RSS

Eksotisme Cidaun dan Romantisme Peucang (Jelajah Ujung Kulon 3, Habis)

22 Sep

Pulau Cidaun

Sensai Cibom yang mengundang rasa kagum telah dijelajahi. Bersiap untuk mengunjungi objek selanjutnya di pulau seberang. Setelah puas beristirahat melepas lelah, menunaikan sholat, dan energi kembali pulih, petualangan pun dilanjutkan kembali. Satu per satu teman menyeberang menuju ke kapal kayu yang terletak sekitar 30 meter dari bibir pantai dengan menggunakan bantuan perahu karet. Kapasitas perahu karet yang hanya bisa memuat 5 orang ini menyebabkan perahu ini harus mondar-mandir sebanyak 3 kali perjalanan. Setelah semua terangkut kapal pun diberangkatkan menuju objek selanjutnya, Pulau Cidaun.

Perjalanan dari Pulau Cibom menuju Pulau Cidaun menghabiskan waktu sekitar 15 menit. Deretan pepohonan bakau mulai kelihatan dari kejauhan. Perlahan kapal mendekati dermaga dan merapat di pinggirnya. Semua petualang turun dari kapal dan langsung beranjak menuju ke tempat penangkaran Banteng yang berjarak sekitar 1 km. Bentuk tanah yang dilalui berlumpur dan bergelombang. Beruntung sebagian lumpur ada yang telah mengering sehingga tidak meninggalkan bekas di alas kaki saat diinjak.

penangkaran banteng cidaun

Akhirnya tiba di kawasan Penangkaran Banteng. Penangkaran ini tidak berpagar sebagaimana di kebun binatang sehingga sedikit menimbulkan rasa takut. Sebuah pos mirip mercusuar berlantai 3 yang terbuat dari kayu menjadi tempat untuk melihat sekelompok banteng dari kejauhan. Tetapi hanya sesaat saja. Tak lama kemudian semua pun turun dari pos dan memberanikan diri untuk melihat sekawanan banteng lebih dekat lagi. Tampak sekawanan Banteng sedang menikmati makan sorenya di depan sana. Mirip panorama alam di taman nasional afrika. Keren sekali. salah seorang teman nekat melangkahkan kakinya lebih dekat lagi kearah banteng-banteng itu dan bersembunyi dibalik sebuah pohon demi memuaskan hasrat potografinya. Ckck.

Hari semakin sore. Semua bersiap kembali pulang menyudahi kunjungan di

dermaga cidaun

Penangkaran banteng ini dan berjalan menuju dermaga. Pesona jingga langit sore yang tampak indah dari dermaga mengundang hasrat para potografer untuk mengabadikannya. Momen seperti ini digunakan oleh Para Pemotret untuk bermain dengan modus siluete.

Perlahan matahari semakin menjauh. Pesona jingganya kian memudar. Kapal yang sedari tadi telah menanti dipinggir dermaga telah bersiap membawa

Sunset

para petualang ini kembali ke Pulau Cibom. Tepat waktu maghrib kapal tiba di Pulau Cibom. Seperti biasa satu per satu teman diangkut menggunakan perahu karet untuk menyeberang hingga ke bibir pantai. Namun salah seorang teman enggan menaiki perahu karet dan memberanikan diri menyeberang hingga ke bibir pantai dengan menyeburkan dirinya ke laut alias berenang! Padahal langit semakin menggelap. Nekat sekali (anak pantai sih :P).

Setelah selesai mandi dan menunaikan sholat Maghrib yang dijama’ dengan Isya’, semua berkumpul di halaman tengah tenda. Api unggun dinyalakan.

Sholat

Permainan pun dimulai. Kali ini bermain Pesan Berantai, yaitu sebuah permainan yang dimainkan dengan menyampaikan sebuah informasi dari satu teman ke teman lainnya dengan cara berbisik agar tak terdengar teman disebelahnya. Dan hukuman bagi tim yang kalah adalah menyanyikan sebuah lagu sambil memeragakannya (Penulis termasuk tim yang kalah 😐 ).
Tak lama kemudian makan malam pun datang. Dengan pencahayaan senter seadanya para petualang yang tampaknya sangat kelaparan ini menyantap

Permainan

hidangan dengan lahapnya. Setelah selesai meredam rasa lapar kemudian semua beranjak menuju halaman belakang tenda yang gelap untuk bermain Slow Speed. Yaitu sebuah permainan kreasi dengan menggunakan sebuah kamera. Sejumlah teman diarahkan untuk membentuk sebuah huruf yang dibentuk dengan menggunakan cahaya dari handphone atau senter dengan mengerak-gerakkan secara perlahan dan dishoot dengan sebuah kamera hingga menghasilkan gambar yang menyerupai sebuah kalimat. Kata yang ingin dibentuk adalah UJUNG KULON. Namun karena terdapat kesalahan teknis dalam penggambilan gambar, permainan kreasi slow speed ini pun tidak seperti yang diharapkan. Gagal.

Semua kembali lagi ke halaman tengah tenda dan berkumpul sambil bercengkerama ngalor ngidul gak jelas sepuasnya. Langit malam ini tampaknya kurang bersahabat. Bak rambut yang baru habis dibilas dengan sebuah shampoo anti ketombe, jumlah bintang diatas sana mendadak menurun drastis dibanding malam kemarin. Hanya beberapa saja yang terlihat. Malam kedua ini memang sedikit garing. Tak ada lenongan yang mampu mengocok perut seperti malam sebelumnya. Malam semakin sunyi. Tak ada obrolan ngalor ngidul lagi. Satu per satu teman memasuki tenda masing-masing. Saatnya untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah diajak berpetualang seharian penuh. Zzz.

Terdengar rintik hujan diluar sana. Langit masih tampak gelap. Hujan yang turun tidak begitu deras sehingga membuat tidur semakin terlelap. Namun semakin lama curah hujan yang turun semakin terdengar deras. Rasa was-was muncul. Khawatir kalau tenda yang ditempati kemasukan air. Dan kekhawatiran itu pun terjadi. Tenda yang ditempati bersama beberapa orang teman berhasil dimasuki air hujan sehingga menyebabkan tidur tak nyaman. Satu persatu teman keluar menuju pendopo yang terdapat tak jauh dari tenda. Untungnya langit sudah tampak sedikit bercahaya sehingga memudahkan untuk mengevakuasi diri sendiri dan teman-teman lainnya.

Perlahan hujan semakin mereda. Semua berkumpul dan berteduh di pendopo yang cukup luas dan menunaikan sholat subuh yang masih tersisa. Hujan berganti gerimis-gerimis kecil dan semakin menghilang tak bersisa. Pagi semakin cerah. Tenda-tenda mulai di re-pack. Semua sibuk berkemas untuk

Kapal Setia Peneman Perjalanan

pulang karena hari ini memang terakhir dari rangkaian petualangan selama 3 hari di Ujung Kulon. Sarapan pagi telah tersedia. Semua beranjak menuju hidangan sebelum meninggalkan Pulau Cibom ini.

Setelah selesai sarapan, semua beranjak menuju perahu karet untuk diangkut menuju kapal utama. Dan kapal pun siap diberangkatkan meninggalkan pulau yang menyimpan banyak kenangan itu. Bye Cibom.

Pulau Peucang

Sebelum kapal ini melabuhkan sauhnya di dermaga terakhir, terlebih dahulu menghampiri pulau yang sempat disinggahi 2 hari yang lalu, yaitu Pulau Peucang. Kehadiran yang hanya sesaat di pulau yang berpantai indah ini beberapa hari lalu membuat hasrat ingin mengunjunginya kembali untuk melampiaskan keinginan menyeburkan diri di pantainya yang bening dan tak berombak. Ribuan ikan yang tampak jelas didasar laut ngacir seketika begitu melihat para petualang ini menceburkan diri seenaknya di habitatnya. Ikan-ikan itu mungkin mengira orang-orang yang menceburkan diri ke pantai adalah bapak dan ibu nelayan yang ingin menjaring mereka 😀
Selain air lautnya yang jernih dan tak berombak, pantai ini juga memiliki pasir putih yang lembut seperti bedak yang jika dioleskan di tubuh tidak terasa perih. Satu lagi yang menjadi kelebihan pantai ini adalah suasana pantainya yang sepi pengunjung sehingga pantai yang memiliki kesan romantis ini serasa milik sendiri. Sangat baik bagi yang ingin mencari ketenangan dan menyegarkan pikiran.

Pantai Peucang

Tak terasa waktu terus berjalan dan mengharuskan untuk meninggalkan pantai yang indah ini. Semua kembali menuju kapal dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan pulang. Ternyata masih ada spot yang akan dikunjungi sebelum kapal ini benar-benar melabuhkan dirinya di dermaga akhir. Kapal pun berhenti di tengah laut. Ya ditengah laut, tidak merapat di dermaga. Karena tujuan kali ini adalah akan melakukan snorkeling. Yaiy! beberapa orang teman telah bersiap diri dengan peralatan snorkle dan life vest. Tampaknya sudah tak sabar ingin menceburkan diri ke laut. Yap, semua telah siap untuk menikmati pemandangan bawah laut dengan ragam bentuk terumbu karang dan aneka jenis ikan yang berwarna-warni. Byur!

Setelah puas bersnorkling, semua pun kembali menuju kapal. Satu per satu memanjat ke atas kapal dengan menginjak ban yang tergantung di pinggirnya. Setelah semua naik, kapal pun mulai melaju menuju dermaga Taman Jaya, tempat pemberhentian akhir kapal ini. Ombak laut terasa cukup tenang, jauh lebih tenang dibanding ‘ombak’ yang terdapat di jalanan bertanah merah Taman Jaya. Penampakan deretan pulau yang terdapat di kiri dan kanan kapal serta hamparan laut biru cukup membuat segar pandangan di siang yang terik ini.

Tiba-tiba salah seorang teman mencetuskan ide untuk mengisi kekosongan di kapal ini untuk bermain ABC 5 Dasar (namanya asing bagi Penulis tapi sering dimainkan semasa kecil :D). Yaitu sebuah permainan yang dimainkan dengan menyebut nama-nama hewan, buah, atau apa saja sesuai dengan huruf yang didapat dengan menjumlahkan jari yang di suit diantara semua pemain. (masa kecil kurang bahagia nih :P). Ternyata permainan ini mampu menghidupkan suasana. Bermain sambil berteriak sepuasnya ditengah laut hingga ikan-ikan yang lagi tidur siang pun pada bangun semua 😛

Tak terasa hamparan Dermaga Taman Jaya sudah terlihat dari kejauhan. Kapal terus melaju dan dermaga di depan sana semakin jelas terlihat. Kapal pun merapat di dermaga. Semua turun dan segera menuju rumah Pak Komar. Pak Harry, supir Elf, dengan setia menunggu kedatangan para petualang ini selama 3 hari.

Semua berkemas mempersiapkan diri untuk kembali ke Jakarta. Setelah selesai merepack tas, mandi, dan sholat kemudian semua berkumpul di depan untuk berpoto bersama Pak Komar sebelum naik ke dalam Elf.

Elf siap diberangkatkan. Pak Harry mulai menginjak gas dan meninggalkan rumah Pak Komar. Perjalanan pulang ini melalui jalur yang sama saat akan melakukan perjalanan pergi ke Taman Jaya ini. Melewati jalan yang penuh dengan ranjau-ranjau berlubang yang menyebabkan semua penumpang didalam ikut bergoyang dangdut. Namun perjalanan pulang ini sedikit lebih nyaman di banding saat pergi karena terik matahari yang menyengat mulai berkurang.

Hari semakin sore. Sebelum pulang, berencana untuk mencari warung Mie Ayam terlebih dahulu di daerah Taman Jaya ini. Semua melirik ke kanan-kiri sambil berharap mendapatkan warung yang dicari.Tepat saat waktu menunjukkan maghrib warung Mie Ayam yang dicari pun ketemu. Elf berhenti dan semua turun beranjak menuju warung yang dituju. Walau rasa Mie Ayam ini kurang cocok di lidah tapi tetap saja disantap dengan lahap. Sudah sangat lapar sekali sepertinya 😛

Setelah puas mengenyangkan perut dengan Mie Ayam Taman Jaya lalu bersiap kembali melanjutkan perjalanan menuju Jakarta. Suasana di dalam Elf sepi tak bersuara. Hanya terdengar raungan mesin dan lalu lalang kendaraan yang melintas. Tampaknya semua tertidur pulas setelah kekenyangan menyantap Mie Ayam. Elf terus melaju kencang Semakin jauh meninggalkan tanah Ujung Kulon. Tanah yang telah menyatukan keempat belas petualang ini dalam sebuah keluarga baru, Odong-odong Travelers. -THE END-

Thanks to: Lathiful AMRI, PUTRI Rizki, Hanindita GALUH, ANDI Lestomo, SANDI sumargo, DODI Mulyana, YAYUK Nursih, TABITHA Sasuwe, JOEDY Jeleeska, IKA Rangan, IKA Soewadji, SEPTIANI Dwi Astilla, dan ZAKIYAH Siti.

Info rincian biaya perjalanan lihat disini: www.lathifulamri.com

Advertisements
 
4 Comments

Posted by on September 22, 2010 in Backpacker

 

4 responses to “Eksotisme Cidaun dan Romantisme Peucang (Jelajah Ujung Kulon 3, Habis)

  1. tibata

    September 24, 2010 at 11:07 am

    keluarga baru, Odong-odong Travelers.

     
    • Pu'un

      September 24, 2010 at 1:58 pm

      Salam kenal ibu Tibata.. ajak2 donk kalau travelling

       
  2. Fadli Firmansyah

    November 2, 2010 at 1:18 am

    Wah, ternyata ujung kulon menakjubkan juga yah…..
    Sebagai warga banten. aku bangga memilikiMu… Ujung Kulon….. ^_^

     
  3. hasna

    October 13, 2011 at 10:37 am

    pemandangan yang GOOD bangetzz….

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: