RSS

Amazing Phi-phi Island

18 Aug

Kapal wisata Phiphi Island melepas sauh. Gerombolan turis kulit putih rambut pirang memadati kapal ini. Hanya beberapa berparas asia seperti India, Tiongkok, dan Melayu. Santapan cemilan gratis berupa kue kering berisi selai nanas beserta the manis tak luput dari incaran kami. Bisa dicomot sesuka hati. Ini merupakan kenikmatan bagi pelancong gembel seperti kami. Kenyangkan perut, Dul!

Aku dan Bedul duduk di kursi paling depan. Persis di sebelah meja penyedia jasa layanan ragam paket tur yang terpojok di sudut kapal. Jasa tur ini menyediakan paket wisata ke pulau-pulau kecil nan indah sekitar Phi-phi. Tumpukan brosur wisata tampak menempel di dindingnya.

Perjalanan menuju Phi-phi akan memakan waktu selama 1 jam. Pada awal perjalanan pemandangan di luar kapal terlihat biasa. Hamparan laut lepas andaman. Namun pada detik-detik terakhir mencapai finish mulai terlihat pesona Pulau Phi-phi. Berupa tumpukan bebatuan karst terlihat dari kejauhan. Aku dan Bedul bergegas keluar dan menaiki tingkat atas kapal yang terbuka. Menyaksikan keindahan Phi-Phi dari dekat.

Air laut seketika berubah warna. Terlihat semakin biru kehijauan. Plong rasanya melihat laut bening seperti ini. Semakin mendekat batu-batu tersebut semakin nyata terlihat wajah sesungguhnya. Ternyata besar sekali. Melihatnya harus mendongakkan kepala ke atas. Setara dengan rumah 3 lantai. Banyaknya bebatuan raksasa tersebut membuat posisi kami seperti di kepung di tengah-tengahnya.

Bedul tak henti-henti mengarahkan kamera ke berbagai arah mengabadikan pesona tiap sudut Pulau Phi-phi. Tentu saja tak ketinggalan pose narsis kami agar kelak bisa menjadi bukti sejarah di masa mendatang. Beberapa turis lain pun melakukan hal serupa. Seperti tak ingin melewatkan momen yang belum tentu terulang ini.

Kapal-kapal wisata tampak berseliweran. Mulai yang berukuran besar hingga sekelas boat. Kapal kecil boat ini bisa menjangkau hingga celah-celah yang menganga di bawah batu karst. Sepertinya mereka menyewa boat di Pulau Phi-phi yang berada tak jauh di ujung sana. Pada batu karst di ujung sana terlihat hamparan pasir putih pantai yang terlihat mengecil. Laut di dekatnya terlihat berwarna hijau tua bening. Diyakini tempat itulah yang dijadikan sebagai lokasi pembuatan film The Beach-nya Leonardo Di Caprio.

Kapal berhenti di tengah laut yang berpenampakan bening. Pulau Phi-phi tampak jelas terlihat tak jauh dengan aneka bangunan villa dan hotel yang berdiri indah. Para wisatawan dipersilakan melompat dari kapal menyeburkan diri ke laut. Yang jelas ini bukan aksi pembajakan kapal berdampak pengusiran penumpang. Tentu saja bukan. Kami dimanjakan untuk menikmati keindahan bawah laut dengan peralatan snorkling yang telah disediakan.

Aku dan Bedul tak ingin melewatkan kesempatan langka ini. Sesaat sebelum nyebur ke laut aku mendengar ucapan yang sangat familiar di telinga tak jauh dari sini. Ia berteriak kepada temannya yang telah dulu nyemplung ke laut sambil berkata manja, “Aku nggak berani”. Aku dan Bedul bertatap surprise. Ada warga sekampung (negara) rupanya di sini.

Sedikit bingung untuk mencari asal-usul suara tersebut. Karena tidak sedikit turis yang ada di sekitar. Apalagi tidak ada yang berparas Melayu satu pun selain Aku dan Bedul. Akhirnya diketahui bahwa suara itu berasal dari seorang wanita muda berkaos merah. Wajahnya sangat oriental sehingga tidak mudah menebaknya. Lebih mirip turis Tiongkok. Kami berkenalan. Wanita yang diketahui bernama Leni itu sedang berlibur bersama keempat orang temannya dari Medan.

Aku dan Bedul menjatuhkan diri ke laut. Byur. Ah, segarnya. Ku arahkan wajah ke dasar laut dengan mencelupkannya. Pemandangan aneka ikan berwarna-warni dan ragam rupa terumbu karang mampu melenyapkan rasa lelah selama perjalanan. Sungguh indah. Mulutku berucap tasbih. Memuji keindahan Sang Pencipta.

Bedul tampak sudah semakin menjauh. Aku menyusulnya. Sepertinya ia sangat menikmati aktifitas bawah laut seperti ini. Momen-momen langka selalu menyadarkan kami untuk tergerak mengambil kamera. Kesadaran yang sudah melekat di memori otak terdalam. Sanggahan halus untuk tidak ingin disebut narsis. Aku memotret Bedul yang sudah mempersiapkan pose terbaiknya. Beberapa kali. Begitupun sebaliknya saat kamera berpindah ke tangan Bedul.

Petugas kapal mengingatkan agar segera naik ke atas kapal. Untuk bergerak menuju Pulau Phi-phi yang tinggal beberapa meter lagi. Kapal bersandar di pelabuhan. Semua penumpang turun untuk menikmati makan siang di sebuah hotel. Petugas pelabuhan menarik retribusi sebesar 20 baht di luar paket tur. Perjalanan menuju hotel melintasi ratusan pedagang souvenir yang menjejali sisi kanan dan kiri jalan. Aneka souvenir bercirikan Thailand menggoda untuk dibeli. Mulai dari gantungan kunci berbentuk gajah hingga kaos oblong bertema Thailand.

Hotel tempat kami makan siang terlihat mewah. Aku dan Bedul menempati meja khusus makanan untuk Muslim bersama beberapa peserta tur lain. Sajian berupa nasi bertemankan lauk-pauk beserta potongan buah-buahan sebagai penutup. Bedul terlihat khusyuk melakukan ritual di depan makanan ini. Begitu juga diriku.

Usai santap siang sang Pemandu mengingatkan kepada para peserta tur agar segera menaiki kapal. Sambil berjalan menuju tempat bersandarnya kapal aku dan Bedul menyempatkan sejenak mampir membeli suvenir. Sepanjang jalanan selebar gang ini dipenuhi oleh para penjaja suvenir di kedua sisinya. Setiba di pelabuhan kami tidak bergegas menaiki kapal. Pemandangan dari bibir pulau ini sungguh menggoda untuk diabadikan. Deretan sampan berbentuk unik yang berjejer di sisi pantai menambah indah pemandangan. Kamera pun keluar dari dalam tas kami.

Aku dan Bedul sudah nangkring di atas kapal. Penumpang kapal tidak terisi penuh sebagaimana saat berangkat. Sebagian ada yang melanjutkan perjalanan menuju Krabi. Ternyata mereka memilih paket dengan rute Phuket – Phiphi – Krabi. Posisi pulau cantik ini memang berada di tengah-tengah kedua provinsi itu. Aku belum mendapatkan informasi tentang ini. Seandainya tahu, Aku dan Bedul mungkin akan merombak itinerary perjalanan sehabis dari Krabi langsung menuju Phuket via Phiphi Island.

Kapal semakin menjauh dari Pulau Phi-phi. Penampakan alam di luar sana kembali terlihat monoton. Hamparan laut luas dengan pulau-pulau yang tampak mengecil di ujung sana. Hari beranjak sore. Senja semakin mendekat. Aku dan Bedul terlelap nikmat di dalam kapal sembari duduk di bangkunya nan empuk. Tampaknya kami akan berpisah.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2015 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: