RSS

Keliling Penang bersama Keluarga Pak Amin

19 May

Mentari perlahan memancarkan sinarnya menerangi pagi. Aku menghampiri sebuah warung makan sambil menenteng ransel di punggung. Roti canai dan the tarik menjadi andalan sarapan di pagi nan cerah ini.

Melalui media sosial Facebook aku mengontak seorang sahabat yang tinggal di Penang, Pak Amin. Ya, aku memanggil dengan tambahan ‘Pak’ di awal namanya karena usia kami terpaut cukup jauh. Beruntung Pak Amin senantiasa memantau akun Facebook miliknya sehingga tidak perlu waktu lama bagiku untuk menunggu balasan pesan.

“Di mana posisi sekarang?”, balas Pak Amin melalui pesan di Facebook. Begitu mengetahui di mana keberadaanku, Pak Amin menyarankan agar aku menanti di Masjid Kapitan Muslim, yang terletak tak jauh dari posisiku saat ini. Terlihat sosok wajah yang tak asing. Ya, itu Pak Amin. Pertemuan pertama setelah sekian lama berkomunikasi melalui dunia maya dengan pria paruh baya tersebut.

Pak Amin datang dengan mobil putih sejenis Serena dan seragam kerja yang masih dikenakannya. Mobil mulai bergerak mengiringi perbincanganku dengan Pak Amin selama di perjalanan. Ia mengatakan bahwa sengaja meminta izin dari kantor hanya karena kedatanganku ke Penang. Ah, baik sekali. Aku jadi merasa tidak enak.

Kota Penang terlihat sudah maju. Meski hanya sebuah pulau yang terpisah dengan semenanjung Malaysia. Sekilas serupa dengan negara mungil yang juga menempati pulau tersendiri, Singapura. Jalanan mulus terlihat bersih ditambah kesegaran pepohonan yang menghiasi pada bahu jalan. Gedung-gedung bertingkat menjadi pemandangan lumrah di kota ini.

Pak Amin yang merupakan kelahiran Sabah, Malaysia, dan memiliki garis keturunan Jawa Banyuwangi ini terus melaju membelah jalanan Penang. Pemandangan berganti dengan perumahan yang berbagi wilayah dengan kawasan hutan. Ternyata di Penang masih terdapat kawasan hutan yang tak tersentuh pembangunan.

Rumah Pak Amin terletak di bagian paling ujung sebuah komplek perumahan mewah. Persis berada di sisi kawasan hutan rimbun yang berjarak 50 meter berbatas pagar tembok. Keluarganya sungguh ramah. Menyambutku dengan hangat. Aku dipersilakan menempati kamar pada lantai atas untuk beristirahat.

Agenda siang ini aku akan diajak Pak Amin beserta Istri, anak perempuan, dan keponakan perempuannya berkeliling Penang. Keponakannya baru saja tiba dari Sabah untuk menghabiskan masa liburan. Kebetulan sekali. Aku bisa turut serta menemani masa liburan sang keponakan tersebut meski cuma sehari.

Penang merupakan sebuah wilayah berbentuk pulau yang masih berbukit dan sebagian dipenuhi kawasan hutan. Tidak seperti halnya Singapura yang sudah meratakan hampir semua sudut pulau kecilnya itu. Dengan mengemudikan mobil sedannya, Aku yang di duduk di depan bisa menatap puas pemandangan Penang dari dekat.

Kami melintasi sebuah daerah yang dinamakan Balik Pulau. Sesuai dengan namanya daerah ini memang berada di sebalik pulau bekas jajahan Inggris ini. Pemandangan didominasi pepohonan hutan dan berbukit. Jalanan di atas perbukitan ini berada tak jauh dari bibir pulau sehingga bisa melihat di sisi kiri berupa lautan nan luas. Namun jalanan beraspal senantiasa mulus sepanjang jalan. Pak Amin membelokkan kemudi mobil ke arah kiri memasuki sebuah permukiman. Ternyata masih ada kawasan alami berbentuk serupa kampung di Penang nan modern ini. Kami mampir sejenak di rumah kerabat Pak Amin.

Sisi Balik Pulau ini jika perjalanan diteruskan akan ketemu sebuah kawasan wisata bernama Peringgi. Karena masih berada di bibir pulau tentu saja pemandangannya tidak jauh-jauh dari laut. Kawasan wisata di sini benar-benar dikelola secara serius. Terbukti dengan menjamurnya hotel-hotel mewah bertingkat yang dibangun di dekatnya.

Kami menghampiri sebuah Masjid yang terletak persis di tepi laut untuk menunaikan Sholat Dzuhur. Masjid ini dikenal dengan naman Masjid Terapung. Pernah terdampak tsunami yang terjadi pada tahun 2004. Sehingga dilakukan renovasi total menjadi tampak lebih elegan. Sejak kejadian itu, Masjid ini lebih sering disebut dengan Masjid Tsunami.

Dari Peringgi jika diteruskan akan kembali menjumpai pusat kota Penang yang berjarak dekat, tepatnya di daerah Georgetown. Perjalanan mengelilingi pulau modern bercampur pepohonan hutan nan berkesan. Tak akan terlupakan. Bersama keluarga Malaysia yang ramah dan penuh kehangatan.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 19, 2015 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: