RSS

Menanti Twin Tower bersama Bang Harahap sejak Subuh

19 May

Hening. Jarum jam menunjukkan angka 5 subuh waktu Malaysia. Tak terlihat kendaraan melintas di persimpangan jalan raya besar ini. Hanya sesekali tampak bis besar lewat atau berhenti di sisi jalan menurunkan penumpang.

Aku masih berdiri terpaku memandangi suasana di sekitar. Sesaat setelah bis yang aku tumpangi dari Johor Bahru menurunkanku dan penumpang lainnya di sisi jalan dekat persimpangan. Aku tidak sendiri. Tampak beberapa orang yang sedang menanti menunggu pagi cerah.

Tepat di ujung penyeberangan jalan terdapat sebuah bangunan besar serupa mal. Ternyata itu adalah terminal bis Puduraya yang belum beroperasi. Masih ditinggal tidur oleh para pekerjanya. Pantas saja semua penumpang diturunkan di sisi jalan tak jauh dari terminal tersebut.

Tempat aku berdiri saat ini sedikit mirip sebuah taman kota. Berjarak 10 meter dari bahu jalan. Berada tepat di depan sebuah restoran mamak yang buka 24 jam. Bukan, itu bukan restoran ibuku. Sebutan mamak di negeri ini dikhususkan bagi warung makan India yang beragama Islam. Restoran tersebut berada pada ketinggian 1 meter. Cukup menjejali beberapa anak tangga untuk masuk ke dalamnya.

Waktu sholat Subuh akan tiba beberapa menit lagi. Aku mulai mencari tahu keberadaan Masjid terdekat. Satu per satu orang-orang yang sedang berdiri menanti di tempat yang sama aku datangi. Beruntung tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan informasi tersebut karena terjawab oleh orang kedua yang aku tanyai yang juga akan menuju Masjid.

Kami berjalan menembus keheningan subuh di trotoar sisi jalan raya. Sesekali terlihat para wanita setengah pria yang berdandan seksi menanti pelanggan datang. Aku sedikit khawatir mendapat gangguan dari para pekerja dinihari tersebut. Namun ternyata kekhawatiranku tak terjawab. Sukurlah.

Jarak dari tempat penurunan penumpang bis tadi menuju Masjid sekitar satu kilometer. Meski dengan berjalan kaki namun terasa menyenangkan. Berjalan sambil memandangi jalan raya nan sunyi diterangi lampu jalan berwarna kuning keemasan. Sesekali terdengar desingan suara kendaraan roda empat yang melintas laju.

Azan subuh berkumandang merdu dari pengeras suara Masjid bernama Jamek ini. Dari sisi luar Masjid yang dibatasi dengan pagar besi setinggi 2 meter terkesan tidak terlalu luas. Namun ketika memasuki halamannya ternyata jauh dari yang dibayangkan. Selain memiliki bangunan yang besar, pekarangan masjid ini juga cukup luas.

Desain Masjid terlihat seperti Masjid Keraton di Jogja. Di sekelilingnya dibuat semacam pendopo yang lebih luas dari bagian dalam Masjid itu sendiri dengan ditopang oleh banyak tiang. Pancaran cahaya lampu kuning yang menyirami bagian atapnya menambah kesan elegan pada Masjid ini.

Saat hendak berwudhu, aku melihat sebuah tulisan ‘Tandas’ di atas sebuah pintu yang masih membuatku bertanya-tanya dengan istilah tersebut. Yang sempat mengusik rasa penasaranku saat mendengar teriakan dengan kata serupa oleh kondektur bis yang aku tumpangi tadi. Namun akhirnya terjawab ketika dibalik pintu bertuliskan Tandas tersebut terdapat sebuah bak dan jamban. Mulutku membulat paham.

Jamaah Sholat subuh terisi satu setengah saf. Suasana di dalam Masjid terasa nyaman. Berlapis karpet tebal. Udara subuh terasa segar. Semakin menambah nikmat beribadah. Sang Imam mulai memimpin. Suasana kembali hening. Hanya terdengar bacaan Alfatihah yang mengalun merdu.

Langit mulai berubah warna. Perlahan melenyapkan kegelapan. Namun masih terlihat remang. Setelah merehatkan tubuh sejenak menikmati semilir udara subuh di pendopo Masjid, kami kembali berjalan menuju tempat penurunan penumpang bis tadi. Bertiga. Aku, Pak John, dan seseorang yang baru aku kenal di Masjid bernama Harahap.

Ya, dari namanya tentu saja sudah dapat ditebak darimana ia berasal, Indonesia. Tepatnya dari sebuah kota paling ujung di Sumatera Utara, Padangsidempuan. Bang Harahap sedang melakukan petualangan seorang diri, sama sepertiku. Ia memanfaatkan dinas kerja ke Pulau Batam untuk menjajal negara di seberangnya selama beberapa hari.

Aku dan Bang Harahap memiliki tujuan serupa, hanya ingin melihat gedung bertingkat. Memang katrok sekali kami. Tapi ini bukan gedung biasa sebagaimana di Jakarta, tetapi gedung kembar yang popularitasnya sudah mendunia, Menara Petronas atau yang sering dikenal dengan Twin Tower.

Twin Tower terletak tak jauh dari terminal bis Puduraya, menurut kami, yang hobi berjalan kaki. Puncaknya terlihat jelas dari terminal bis ini. Sehingga kami percaya bahwa jaraknya tidaklah jauh. Dengan percaya diri, Aku dan Bang Harahap, berjalan menyusuri trotoar tanpa bertanya sana-sini. Puncak gedung kembar yang terlihat dijadikan sebagai panduan untuk mencapai titik keberadaannya.

Setelah beberapa menit berjalan kami yakin bahwa tujuan sudah semakin dekat. Puncak menara tiba-tiba menghilang tertutup gedung bertingkat lainnya. Kami kebingungan. Menyerah pasrah. Ternyata memang butuh bimbingan warga setempat untuk ditunjukkan arahnya. Setelah mendapat arahan dari seorang warga yang kami temui, perjalanan kemudian dilanjutkan. Rasanya seperti sudah dekat saja. Tetapi entah mengapa tak kunjung jumpa. Ya Tuhan. Akhirnya setelah tersesat berputar sana-sini, gedung yang kami cari-cari ternyata sudah di depan mata.

Demi melihat dari dekat gedung yang tak ubahnya gedung lain ini, dengan hanya keistimewaan berupa ketinggian dan memiliki kembaran, kami rela berpeluh keringat untuk mencapainya. Tak mengapa. Asal rasa penasaran akan gedung yang menjadi pembicaraan banyak orang ini bisa terlampiaskan. Sekedar ingin tahu seperti apa wujudnya jika ditatap dari dekat. Tidak terlalu istimewa. Tetapi cukup puas.

Aku memasuki gedung tersebut. Ingin menjajal naik ke puncaknya. Setelah bertanya kepada sekuriti kemudian kami diarahkan menuju lantai bawah. Terlihat sebuah poster besar menutupi tembok dengan gambar pemandangan Kota Kuala Lumpur dari ketinggian. Tak jauh dari poster tersebut tampak beberapa orang sedang mengantri. Ternyata untuk mencapai puncak Twin Tower diharuskan membayar tiket masuk seharga RM 80. Yasalam. Perjalananku masih panjang. Duit segitu lebih baik sebagai bekal di negara berikutnya.

Sebagai kenangan tentu saja kami tak ingin melewatkan kesempatan berfoto narsis dengan latar gedung kembar ini. Tempat terbaik mengabadikan foto adalah di dekat danau buatan. Meskipun berada di luar gedung namun posisinya tertutup pagar tinggi berupa tembok. Sehingga untuk menuju ke sana harus memasuki gedung terlebih dahulu.

Dua gedung berwajah sama berada tepat di belakangku. Sebuah jembatan penghubung kedua gedung itu terlihat jelas sehingga terlihat seperti huruf H. Aku mengambil posisi lebih tinggi dengan menjejali anak tangga. Bang Harahap mengarahkan lensa kamera ke arahku dari bawah dengan posisi jongkok ditambah kepalanya yang hampir menyentuh lantai. Hal ini dilakukan demi kesempurnaan pengambilan gambar gedung yang sangat tinggi itu. Bersusah payah demi hasil foto yang memuaskan. Begitulah.

Tidak hanya kami, puluhan wisatawan tampak melakukan hal yang sama. Hampir tidak ada yang mendiamkan kameranya begitu saja. Pemandangan orang-orang bergaya dengan segala macam pose membelakangi Twin Tower yang berkolaborasi dengan fotografer yang hampir mencium lantai akan selalu ditemui di sini. Mulai dari pejalan mandiri sampai wisatawan rombongan.

Di sebelahku segerombolan anak muda asal Filipina yang hendak berfoto tampak heboh diarahkan oleh salah seorang temannya sebagai pemotret. Sesekali diminta bergeser dengan aba-aba tangan sang pemotret. “Kanan.. Kanan..”, ujar si tukang foto itu. Kanan? Tiba-tiba siraman air pancur dari danau tersembur mendadak ke arah mereka. Semua berlarian sambil ada yang berucap, “basah..”. Setelah selesai sesi pemotretan aku menghampiri si tukang foto untuk klarifikasi dengan bahasa yang digunakan tadi. Ternyata bahasa Tagalog memang banyak kemiripan dengan Bahasa Indonesia.

Cukup sudah hasrat melampiaskan rasa penasaran terhadap gedung kembar ini. Aku dan Bang Harahap melangkah pergi dengan rasa puas. Kami berpisah. Bang Harahap hendak melakukan misi selanjutnya. Sedangkan aku akan bersilaturahmi ke rumah saudara yang entah seperti apa rupanya. Saudara sepupu Ayahku yang tak pernah aku jumpai sebelumnya. Semoga berjumpa kembali di lain waktu, Bang Harahap. Horas!

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 19, 2015 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: