RSS

Saudaraku Dirantau Malaysia

19 May

Suara telepon genggam berdering. Tanpa nama. Dengan yakin aku angkat panggilan tersebut. “Assalaamu’alaykum, ini Pak Wo Man,” ujar suara di seberang sana. Benar dugaanku, telepon dari sepupu Ayahku. “Nanti Pak Wo jemput di stasiun Melati, ya,” lanjutnya memberikan instruksi kepadaku.

Sebelumnya Ayah sudah memberi tahu terlebih dahulu kepada Pak Wo Man akan kedatanganku. Aku memang belum menyimpan nomor beliau. Setelah telepon ditutup nomor panggilan barusan aku simpan di buku telepon.

Aku bergegas menuju stasiun Masjid Jamek. Sesuai dengan namanya, stasiun ini terletak di seberang Masjid tempat aku menunaikan sholat Subuh tadi. Kecanggihan sistem transportasi di negeri jiran ini sudah melampaui dengan kondisi transportasi di negeriku. Aku berjalan melintasi sebuah jalan kecil selebar 1 meter yang menanjak naik menuju bagian dalam stasiun yang terletak di lantai 2. Suasana stasiun terlihat megah dijejali ratusan penumpang.

Aku membeli tiket single trip untuk sekali jalan. Sebelumnya berurusan dengan sebuah mesin pembayaran otomatis terlebih dahulu. Mengikuti panduan pada layar monitor. Setelah memasuki sejumlah uang yang diminta kemudian keluar sebuah tiket masuk berbentuk koin plastik sebagai akses masuk ke dalam LRT.

Pak Wo Man telah menanti di stasiun terakhir pemberhentianku. Aku bergegas melewati pintu masuk yang diakses dengan memasukkan koin plastik tadi hingga masuk ke dalam kereta. Sulit membedakan mana penumpang warga negara asli dengan pendatang dari negaraku. Tetapi tidak halnya dengan penumpang perempuan, khususnya yang mengenakan hijab. Cukup mudah membedakannya dengan melihat model hijab yang dipakai.

Kereta tiba di stasiun Melati. Aku memencet mengontak Pak Wo Man. Setelah saling menyebutkan ciri-ciri, kami berjumpa di luar stasiun. Pertemuan pertama dengan saudara yang terpisah jarak dan batas negara. Pak Wo Man berprofesi sebagai pengemudi taksi di Kuala Lumpur. Ia menjemputku dengan taksi miliknya yang terparkir tak jauh.

Selama di perjalanan kami berbincang akrab mengulik lebih jauh silsilah keluarga. Pak Wo Man telah merantau ke Malaysia sejak tahun 1978 dibawa merantau oleh kedua orangtuanya yang merupakan adik dari nenekku. Semasa itu beliau masih kecil bersama kakak dan adik-adiknya. Tidak sulit memasuki negara tetangga pada masa itu.

Saat ini Pak Wo Man dan keluarga besarnya telah berstatus sebagai warga negara Malaysia hingga mempunyai 6 orang anak. Namun logat khas Minang masih terdengar dari lidahnya hingga sekarang. Wajar saja karena bahasa tersebut senantiasa dipakai saat berkomunikasi dengan istrinya yang berasal dari suku serupa. Hanya saja keenam anak mereka justru sangat fasih berbahasa Melayu. Saat mereka sudah berbicara maka akan sangat sulit untuk menebak bahwa sesungguhnya mereka adalah anak-anak Minang. Sama halnya seperti aku yang tumbuh besar di salah satu bumi Melayu di Indonesia.

Ternyata banyak sekali saudaraku di negeri seberang ini. Aku diperkenalkan kepada hampir semua kerabat yang bertalian darah. Berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Sambutan mereka sungguh ramah. Aku dibawa berkeliling sambil mencecap kuliner setempat.

Seorang kerabat mengajakku menghabiskan sore hari di kawasan kuliner dengan menggunakan sepeda motor. Merupakan tempat favorit warga Kuala Lumpur saat menjelang senja. Dari sini terlihat jelas ikon Malaysia, menara kembar Petronas. Suguhan kuliner beragam dari masakan Melayu, Thailand, Minang, hingga Aceh. Hampir semua pedagang di sini keturunan Indonesia.

Sebelum senja menghilang, aku dibawa menuju Dataran Merdeka. Menyaksikan bangunan-bangunan besar artistik nan aduhai. Ragam bentuk bangunan dengan rancangan arsitek yang unik. Kamera ditangan tak lepas mengabadikan bangunan di sepanjang jalan meski dalam keadaan menaiki sepeda motor yang sedang dikemudikan abang sepupuku.

Masa di Kuala Lumpur hanya aku habiskan selama sehari semalam. Keesokan hari aku sudah harus melanjutkan rute perjalanan berikutnya. Pengalaman bersua dengan kerabat beda negara memang sangat berkesan. Melihat wajah-wajah setalian darah yang sudah berganti bahasa. Tradisi merantau suku Minang telah membawa suku dari Propinsi Sumatera Barat ini tersebar hingga pelosok negeri bahkan negara.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 19, 2015 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: