RSS

Berkunjung ke Rumah Khosim

18 Aug

Aku seketika terbangun dari tidur saat bis memasuki terminal bis Phuket. Membangunkan Bedul yang duduk di sampingku. Jarum jam menunjukkan angka 5 pagi. Suasana masih terlihat sepi. Hanya beberapa orang yang baru saja turun dari bis dan menanti jemputan kerabat.

Aku dan Bedul memilih duduk sejenak di terminal ini. Memanfaatkan fasilitas kamar mandi untuk membersihkan diri. Bergantian dengan Bedul untuk menjaga ransel. Terminal ini didesain terbuka tanpa sekat tembok. Sehingga sambil menanti di ruang tunggu bisa memandang lepas ke luar sana. Beberapa tukang ojek tampak duduk menanti berjarak sekitar 15 meter dari ruang tunggu. Mereka mengenakan rompi khusus berwarna oren. Tukang ojek di sini sungguh pengertian. Ketika mereka menawarkan jasa ojek kepadaku, kemudian aku tolak dengan isyarat tangan dan gelengan kepala, seketika ia langsung menjauh tanpa memaksa untuk kedua kali. Teman-temannya yang melihat pun turut mengerti. Salut untuk sopan santun pengemudi ojek di sini.

Waktu subuh hampir tiba. Aku bertanya pada salah seorang tukang ojek tentang keberadaan Masjid. Kendala bahasa memang menjadi kendala. Tetapi setelah berusaha dengan bantuan isyarat tubuh akhirnya ia mengerti maksudku. Ia memanggil temannya sesama tukang ojek yang beragama Islam.

Aku dan Bedul menggunakan jasa 2 tukang ojek menuju Masjid. Jalanan lengang. Warga Phuket masih terlelap dalam tidurnya. Hening. Sesaat kemudian kami tiba di Masjid. Hanya 5 menit perjalanan. Aku membayar 40 baht sesuai dengan perjanjian ongkos sebelumnya.

Bernama Masjid Yameay. Lumayan besar. Bertingkat dua. Tempat sholat berada di tingkat 2 yang bisa dimasuki dari luar melalui tangga selebar 3 meter. Para jamaah satu per satu tampak keluar dari dalam Masjid. Sholat Subuh usai ditunaikan. Dua jamaah tersisa di dalam Masjid tampak sedang berzikir. Usai berwudhu, Aku dan Bedul berjamaah untuk Sholat Subuh.

Usai sholat kami bersantai sejenak di sebuah bangku di dekat tangga masuk. Perlahan langit mulai cerah. Tampak seorang pria keluar dari Masjid. Saat ia melintas di depan bangku tempat kami duduk, aku mencegatnya untuk bertanya.

Pria yang diketahui bernama Khosim tersebut tak paham bercakap Inggris. Menanyakan tentang keberadaan Pulau Phi-phi terasa sulit diisyaratkan dengan bantuan tubuh. Akhirnya aku mengeluarkan secarik kertas dan pena. Berkomunikasi dalam gambar. Namun tetap saja kesulitan. Tiba-tiba ia bergegas turun sambil berkata sesuatu. Entah apa yang diucapkan aku tak mengerti.

Dari bawah terlihat ia memberikan aba-aba kepadaku untuk ikut bersamanya menaiki motor yang sedang didudukinya. Aku turun sambil memberitahu kepadanya bagaimana dengan temanku. Kemudian ia memanggil seorang temannya yang tinggal di lingkungan Masjid tersebut. Aku berboncengan dengan Khosim dan Bedul bersama temannya Khosim.

Motor Khosim bersanding dengan gerobak yang ditempati beberapa kotak stereofoam. Sedikit mirip becak. Sepertinya kotak-kotak itu berisi ikan segar. Aku tak menaruh rasa curiga sedikitpun terhadapnya. Pertemuan kami di rumah ibadah seketika melenyapkan keraguan yang ada.

Ternyata Khosim membawa kami ke sebuah rumah yang tampak sederhana. Berbahan kayu dengan tampilan warung makan di depannya. Rumah ini berada di antara deretan rumah lainnya yang saling menempel. Mayoritas rumah-rumah di sekitarnya sudah berlapis tembok. Meski begitu, lingkungan di sekitarnya terlihat menarik. Jalanan beraspal hotmix yang mulus dan lebar. Ini bukan jalan utama melainkan khusus untuk dilalui warga setempat. Wajar saja. Selain posisinya berada di kota, juga dikarenakan Phuket yang merupakan primadona pariwisata Thailand. Sehingga tak heran perhatian pemerintah setempat begitu besar terhadap pembangunan di propinsi ini.

Seorang wanita tua bertubuh subur tampak keluar dari rumah. Ternyata ia adalah Mak Cik (Tante)-nya Khosim pemilik rumah ini. Aku dan Bedul diperkenalkan dengan Mak Cik. Mak Cik cukup fasih berbahasa Melayu ternyata. Ia pernah tinggal di Malaysia selama beberapa tahun. Sekarang Aku mengerti kenapa Khosim membawaku ke sini. Ia butuh penerjemah.

Setiap aku berucap sesuatu kepada Mak Cik, Khosim selalu penasaran dan meminta Mak Cik untuk mengartikannya dalam Bahasa Thailand. Begitu juga saat Khosim hendak menyampaikan sesuatu, Ia meminta bantuan Mak Cik untuk menyampaikannya kepadaku.

Bedul tampak mulai meringis mengelus perut berbisik pelan mengisyaratkan bahwa ia sedang lapar. Tak lama kemudian hidangan nasi minyak dan es the manis mendarat di meja kami sebanyak 3 porsi. Tampilan nasi minyak sedikit mirip dengan nasi uduk. Hanya saja taburan beberapa irisan daging seukuran stik kentang goreng menjadi pembedanya. Ditemani dengan sup pada sebuah mangkuk kecil sebagai pelengkap. Nasi minyak ini rasanya ada kesan rasa nasi pulut. Sangat nikmat.

Usai santap pagi, Khosim langsung menyerahkan lembaran baht sebesar 150 baht kepada Mak Cik. Aku sempat mencegahnya. Namun ia memaksa hingga uang tersebut berpindah ke tangan Mak Cik. Khosim bersama temannya mengantarkan kami ke pelabuhan tempat bersandarnya kapal wisata menuju Pulau Phi-phi. Saat sedang melaju di atas motor aku merasa ada yang kurang. Ternyata jaketku tertinggal di rumah Mak Cik. Aku bingung bagaimana menjelaskannya kepada Khosim karena terkendala bahasa. Akhirnya aku tepuk pelan bahunya sambil berucap “Makcik.. Makcik..,” dengan bantuan isyarat tangan yang aku arahkan ke belakang. Khosim memutar balik motornya. Bedul yang berada di belakang turut mengikuti.

Kami tiba di pelabuhan wisata Phuket yang dinaungi sebuah bangunan di dekatnya. Di salah satu sudut bangunan tersebut yang terlihat terbuka tanpa sekat tembok hanya beberapa tiang sebagai penyangga, Aku dan Bedul membeli tiket tur ke Pulau Phi-phi. Si penjual tiket memberi harga 1.200 baht, namun setelah melakukan penawaran kami dikasih harga 1.000 baht.

Kapal wisata masih menanti waktu lepas sauh tiba. Aku dan Bedul menyempatkan menghampiri Khosim yang masih duduk tak jauh. Bercengkerama semampunya. Semampu gerakan tubuh dan bahasa hati. Khosim memperlihatkan sebuah foto balita perempuan mengenakan hijab dari telepon genggamnya. Anak semata wayangnya. Tampaknya banyak hal yang ingin diungkapkannya kepada kami. Namun apa daya bahasa tak sampai. Aku menyodorkan lembaran baht kepadanya atas segala pengorbanan yang telah ia lakukan. Ia menolak dan tetap menolak meski beberapa kali disodorkan. Ia mengatakan melakukan semua itu karena Allah SWT sambil berucap, “Lillaahita’ala”. Kami berpelukan sebelum berpisah.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2015 in Backpacker

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: