RSS

5 Jam di Terminal Bis Larkin

19 May

Senja tampak semakin mencolok dengan pesona jingganya. Para pekerja mulai memadati jalanan hendak menuju pulang. Mulai dari riuhnya kendaraan yang memenuhi jalan hingga para pekerja yang berjalan melintasi trotoar berlalu-lalang yang berharap segera tiba di rumah.

Aku mulai berkemas memasuki semua perlengkapan ke dalam ransel. Menyerahkan kunci kamar kepada resepsionis kemudian bergegas menuju halte menanti angkutan umum tujuan terminal bis Larkin. Perjalanan ditempuh selama 10 menit. Setibanya di Larkin tampak deretan agen penjualan tiket. Aku mendatangi salah satu loket. Hendak membeli tiket keberangkatan bis jam 8 malam.

Namun setelah bertanya kepada petugas loket diketahui keberangkatan bis terakhir pukul 11 malam. Aku memilih jadwal keberangkatan terakhir saja agar tiba di Kuala Lumpur tidak perlu menunggu pagi terlalu lama. Tiket seharga 31 ringgit berhasil aku dapatkan.

Adzan Maghrib berkumandang. Terdengar jelas dari terminal ini yang berarti lokasi keberadaan Masjid berada tak jauh. Setelah bertanya, ternyata suara adzan barusan bergema dari Masjid di lantai 3 bangunan terminal Larkin ini. Aku bergegas menuju atas melalui eskalator.

Terdapat sebuah ruangan di pojok yang merupakan Masjid di terminal bis Larkin. Masjid dengan ruangan yang cukup luas terletak pada sayap kanan bangunan terminal ini.

Perutku sedikit memberontak. Memaksaku untuk mencari warung makan terdekat. Sebuah warung makan sederhana di dalam terminal menjadi pilihanku. Memesan nasi lemak berisi ikan teri goreng tak pedas dengan sambal terpisah. Hambar sekali tampaknya. Tapi perut harus segera diisi. Segelas the tarik menjadi teman makan malam ini. Total pembayaran 4,5 ringgit.

Suasana terminal bis Larkin, secara fisik, sedikit mirip terminal di kota-kota besar di Indonesia. Hanya saja penataannya lebih teratur. Kebersihan juga senantiasa terjaga. Ruas-ruas berbentuk miring yang memuat untuk dimasuki satu bis berjejer di sepanjang depan loket penjualan tiket. Ruas tersebut digunakan untuk dimasuki bis yang akan segera berangkat.

Pada salah satu ruas terletak pada paling ujung khusus ditempati bagi bis tujuan Singapura. Berbentuk seperti busway namun lebih pendek.

Di pojok bangunan terminal terlihat keriuhan sekelompok orang sedang menyaksikan layar LCD pada sebuah kafe. Ternyata ada siaran langsung pertandingan sepakbola antara Malaysia dan Indonesia. Aku turut di antara kerumunan orang-orang yang sedang menyaksikan pertandingan tersebut. Tidak berdesakan memang. Tapi sorakan suporter di sini terdengar cukup heboh.

Saat bola menembus masuk gawang Indonesia teriakan kegembiraan menggema seketika. Namun ketika yang terjadi sebaliknya, benda bundar itu membobol gawang Malaysia, suasana berganti hening. Rasanya aku ingin bersorak tapi sebaiknya bersikap kalem saja. Waktu dan tempat dirasa kurang tepat. Hanya mampu berteriak girang dalam hati sambil menyunggingkan sedikit senyum. Meski hasil pertandingan akhir membuat aku kecewa. Namun orang-orang disekitar tidak menampakkan ekspresi berlebihan saat mengetahui tim kesayangan mereka berhasil merebut kemenangan.

Hari semakin malam. Semakin mendekati jadwal keberangkatan. Aku menanti duduk di bangku di depan loket. Persis berada di depan pool kedatangan bis. Seorang wanita berhijab dengan baju kurung khas melayu berparas manis menghampiriku sambil berkata, “Itu bis awak, plat nambe wai kei yu…”. Aku sedikit bingung dengan apa yang dikatakan petugas loket tersebut. Bukan pada kalimat pertama yang aku pahami sebagai pemberitahuan bis yang akan aku naiki. Namun pada bagian, wai kei yu. Setelah agak lama mencoba mengingat-ingat baru aku sadari bahwa ia sedang mengeja abjad plat mobil dalam gaya bahasa Malaysia yaitu huruf W, K, dan U. Oalah.

Aku memasuki bis. Sungguh nyaman sekali di dalamnya. Terlihat ekslusif. Kursinya sangat empuk. Seperti sedang duduk di sofa saja. Pada bagian samping kursi tersebut terdapat tombol yang jika dipencet bisa menggerakkan bagian tempat bersandar. Pijat refleksi gratis ini. Wih. Aku mulai membanding-bandingkan dengan bis di negeri sendiri.

Kondektur bis terdengar mengatakan bahwa bis sebentar lagi akan berangkat. Aku duduk di bangku paling depan. Bersama seorang bapak tua di sampingku. Pria berumur sekitar 60 namun tetap fit itu kerap melontarkan pertanyaan kepadaku disusul dengan sedikit ceramah. Bahasanya terdengar sangat formal. Seperti sedang berada pada sebuah forum resmi. Seperti diatur sedemikian rupa. Aku hanya bisa menjawab semampunya sembari mendengar sedikit pidato. Ia merasa heran dengan perjalananku yang dilakukan seorang diri. Karena selama ini ia melihat turis dari Eropa melakukan perjalanan minimal berpasangan.

Bapak tua itu mulai menghentikan ceramahnya. Sepertinya ia mengerti bahwa aku sudah sangat lelah. Perlahan mataku mulai terpejam. Bis terus melaju membelah kota. Suara mesin bis terdengar mengalun lembut disebabkan bis yang kedap suara. Hening. Aku semakin terlelap.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 19, 2015 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: