RSS

Jelajah Ujung Kulon

29 Apr

Ujung Kulon

Ujung Kulon. Pertama kali mendengar nama ini ketika duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) saat jam pelajaran IPS. Pada saat itu yang terlintas dipikiran mengenai nama ini tidak lebih dari sebuah nama daerah yang memiliki spesies langka berupa Badak Bercula Satu. Sejak setelah pelajaran IPS itu hingga saat sebelum menginjakkan kaki di Ujung Kulon, anggapan mengenai daerah terbarat Pulau Jawa itu tetap sama, tidak lebih dari keterkenalannya akan kepemilikan spesies langka badak bercula itu.

Pertengahan April 2010 menjadi momen yang tak terlupakan dalam catatan harian perjalanan perjalanan hidup ini. Bersama empat belas sahabat backpacker menyatukan visi mengatur rencana mewujudkan mimpi untuk menaklukkan Ujung Kulon. Pasar Festival, Kuningan menjadi titik start pertemuan sebelum memulai perjalanan. Tepat pukul setengah sebelas malam, Elf (sejenis kendaraan travel) yang menjadi angkutan selama perjalanan menancapkan gas meninggalkan Pasar Festival. Perkiraan perjalanan untuk tiba di Ujung Kulon akan memakan waktu sekitar 5 Jam. Tetapi waktu yang diperkirakan tersebut meleset. Ditengah perjalanan, saat Elf yang ditumpangi melintasi Pandeglang, kendaraan ini berulah. Ban bocor! Elf trhenti seketika. Pak Hari, Sopir Elf, turun melihat kondisi ban. Setelah dicek ternyata kebocoran terdapat pada ban kiri belakang. Eits. Tidak hanya ban kiri saja, ternyata ban kanan juga mengalami hal yang serupa. Gubrak.

Jarum jam menunjukkan waktu telah subuh. Sang fajar masih enggan menampakkan dirinya. Gelap. Tidak ada cahaya lampu jalanan sebagaimana di kota. Dikiri dan kanan jalan terhampar deretan pepohonan yang (sepertinya) menyerupai hutan. Asumsi ini muncul disebabkan gelap yang melanda sehingga sulit untuk memprediksikan keadaan sekitar dengan pasti.
Tak jauh dari tempat kejadian ban bocor, tampak cahaya kekuningan yang tak lain adalah lampu neon salah satu rumah penduduk. Mencoba mendatangi rumah tersebut. Berharap sang empunya rumah berkenan mengizinkan untuk menunaikan sholat subuh dirumahnya. Syukurlah, disambut dengan baik.

Perlahan keadaan semakin terang. Namun ban Elf yang bocor masih belum menemukan titik terang. Tidak lama kemudian ada salah seorang warga yang melintas dengan sepeda motor turut membantu. Ban dibawa ke bengkel. Sambil menunggu kondisi ban pulih kembali, waktu yang ada dihabiskan dengan sarapan seadanya, ngobrol sesukanya dan bermain UNO sepuasnya. (do you know UNO?).

Tak lama berselang, kedua ban Elf yang bocor pun pulih kembali. Perjalanan dilanjutkan. Sinar mentari pagi yang menyengat sehat menemani perjalanan pagi ini. Keramahan kota yang masih perawan yang dilalui sepanjang perjalanan menuju Ujung Kulon mampu melepas penat setelah lelah disuguhi kesemrawutan ibukota. Aroma pagi seperti ini mendatangkan rasa rindu akan rumah nenek di bagian barat sumatra sana, tepatnya Bukit Tinggi, yang biasa dikunjungi pada saat momen Idul Fitri.

Matahari semakin beranjak naik. Siang semakin benderang. Panas semakin menyengat. Elf sepertinya sebentar lagi akan memasuki Pulau Umang. Samar-samar dari kejauhan terlihat penampakan yang diprediksikan bahwa itu adalah hamparan laut. Yap, ternyata benar. Sejumlah kapal nelayan tampak berjejer memenuhi laut Pulau Umang. Daerah ini mengingatkan akan desa sawang, yang terdapat disalah satu sudut Pulau Kundur, di Kepulauan Riau.

Perjalanan dari Pulau Umang menuju Ujung Kulon ternyata cukup menantang. Kondisi fisik jalan tak beraspal bertanah merah dan penuh lubang yang harus dilewati ternyata jauh lebih ‘mengombak’ dibandingkan dengan perjalanan menggunakan kapal kelak. Perjalanan menuju Ujung Kulon terpaksa harus dihabiskan lebih lama dari perjalanan biasa mengingat kondisi jalan yang tak bersahabat. Ditambah panas siang yang semakin menyengat. Semua tubuh yang ada di Elf sukses digoyang jalanan tak bersahabat bak terkena goncangan gempa. Rasa tak sabar berharap Elf ini dapat segera mendarat di Rumah Pak Komar, tempat pemberhentian terakhir perjalanan ini. Agar tak tersesat, setiap penduduk yang dilintasi selalu ditanyai tentang keberadaan rumah Pak Komar, yang selalu jadi bahan candaan selama di Elf. Uniknya setiap penduduk yang ditanyai selalu memberikan jawaban yang sama, “Rumah pak komar taman jaya 2 kilo lagi!”. Padahal jarak antar orang-orang yang ditanyai tersebut cukup jauh satu dengan yang lainnya. Mendengar jawaban seperti itu, hanya bisa tersenyum dan kemudian tertawa terbahak setelah menjauh dari penduduk yang ditanyai tersebut tentunya.

Perjalanan menuju rumah Pak Komar seperti tak berujung. Tak terlihat tanda-tanda buntu di depan sana. Gerah, capek, lapar, dan mabok digoncang jalanan penuh lobang berbaur menjadi satu. Tetapi untungnya ditengah perjalanan disuguhi panorama pantai yang mengagumkan dikanan jalan yang membuat lupa akan ‘penyiksaan’ yang dialami selama perjalanan. Rasa segar hadir seketika. Alhamdulillah.

Perjalanan menuju rumah Pak Komar terasa lebih ‘ringan’ dibanding sebelum melewati pantai nan indah ini. Jalan berlubang penuh penyiksaan seakan tertutupi dengan panorama indah yang ada di seberang. Tak lama kemudian Elf berhasil menjejakkan rodanya di garis finish. Tiba dirumah Pak Komar. Lega. Mungkin jika Elf ini bisa ngomong, dia akan berkata “GILE NYIKSA AMAT PERJALANAN KE RUMAH KOMAR”.

Ritual pertama yang dilakukan begitu tiba di rumah Pak Komar, tak lain tak bukan, adalah MAKAN! Wajah-wajah kelaparan tampak jujur dari raut muka para backpacker yang melahap nasi berbalut daun pisang buatan pak komar (mirip nasi kucing ala angkringan jogja). Setelah kenyang melahap ‘nasi kucing’, bergegas mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan menuju Pulau Cibom. Kapal yang akan menemani perjalanan selama 3 hari telah siap merapat di dermaga. Sebelum turun ke kapal tak lupa untuk mengabadikan (kata halus dari narsis) poto di dermaga taman jaya ini. Kapal lepas landas menuju Pulau Cibom.

Perjalanan dari Taman Jaya menuju Pulau Cibom diperkirakan menghabiskan waktu sekitar 3 jam. Ombak laut yang menyentuh kapal terasa lebih ringan dibanding ‘ombak’ jalanan tak bersahabat yang menggoncangkan Elf tadi. Apalagi disuguhi dengan lukisan alam berupa deretan pulau-pulau dan lautan biru kehijauan membuat perjalanan semakin menyenangkan.

Sebelum kapal mendarat di Pulau Cibom, terlebih dahulu melakukan snorkeling untuk menikmati alam bawah laut melihat aneka jenis ikan penuh warna dan arsitektur karang bawah laut. Indahnya. Apalagi ini pengalaman pertama snorkeling penulis yang biasanya hanya bisa dinikmati melalui layar televisi.

Matahari semakin beranjak ke barat membawa sinarnya. Pencahayaan semakin temaram. Sebelum menuju pulau cibom terlebih dahulu mampir ke Pulau Peucang untuk melakukan perizinan pada petugas setempat. Wow, Pulau Peucang keren! Airnya bening hingga terlihat dasar lautan dengan jelas. Ribuan ikan tampak kompak seakan melengkapi harmonisasi alam. Kesempatan ini dimanfaatkan untuk cibang-cibung sesaat dipantainya yang tak berombak.

Setelah mendapatkan izin dari petugas, perjalanan menuju Pulau Cibom dilanjutkan. Matahari yang belum terbenam sempurna seolah mengisyaratkan kepada mereka yang memegang kamera untuk mengabadikan momen bersama dirinya. Para Fotograper pun berebut sunset selama perjalanan menuju Pulau Cibom yang memakan waktu setengah jam perjalanan.

Welcome to Cibom Island. Waktu menunjukkan maghrib ketika kaki menjejakkan kaki di pulau ini. Ibarat keluarga yang melakukan pindahan rumah, semua pun berkemas mempersiapkan segala sesuatunya yang akan menemani kehidupan selama 2 malam di pulau ini. Mulai dari mendirikan tenda, mencari kayu bakar, sampai membersihkan tubuh-tubuh kotor ini di aliran muara yang ber-air jernih tak jauh dari tempat peristirahatan.

Tenda telah berdiri kokoh. Masing-masing telah mendapatkan jatah tenda. Tubuh telah dibersihkan. Sholat telah ditunaikan (sensasinya beda sholat di alam terbuka seperti ini 🙂 ). Selanjutnya melakukan ritual malam sebelum fun games dilaksanakan. Makan!

Setelah jatah perut terpenuhi, selanjutnya menghidupkan malam dengan melakukan berbagai fun games. Cuaca malam ini sungguh bersahabat. Ribuan bintang seolah ikut terhibur menyaksikan keceriaan di Tanah Cibom. Sorak sorai yang terlepas dari mulut mampu memecahkan kesunyian malam di pulau tak berpenghuni ini. Mulai dari games ngebut-ngebutan bak pengendara motor yang dimainkan hanya menggunakan suara “brem” (menginjak gas) dan “teeet” (menginjak rem) yang membentuk formasi lingkaran, sampai permainan segitiga mematikan antara Samson, gadis cantik, dan macan. Setelah puas berteriak nge-game seru-seruan, selanjutnya merebahkan tubuh diatas tanah yang telah beralas menghadap langit beribu bintang membentuk formasi lingkaran yg menyatukan semua kepala pada satu titik menyerupai bunga matahari. Sesaat suasana hening seketika. Kemudian perlahan muncul celetukan lelucuan. Mulai dari tebak-tebakan hingga candaan jayus garing tak berasa (hihi). Ditengah candaan suka-suka itu tiba-tiba cahaya putih kecil diatas langit sana melintas dengan cepat. Hey, ada bintang jatuh!

Malam semakin larut. Ribuan bintang masih setia menemani malam ini. Ricuh riuh sorak tawa muncul kembali saat salah seorang teman yang tak dinyana, tak disangka, dan tak diduga menunjukkan bakat terpendamnya. Tabitha Melenong! Saat itu juga rasa kantuk yang hampir melelapkan sirna seketika. Semua terhibur. (Entah untuk yang menjadi korban lenongannya, terhibur apa tidak. *lirik dua orang yang jadi korban* :P). Tabitha sukses mengocok perut. Setelah puas terhibur dengan lenongan gratis, semua beranjak melanjutkan istirahat memberikan hak pada tubuh untuk dipersiapkan pada petualangan esok hari. Malam kembali sunyi. Hanya terdengar nyanyian jangkrik. Krik.. krik.. krik… (To Be Continued… “Jelajah Ujung Kulon II”).

Advertisements
 
5 Comments

Posted by on April 29, 2010 in Backpacker

 

5 responses to “Jelajah Ujung Kulon

  1. amri

    May 6, 2010 at 7:53 am

    nice telling story..
    ditunggu lanjutannya

     
  2. tibata

    May 7, 2010 at 6:04 am

    bsok2 gw minta dibayar.
    hareee gene gretongannnn??????

    nice blog Fad,,gw kirain lu tidur doankkkkk.
    hehehhehehhe

     
  3. miphta

    May 12, 2010 at 1:58 pm

    seems that it’s a very wonderfuL journey.
    wish i can have it one someday 🙂

     
  4. azkeea

    May 12, 2010 at 4:18 pm

    pantas uda pantai berbahasa, bahasa mu cakap….orang minang rupanya ya…..

     
  5. Nisfa Syahrul

    May 28, 2014 at 1:23 am

    Ci Bom bukan pulau yo, itu masih bagian dari pulau Jawa. 🙂

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: