RSS

Bersua Bedul di Hatyai, Thailand

19 May

Minivan membawaku meninggalkan Penang. Melintasi jembatan nan kokoh penghubung Penang dengan semenanjung Malaysia sepanjang 24 km. Untuk menembus batas negara menuju negeri gajah putih, Thailand. Menempuh perjalanan selama 4 jam.

Semakin jauh meninggalkan pusat kota negeri jiran ini pemandangan perlahan berganti dengan area perkebunan sawit. Tak jauh berbeda seperti perjalanan Jakarta ke pelabuhan Merak. Hanya saja terlihat lebih apik dan tertata. Hingga memasuki Kota Kedah disuguhkan oleh pesona kota modern yang tak terlalu ramai. Lepas dari Kedah penampakan kembali didominasi pepohonan hijau. Sesekali tampak bangunan perkantoran dan perumahan penduduk.

Setelah menembus batas negara dengan mampir sejenak di imigrasi Malaysia dan berlanjut pengecopan paspor di imigrasi Thailand, kemudian minivan kembali melaju membawaku hingga tiba di penginapan bernama Chatay Guesthouse. Ini adalah sebuah hostel sederhana yang menjadi favorit para backpacker. Selain murah, dengan tarif 200 baht per malam, segala fasilitas bagi wisatawan tersedia di sini. Seperti paket tur ke berbagai objek wisata, persewaan sepeda motor, dan pembelian tiket bis bisa dilakukan di sini.

Hatyai merupakan sebuah kota kecil di selatan Thailand. Terdapat banyak persimpangan jalan yang menggambarkan wajah kotanya. Angkutan umum dipenuhi dengan kendaraan mini yang pintu masuk penumpang berada di bagian belakang dikenal dengan nama Tuk-tuk.

Hostel tempatku menginap berlokasi sangat strategis. Berjarak 200 meter terdapat sebuah stasiun kereta api yang menghubungkan hingga ke kota Bangkok. Deretan agen bus perjalanan pun bisa ditemui dengan mudah. Warung makan halal tak sulit untuk ditemukan. Sebagaimana diketahui, kota ini masih berada tak jauh dari negara Malaysia. Sehingga pengaruh Muslim juga turut berperan di sini. Bahkan bank besar milik negeri ini bernama Islamic Bank berdiri gagah di salah satu sudut kota.

Hostel ini berada pada lantai tiga. Sementara lantai dasar digunakan sebagai agen perjalanan. Terdapat sebuah kafe mungil sederhana namun kreatif di depan meja resepsionis. Di hadapanku seorang pria bertubuh subur tampak sedang menyeruput the. Aku menduga pria yang usianya tak berbeda jauh denganku itu merupakan pelancong asal Malaysia. Ops, ternyata setelah mendengar ia berbicara dugaanku salah. Anak jakarte abis. Ah, senangnya bertemu saudara sekampung (baca: negara) di negeri orang.

Sama halnya denganku, pria yang lebih senang dipanggil dengan Bedul itu baru saja tiba di Hatyai. Dari perbincangan dengannya, diketahui kami memiliki kegemaran yang sama, bertualang dengan ugal-ugalan alias ngegembel. Aku menyampaikan rencana eksplorasi menjejaki tiap sudut persimpangan Hatyai dengan berjalan kaki. Ternyata ia merespon dengan semangat untuk mengikuti rencanaku tersebut.

Berjalan mengelilingi kota mungil penuh persimpangan ini dengan berjalan kaki memang menjadi pilihan menyenangkan, selain hemat tentunya. Si Bedul ternyata paling handal dalam mendapatkan akses internet gratis. Di beberapa sudut kota ini, khususnya di area fasilitas publik, terdapat layanan internet gratis oleh pemerintah setempat. Stasiun kereta api menjadi incaran kami untuk berselancar di dunia maya sembari menyempatkan update status terkini.

Menu paling nikmat di Hatyai adalah nasi goreng dan nasi kebuli. Rasanya seperti tak pernah menemukan di negeri sendiri. Nasi goreng di sini serupa nasi goreng kampung yang tanpa dicampuri dengan kecap. Tetap dengan warna aslinya bercampur sedikit minyak. Takaran garam dan beberapa bumbu penyedap dirasa sungguh pas sekali. Sehingga tercecap sangat nikmat di lidah hingga piring licin tak bersisa.

Sementara nasi kebuli serupa dengan nasi kuning yang dilengkapi dengan lauk ayam bakar berukuran jumbo. Menyantapnya bersamaan dengan ayam bakar sungguh terasa lezat. Saking nikmatnya hingga tak segan untuk menambah nasi sepiring lagi. Kedua panganan tersebut merupakan santapan khusus yang dijual oleh Muslim Thailand.

Meski bertubuh gempal, namun Si Bedul ternyata lebih berstamina daripada aku jika sedang berjalan kaki. Sesekali aku meminta kepadanya untuk beristirahat sejenak. Namun, ia tak pernah sekalipun mengutarakan keinginan untuk berehat kepadaku. Tetap dijajal seperti apapun medannya. Ah, gembul temanku.

Siang berganti malam. Cahaya lampu kota menerangi Hatyai di malam hari. Malam ini Aku dan Bedul akan meninggalkan Hatyai. Bergerak menuju kota selanjutnya yang berada tak jauh, Krabi. Kami menuju terminal bis untuk melanjutkan perjalanan. Suasana terminal dipenuhi oleh penumpang yang hendak berangkat ke berbagai kota di Thailand.

Bus berjalan perlahan meinggalkan Hatyai. Aku dan Bedul menempati salah satu bangku. Wajah penumpang sulit dibedakan. Entah warga asli Thailand, Malaysia, atau bisa saja dari Indonesia. Karena paras wajah ketiga negara tersebut memiliki kemiripan identik. Seorang petugas bis yang hendak memeriksa tiket bahkan mengajak kami bercakap-cakap dengan bahasa Thai. Sorry, we’re Indonesia, Si Bedul menjelaskan kepada petugas tersebut.

Tepat tengah malam kami tiba di Krabi. Penumpang tujuang Krabi diturunkan pada sisi jalan yang dilintasi. Dekat keramaian penduduk. Tidak dibawa ke terminal mengingat posisinya cukup jauh dari kota dan waktu sudah sangat malam. Hujan turun dengan sangat deras. Disertai banjir lokal yang menggenangi di sekitar tempat bis berhenti. Malam semakin pekat. Sungguh perpaduan sempurna bagi kami yang baru menginjakkan di negeri orang. Ditambah dengan bahasa dan kebiasaan warga setempat yang tak kami pahami. Ini kesukaan kami. Tantangan baru. It’s the real adventure!

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 19, 2015 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: