RSS

Ngegembel di Krabi

19 May

Hujan masih setia turun dengan derasnya. Aku dan Bedul merapat ke tepian ruko. Membentang koran sebagai alas beristirahat. Sambil diliputi rasa dingin. Seorang tukang ojek dengan berjubah jas hujan mendatangi kami. Menawarkan jasanya. Namun kami menolak menanti hingga hujan reda. Karena belum ada rencana menginap di hotel. Sebagai antisipasi agar tidak dipermainkan hanya karena kami bukan orang Thai.

Hujan reda. Tak bersisa. Sebuah warung makan yang masih buka tampak di seberang. Aku dan Bedul menuju ke sana sekedar menyeruput kopi. Sembari bertanya-tanya kepada pemilik warung dengan bahasa seadanya. Warung sudah hampir tutup. Kami meminta izin kepada pemiliknya untuk menempati teras untuk ditempati. Namun ia tidak memperbolehkannya dan menyarankan kepada kami untuk memilih lokasi ATM yang terletak tak jauh untuk beristirahat. Kami mengikuti sarannya.

Lokasi ATM ini memang terlihat bersih. Namun tidak nyaman untuk ditempati. Terlebih lagi kamera pengintai yang diselipkan di beberapa sudut. Sebuah warnet 24 jam terlihat berada tak jauh. “Kita nginap di situ aja, Dul,” ajakku kepada Bedul sambil menunjuk warnet tersebut. Bedul setuju-setuju aja.

Aku mendatang warnet tersebut. Menanyakan berapa tarif per jamnya. Terlalu mahal ternyata. Kami mengurungkan niat. Memilih berjalan terus ke emperan toko lainnya. Terdapat seseorang sedang menunggu di depan sebuah toko sambil memegang koper. Seorang wanita muda yang aku menduga sedang menanti kedatangan bis. Meyakinkan kami bahwa ruko tersebut adalah agen perjalanan yang bisa ditempati. Kami menuju ke sana.

Terdapat satu bangku sepanjang 1,5 meter yang bisa diduduki. Wanita tadi seketika meninggalkan lokasi tempat ia menanti menuju seorang pria yang mengendarai sepeda motor. Ternyata ia sedang menunggu jemputan.

Aku dan Bedul memanfaatkan lokasi tersebut untuk beristirahat. Tidur dengan posisi duduk. Tak lama Bedul tampak pulas tertidur. Aku masih terjaga. Tukang ojek yang tadi menawarkan jasanya kembali menghampiri kami. Masih keukeuh merayu kami untuk menerima tawarannya. Namun Aku dan Bedul masih ingin rehat melepas lelah. Tukang ojek yang diketahui bernama Inoy tersebut tetap menanti di sebelah kami sambil menanti penumpang lainnya.

Inoy merupakan tukang ojek yang lugu. Berusia sekitar 35 dengan paras sedikit oriental. Senyum ramahnya senantiasa terkembang. Meski terkendala bahasa namun kami masih bisa berkomunikasi semampunya dengan bantuan gerakan tubuh. Jika ia sulit mengungkapkan kata dalam bahasa inggris maka matanya akan menerawang ke atas sambil berusaha mencari pengucapan yang tepat. Sesekali terlihat ekspresi kesal sambil sedikit tertawa jika hasrat ingin menyampaikan sesuatu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Malam semakin pekat. Memasuki waktu dinihari. Satu per satu orang-orang yang menempati emperan depan ruko bersama kami beranjak pergi memasuki bis yang melintas. Ada juga yang berlalu menghampiri jemputan kerabatnya. Tinggal Aku, Bedul, dan Inoy. Serta satu lagi seorang pria yang diperkirakan sangat kenal dengan Inoy dilihat dari keakraban perbincangan antara keduanya.

Aku dan Bedul berbincang akrab dengan Inoy yang duduk di tengah-tengah kami. Keakraban kami tentu saja bukan karena komunikasi secara bahasa yang tidak bisa saling dimengerti, melainkan kepolosan Inoy yang senantiasa diliputi dengan tawanya yang khas. Teman Inoy yang berpenampilan seperti anak kuliahan itu meminta kami bertiga untuk berpose di hadapan kameranya. Jepret! Jari-jemarinya langsung mengetik gadget miliknya usai mengabadikan ke dalam kamera gadget-nya. Tampaknya ia ingin mengunggah ke media sosial untuk diperlihatkan kepada teman-teman Thai-nya.

Waktu hampir mendekati akhir dari sepertiga malam. Namun Aku dan Bedul masih setia mengemper di depan ruko. Sementara Inoy dan temannya sudah menghilang sejak tadi. Tampak dari kejauhan seorang wanita muda mengenakan hijab sedang menanti di depan sebuah minimarket 24 jam. Kami menduga bahwa ia adalah seorang traveler seperti kami yang hendak menjelajahi Krabi. Bedul pergi menghampiri wanita tersebut.

Aku berharap cemas memantau dari kejauhan. Berharap ada kabar baik sekembalinya Bedul nanti. Lama menanti Bedul. Tampaknya asik sekali ia bercakap-cakap dengan wanita tersebut. Tiba-tiba Bedul dan wanita itu beranjak dari minimarket tersebut menyeberangi jalan raya di depan. Aku masih menanti. Namun masih tak kunjung jua. Lelah menanti kedatangan Bedul kemudian aku berinisiatif menemui mereka.

Di sana terlihat ada 4 orang. Bedul, wanita tadi, dan 2 orang yang entah siapa. Aku semakin mendekati mereka. Bedul memberitahu bahwa ia akan ditunjukkan lokasi Masjid terdekat. Ternyata wanita itu seorang warga Thailand. Ia baru saja tiba dari Pattani, yang merupakan sebuah kota di selatan Thailand berpenduduk mayoritas Muslim. Kedua orang yang terdiri dari pria dan wanita itu ternyata kerabatnya. mereka membawa sebuah mobil bak terbuka di belakang untuk menjemput wanita tersebut. Aku dan Bedul menaiki mobil duduk di bak belakang. Berdiri menatap jalan di hadapan mobil yang membelah kota Krabi yang masih tertidur lelap. Tertiup angin nan kencang sepantar dengan laju kendaraan ditambah dinginnya udara subuh yang habis disirami hujan beberapa jam lalu. Sembari menyunggingkan senyum atas rasa syukur yang diperoleh hari ini. Begitu juga Bedul.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 19, 2015 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: