RSS

Melanglang ke Ao Nang

19 May

Aku dan Bedul sudah berada di dalam Tuk-tuk yang akan mengantarkan kami ke Ao Nang. Tarifnya dipatok 50 baht. Memilih angkutan umum di sini cukup dengan melihat warnanya. Tuk-tuk yang kami naiki berwarna putih. Sepanjang perjalanan Aku tertidur pulas di dalam angkot. Membalas rasa lelah disebabkan kurang tidur.

Tuk-tuk memasuki kawasan padat pemukiman. Dipenuhi rumah, ruko, dan rumah makan yang saling berdekatan. Meski terkesan padat namun terlihat enak dipandang. Mungkin karena jalanan yang dilapisi aspal hotmix sehingga tampak mulus dan bersih dari sampah.

Tuk-tuk telah memasuki kawasan Ao Nang. Namun masih berjarak 1,5 kilometer untuk sampai di pusat wisatanya, tepatnya di bibir pulau. Pemandangan sisi kiri dan kanan jalan berubah menjadi deretan bangunan berupa hotel, agen perjalanan wisata, restoran, penjaja souvenir, dan minimarket yang menjamur di sekitar. Tuk-tuk berhenti pada sebuah halte khusus. Aku dan Bedul turun menjejaki tanah Ao Nang. Ah, segarnya.

Tepat di depan Tuk-tuk, dengan berjalan sekitar 50 meter lagi, terhampar pantai dengan pemandangan nan memukau. Berpasir bersih kekuningan dengan pesona lautnya yang mampu menyegarkan pikiran saat melihatnya. Sebuah batu karst menjulang tinggi setara rumah 3 lantai di ujung sana terkesan seperti pagar yang membatasi dengan sisi pantai di sebelahnya.

Bedul sangat excited untuk menuju batu karst menjulang tinggi di ujung sana. Tentunya aku juga. Sambil menenteng ransel kami berjalan menyisir pasir pantai yang lembut. Banyak turis bersantai menghangatkan tubuh di berbagai tempat di pantai ini. Mengenakan semi busana. Tutup mata, Dul! Hehe.

Sepertinya bukit Karst itu jauh sekali. Sekilas memang tampak dekat. “Sudahlah, Dul. Sampai di sini saja”, jawabku lelah. Entah kenapa aku selalu kalah jika berjalan dengan Bedul yang bertubuh buncit itu. Tampaknya ia seperti tak kenal lelah. Hebat betul si gembul Bedul temanku itu. Telepon genggam seketika berubah fungsi jadi kamera. Aku arahkan kamera ke hadapan Bedul yang memohon sejak awal untuk berpose dengan batu raksasa itu. Bedul berdiri membelakangi pemandangan batu karst. Jepret!

Semua sudut kawasan wisata Ao Nang kami jelajahi dengan berjalan kaki. Kebetulan tidak terlalu luas. Apalagi Bedul yang sepertinya mempunyai energi serap. Bentuk kawasan wisata di Aonang ini menyerupai letter U. Dari halte pemberhentian Tuk-tuk tadi jalur yang dilalui adalah belok ke kanan sepanjang 1 kilometer yang merupakan sisi bawah letter U, persis di bibir pantai. Kemudian belok kanan lagi untuk melanjutkan perjalanan keluar dari kawasan wisata.

Sepanjang perjalanan di bibir pantai kami berjalan di koridor selebar 5 meter depan deretan toko-toko penjaja kebutuhan wisata mirip seperti di Bali.

Krabi merupakan kawasan wisata favorit pelancong dari Malaysia. Mungkin karena dominasi Muslim tidak kalah jauh di sini sehingga terlihat sedikit santun. Makanan halal pun mudah didapat. Agen-agen perjalanan sering dijumpai oleh petugas dengan wanita yang berhijab. Pada bagian kawasan paling ujung, tepatnya di trotoar sisi kiri jalan, terdapat gerombolan penjaja gerobak yang didominasi pedagang Muslim. Hanya satu atau dua saja yang non-Muslim. Gerobak dihias semenarik mungkin mengikuti kemolekan kawasan wisata ini.

Aku dan Bedul duduk mengemper di rerumputan dekat trotoar di seberang jalan kawasan gerobak penjaja halal tersebut. Tidak sekedar beristirahat, tetapi memanfaatkan fasilitas wifi gratis milik pemerintah. Aroma internet gratis senantiasa tercium oleh Bedul. Duduk sejenak sambil meng-update keseruan yang telah terjadi seharian ini. Bedul memang membawa berkah.

Mengingat banyaknya warga setempat yang beragama Islam, seharusnya keberadaan Masjid juga tidak jauh dari sini, pikirku. Setelah bertanya, kami di arahkan melewati sebuah jalan pintas. Dari informasi yang didapat terucap jarak sejauh 1 kilometer menuju Masjid. Dengan yakin Aku dan Bedul terus berjalan melintasi jalanan tidak terlalu ramai ini. Rumah penduduk berjarak jarang. Penampakan pepohonan kelapa juga sering dijumpai. Meski begitu terdapat hotel berkelas juga di sisi jalan.

Setelah sekian jauh berjalan masih tak ditemukan juga Masjid yang dicari. Fiuh. Kami terus berjalan dengan yakin. Jalan berbukit naik turun. Hendak menumpang Tuk-tuk tidak memungkinkan karena ini bukan jalurnya. Seorang pria berwajah arab bertubuh besar tampak sedang berjalan berlawanan arah di depan kami. Sepertinya ada jawaban keberadaan Masjid di wajahnya. “Where is the Mosque?,” tanyaku kepada pria yang ternyata asli Turki itu. Ia menjawab sambil mengisyaratkan dengan tangannya menunjuk ke arah yang baru saja ia lewati. Pria itu juga lepas melakukan sholat di Masjid tersebut.

Setelah sekian jauh berjalan sambil menenteng ransel yang cukup membebani, tampak olehku sebuah kubah dari kejauhan. Ah, akhirnya. Meski kaki sudah cukup lelah namun sepertinya Bedul tak pernah menampakkan kepenatannya. Proud of you, Dul.

Masjid ini cukup besar meski tidak terlalu mewah. Memiliki halaman yang luas. Disekitarnya di dominasi penduduk beragama Islam. Satu per satu jamaah mulai berdatangan untuk menunaikan Sholat Dzuhur. Rata-rata jamaah mengenakan gamis. Wajah serupa orang Indonesia 100 persen. De Javu seketika. Seperti berada di negeri sendiri saja. Namun ketika mendengar mereka bercakap-cakap baru terasa kalau ini adalah negeri orang.

Kami berehat sejenak di pelataran Masjid. Angin bertiup sepoi menyentuh kulit seakan memasok energi baru. Lantai pelataran Masjid berlapis marmer terasa adem disentuh membuat kami semakin pulas.

Energi baru telah terisikan untuk menempuh perjalanan selanjutnya. Bedul yang senantiasa membawa botol minuman memanfaatkan fasilitas air minum gratis yang disediakan Masjid ini. Sebelumnya kami berkeliling sebentar melihat seperti apa kehidupan penduduk sekitar yang didominasi Muslim Thailand. Membeli panganan khas setempat yang dijual oleh warga di pondok kecil depan rumahnya. Terkadang membuat bingung. Wajah mereka tak ada bedanya dengan penduduk di kampungku. Suasananya juga terasa hampir sama. Namun lidah ini senantiasa kelu berada di kampung ini. Sulit berkomunikasi.

Kami kembali menuju pusat wisata melalui jalan yang sama. Berjalan mengitari letter U mengikuti bentuk jalan hingga tiba di halte tempat pemberhentian Tuk-tuk tadi pagi. Senja mulai menjelang. Perlahan berganti dengan gelapnya malam. Kami menanti keberangkatan Tuk-tuk selanjutnya yang masih ngetem di sisi halte. Tak lama kemudian Tuk-tuk membawa kami meninggalkan Ao Nang menembus malam dibawah deretan lampu jalan. Menempuh perjalanan 40 menit untuk tiba di tujuan.

Tuk-tuk berhenti di sisi jalan pusat kota. Kami berjalan kaki menuju sebuah ruko yang merupakan agen penjualan tiket bis. Meski sudah tutup namun tidak sedikit yang berdiri di depan ruko untuk menanti bis yang melintas. Biasanya bis berhenti otomatis tanpa perlu dicegat. Waktu telah menunjukkan angka 10 malam. Aku dan Bedul masih saja terdampar di sini. Sementara penumpang lainnya berangsur-angsur lenyap di area penantian bis ini. Seperti malam sebelumnya, Aku dan Bedul kembali menggembel.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 19, 2015 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: