulau-pulau yang memesona. Salah satu pulau yang membuat saya jatuh hati adalah Pulau Peucang. Tidak hanya cantik, tetapi jarangnya terjamah wisawatan membuat berada di pulau ini serasa di pulau pribadi. Pulau ini tidak berpenghuni. Tetapi tidak perlu khawatir, di dalamnya terdapat penjaga yang selalu stand by. Terlebih lagi jika akan didatangi wisatawan.

Perjalanan dari rumah Pak Komar menuju pulau ini memakan waktu sekitar dua jam dengan menggunakan kapal kayu bertenaga mesin. Dari kejauhan, Pulau Peucang sudah terlihat menggoda. Rona permukaan lautnya yang jernih dan tenang sungguh memukau. Rasanya tak sabar agar kapal kayu yang kami tumpangi ini bisa melesat secepat speed boat.

selamat-datang-pulau-pulau-peucang

26828_1287443218662_4855657_n

Yang paling depan semangat sekali. Ups!

26828_1287452418892_7565682_n

Rileksasi di Pulau Peucang yang tak berpenghuni

26828_1287459819077_6512832_n.jpg

Gaya batu

Mata saya seakan tak berkedip memandang laut nan jernih di tepi pantai. Ya, kapal kami sudah merapat kandas di pasir putih pulau ini. Pasirnya tidak sekadar putih, tetapi juga lembut seperti tepung. Rasanya tidak berlebihan jika saya membandingkannya dengan tepung karena memang demikian adanya. Try it!

Saat kapal merapat ke pantai, gerombolan ikan-ikan kecil seketika berdatangan. Kedatangan saya dan teman-teman seolah disambut oleh fauna yang berhabitat disini. Sepertinya ikan-ikan tersebut kegeeran akan diberikan makanan. Tetapi kami tidak mempunyai stok makanan yang bisa dinikmati oleh ikan-ikan itu. Hanya bisa menyapa, turun menjejakkan kaki di pasir pantai. Tetapi ikan-ikan tersebut berlarian secepat kilat. Seakan terancam dengan kehadiran kami. Mungkin takut ditangkap lalu digoreng. Haha.

Air yang bening mengundang hasrat kami untuk menyeburkan diri ke laut. Pantai yang luas dan sepi kami manfaatkan untuk bermain sepuasnya. Damai rasanya ketika tahu ternyata hanya ada kami saja di pulau ini. Sesekali terlihat monyet-monyet penghuni pulau keluar mengambil sesuatu di pantai. Pastikan barang bawaan anda aman dari kejahilan hewan primata tersebut.

Di pulau ini terdapat ucapan selamat datang yang bertuliskan Pulau Peucang. Objek ini seakan wajib dijadikan latar untuk berfoto, sebagai bukti bahwa sudah pernah menjejakkan kaki di pulau nan eksotis ini. Tentu saja spot-spot pantai dan laut yang indah di pulau ini tidak lepas dari sasaran kamera kami. Jepret!

Mentari terlihat akan kembali ke peraduan. Hari semakin sore. Kami bersiap untuk kembali pulang. Bagi yang memiliki waktu panjang dan gemar berkemah, kawasan Ujung Kulon sangat memungkinkan untuk diinapi. Namun untuk bermalam di tenda harus berpindah ke pulau seberang bernama Cibom. Banyak petualang yang sudah bermalam di sini. Nantinya akan dipandu oleh seorang pemandu warga setempat selama di Pulau Cibom yang juga tidak berpenghuni.

Bagi yang penasaran ingin melihat keindahan Pulau Peucang namun tidak ingin ribet mengurus ini itu, bisa menggunakan jasa tur yang sudah berpengalaman seperti govakansi.com. Jasa tur ini jangkauan paket wisatanya membentang dari Sabang sampai Merauke. Menembus hingga pelosok pulau-pulau di nusantara, seperti Pulau Peucang yang kami datangi ini. Jadi, tinggal pilih saja tempat-tempat eksotis yang hendak dituju.

 
Leave a comment

Posted by on January 19, 2017 in Uncategorized

 

The Settlement Hotel, Penginapan Nyaman di Malaka

Jalan-jalan ke negeri jiran, Malaysia, dengan fasilitas nan elegan tentu menjadi dambaan setiap orang. Kota Malaka menjadi tujuan perjalananku kali ini. Bersama MyMOTAC dan Gaya Travel Magazine aku menginap di sebuah hotel menawan nan mewah bernama The Settlement.

Dengan menggunakan konsep boutique hotel, setiap sudut hotel ini terlihat sedap dipandang. Bergaya artistik dengan sentuhan klasik. Sekilas terlihat dari luar hotel ini tampak berbentuk kotak. Tetapi saat pertama kali melangkahkan kaki masuk melintasi gerbangnya maka mata anda akan sibuk melihat-lihat hingga detail ornamen-ornamen yang menghiasinya.

Sebuah ayunan berbentuk tempurung menggantung di pekarangan depan pintu kaca hotel. Warna putih yang menutupinya menambah kesan elegan. Kursi gantung tersebut hanya berjumlah satu sehingga menghadirkan suasana yang tenang.

Dari tempat kursi gantung itu hanya selangkah menembus pintu masuk resepsionis. Dua orang resepsionis menyambut dengan ramah. Meja resepsionis seperti meja perkantoran sehingga pengunjung bisa duduk di kursi di depannya. Setelah melakukan check in, resepsionis menawarkan menu yang akan disantap untuk besok pagi. Tersedia makanan khas, chinesse food, hingga western food.

Sebenarnya saat memasuki gerbang masuk hotel ini, di sisi samping ruang resepsionis ada jalan koridor sepanjang 50 meter. Tampak beberapa sepeda yang bisa disewa oleh penginap dengan tarif 15 ringgit per jam. Di sisi kanan merupakan pekarangan minimalis yang ditumbuhi rumput hijau.

Masih di area koridor, jalan sedikit lagi akan tampak ruang makan dengan konsep elegan di sisi kiri. Ruangan ini tidak dibatasi tembok dengan koridor. Bersebelahan dengan ruang resepsionis di depannya yang dibatasi dengan tembok kaca dengan sebuah pintu penghubung. Selain itu, ruangan ini juga berfungsi sebagai pusat untuk menuju ke semua tempat. Termasuk menuju ke lantai dua melalui sebuah tangga di sampingnya.

Kembali ke koridor. Tepat di sebelah ruang makan tadi terdapat area barista atau konter minuman. Sementara di sisi kanan terdapat meja persegi panjang dan bangku berwarna putih. Meja ini digunakan untuk meletakkan lauk pauk. Sebagiannya bisa dimanfaatkan untuk tempat makan. Di sebelah konter barista terdapat mini ballroom atau ruangan pertemuan yang berukuran mungil dengan luas 15 x 15 meter.

Tepat di ujung koridor lalu berbelok selangkah ke kiri terdapat lift yang membawa ke kamar-kamar hotel hingga rooftop. Aku menempati kamar di lantai tiga. Sebagaimana hotel berbintang lainnya, koridor di antara kamar-kamar hotel ini terkesan sepi dan tenang. Alasnya berupa karpet tebal nan empuk.

Nuansa Elegan

Kamar-kamar di The Settlement Hotel didesain elegan. Saya menempati kamar double bed. Penataan cahaya tampak serasi dengan isi ruangan. Di depannya terdapat lemari permanen yang terdapat gantungan baju dan peralatan setrika pakaian. Di sisi lemari merupakan tempat perlengkapan minuman yang dilengkapi dengan pemanas air.

Kamar mandi berada di sudut dengan luas 1,5 x 3 meter. Terdapat bathroom yang berbentuk hampir membulat sempurna. Dilengkapi dengan shower di atasnya beserta persediaan air panas. Di dekat pintu masuk terdapat sebuah tangga terbuat dari bambu yang berfungsi sebagai tempat menggantung handuk atau pakaian. Wastafel yang dilengkapi cermin. Peralatan mandi berupa sabun dan sampo tersedia dalam botol mini.

 
Leave a comment

Posted by on December 23, 2016 in Uncategorized

 

Perpaduan Rasa Kampung Berbalut Modernisasi di Malaka

img20161103131041

In Case You didn’t know Melaka. Banyak tempat-tempat menarik di Malaka yang belum banyak diketahui. Selama ini wisatawan hanya mengenal Gereja Merah, Jonker Sreet, dan Taming Sari. Tapi tahukah Anda di kota yang pernah dijejaki Portugis ini ternyata menyimpan banyak pilihan destinasi menarik.

Malaysia sedang gencar merancang konsep penginapan ala rumah penduduk kampung atau homestay. Wisatawan akan diajak untuk merasakan sensasi tinggal di kawasan perkampungan dan menginap di salah satu rumah penduduk setempat. Jika selama ini menginap itu identik dengan hotel, namun kali ini wisatawan akan bisa merasakan kehidupan sesungguhnya masyarakat kampung.

img20161103132619img20161103134303

Salah satu daerah yang memiliki homestay di Malaka adalah Kampung Alai. Kampung ini memiliki 13 homestay. Rumah-rumah penduduk yang dijadikan homestay akan dilabeli dengan tanda seukuran postcard yang ditempel di depan rumah. Tarif menginap per malam di homestay ini rata-rata adalah 300 ringgit.

Saat berkunjung ke Kampung Alai kami disuguhi berbagai kegiatan seru. Mulai dari sajian grup musik khas melayu, makan ala orang kampung, hingga melihat demo cara membuat kue Melaka dan Inang-inang. Tak ketinggalan minuman khas setempat. Di Malaysia sajian teh akan selalu identik dengan campuran susu atau teh tarik.

Menyusuri Sungai Malaka

Sungguh menyenangkan bisa turut terlibat dalam kegiatan sehari-hari warga kampung di Melaka. Selanjutnya kami menuju ke kota untuk menyusuri sungai Malaka. Kota Malaka memiliki sungai-sungai kecil di pusat kota. Wajar saja jika portugis tertarik untuk menuju ke kota ini karena lokasinya yang strategis memiliki jalur untuk pelayaran kapal-kapal mereka.

img20161103181448

Bus yang membawa kami tiba di pelabuhan sungai Malaka. Tampak beberapa kapal wisata yang siap membawa wisatawan. Tulisan Malaka River Cruise terpampang di seberang sungai. Kapal yang berkapasitas 50 penumpang ini siap membawa kami menikmati indahnya kota Malaka.

Wow. Satu kata itu terucap dari mulut saya selama menyusuri Sungai Malaka. Berbagai penampakan menarik terlihat dari sungai ini. Mulai dari bangunan-bangunan tua yang tetap terjaga, cafe-cafe dengan desain kreatif, hotel-hotel berbintang dan unik, taman-taman yang dipajang tanaman hias, hingga tembok-tembok rumah yang dilukis karikatur yang menggambarkan sejarah kota Malaka.

Hal menarik lainnya saat menyusuri sungai Malaka ini adalah terdapat banyak jembatan-jembatan yang melintasi sungai dengan ragam desain menarik. Tiap jembatan tertera nama-nama kampung atau lokasi keberadaan jembatan tersebut seperti jembatan Kampung Jawa.

img20161103182358

img20161103183907

Puas rasanya menyusuri sungai Malaka dengan rute sejauh 3 kilometer. Saat tiba di titik pemberhentian terakhir senja mulai merona. Mentari hampir terbenam. Momen indahnya suasana senja menjadi sasaran para fotografer.

Senja menghilang. Malam pun menjelang. Dari tempat pemberhentian kapal tadi kami berjalan kaki menuju Restoran Nyonya Suan untuk makan malam. Jaraknya cukup dekat. Di kawasan Dataran Pahlawan depan menara taming sari. Olahan menu seafood yang tersaji di restoran romantis ini sungguh menggugah selera.

Setelah makan malam kami kembali menuju Hotel The Settlement. Agenda malam ini adalah berkumpul sambil karaoke di sky bar, puncak gedung hotel elegan ini. Cuaca sangat bersahabat malam ini. Kafe tak beratap di atas gedung sangat nyaman sebagai tempat berkumpul. Sajian makanan dan minuman ringan turut menemani kehangatan silaturahmi di hari pertama ini.

 
Leave a comment

Posted by on November 11, 2016 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , ,

Elegan dan Nyaman di Hotel Radisson Batam

img20161022141753

Radisson Golf and Convention Center Batam

1,4 publish.jpg

Hotel Radisson Batam dengan lapangan golf yang luas

Hotel Radisson mulai merambah Indonesia. Batam dan Medan menjadi pilihan hotel yang berpusat di Amerika itu. Ya, baru dua kota itu yang menjadi fokus hotel berbintang 5 ini. Namun Batam menjadi fokus pembangunan di wilayah Indonesia karena merupakan bangunan baru dan dilengkapi dengan lapangan golf. Sementara di Medan bangunannya merupakan alih fungsi dari hotel sebelumnya.

Kali ini saya dan empat orang dari Blogger Kepri diajak menelusuri semua sudut Hotel Radisson Batam. Mulai dari melongok kamar-kamar dengan berbagai tipe, kolam renang dengan view padang golf nan hijau, ruang fitnes yang lega, hingga merasakan wahana-wahananya yang canggih dan menyenangkan.

img20161022145028

deluxe-sweet

Kamar tipe Deluxe Sweet

birdy

Salah satu tipe ruang pertemuan

Hotel Radisson Batam mulai beroperasi pada 23 September 2016. Berlokasi di kawasan elite Sukajadi. Berdekatan dengan salah satu mal besar, Kepri Mall.

Hotel ini menggunakan konsep back to nature. Lantai pada ruang lobi dilapisi bahan kayu berkualitas tinggi yang dipermak elegan dan ragam sofa empuk nan cantik yang bisa diduduki. Diluarnya tampak pemandangan kolam renang plus padang golf yang disekat oleh kaca transparan.

Tarif menginap per malam di hotel ini jika berdua (couple) adalah Rp. 2.750.000. Namun jika menginap sendiri dipatok sebesar Rp. 2.300.000 per malam.

Saat tiba waktu makan siang kami dibawa oleh Mba Iriana menuju restoran cantik, elegan, dan luas bernama Bite. Menu makanan tersaji komplit. Mulai dari cemilan ringan hingga makanan berat. Ada pilihan menu lokal, chinesse food hingga western. Begitu juga dengan minuman. Tersedia banyak pilihan.

Usai makan siang kami diajak untuk mencoba wahana-wahana yang ada di Hotel Radisson Batam yaitu segway, skateboard electric, dan scooter electric. Halaman depan hotel yang dikonsep mirip jalan raya dengan dihiasi taman dan pepohonan cantik sangat asik untuk dijajal bermain wahana tersebut. Panjang lintasan jalan ini sekitar 500 meter.

img20161022140102

Puas bermain wahana kekinian itu kami diajak untuk mencoba alat panah di lapangan memanah. Gampang-gampang susah. Saat saya mencobanya sesekali anak panah menancap di papan sasaran yang berbentuk lingkaran. Namun tak jarang juga anak panah yang dilepaskan dari busur meleset.

Ternyata kami masih akan dipersilakan untuk mencoba hal menarik lainnya di hotel ini. Sebuah aktifitas olahraga bergengsi yaitu golf. Mengingat kami semua masih amatir dengan olahraga yang identik dengan kaum borjuis ini maka percobaan pertama harus dilakukan di area khusus pemula. Seorang instruktur golf mengajarkan kepada kami teknik-teknik bermain golf. Ternyata olahraga ini tidak segampang yang kita lihat.

Hari beranjak sore. Rasanya enggan untuk meninggalkan hotel mewah nan ramah ini. Pengalaman menyusuri sudut-sudut Hotel Radisson Batam sungguh berkesan.

Radisson Golf and Convention Center Batam
Jln Jendral Sudirman Batam 29432 Indonesia.

Phone +62 778 4800 888

Fax: +62 778 4084 180 

reservation.batam@radisson.com

Radisson.com/batamid

 
1 Comment

Posted by on November 11, 2016 in Hotel

 

Tags: , , , , , ,