RSS

Kehidupan Malam di Khaosan

18 Aug

Kota Bangkok tidak ada bedanya dengan Jakarta soal kemacetan. Bis yang aku naiki sejak dari Chatuchak menuju Khaosan masih saja melambat di tengah perjalanan. Penuh sesak oleh kendaraan para pekerja yang pulang dari kantor. Hari semakin remang. Petang menjelang. Hingga tertutup oleh selimut kegelapan malam. Aku masih terduduk di salah satu bangku dalam bis. Sambil meraba-raba posisi keberadaanku melalui google maps di gadget.

Tepat jam 7 malam bis melintasi dan berhenti sesaat di Khaosan. Aku dan beberapa penumpang lainnya turun dari bis. Ini kali pertama Aku menjejaki Khaosan. Seorang diri. Hiruk pikuk mulai terlihat saat malam tiba di kawasan para turis ini. Orang-orang seakan baru bangun ‘pagi’ untuk menghidupi malam di daerah penuh gemerlap ini. Aku berjalan menjejali jalanan Khaosan yang semakin meriah mencari penginapan.

Ya, Aku masih terlantar di jalanan Khaosan karena belum mendapatkan tempat untuk bermalam. Sebagaimana rekomendasi dari searching intternet mengenai penginapan yang bagus untuk seorang backpacker, Aku mencari Lucky Hostel. Penginapan hemat di pusat kawasan Khaosan. Mujur, tak jauh dari tempat pemberhentian bis tadi. Posisi Lucky Hostel berada pada jalur yang sama dengan jarak 300 meter.

Posisi penginapan ini, meski berada tak jauh dari pusat turis berkumpul, namun terkesan seperti berada di sudut tepi. Jika menuju arah berlawanan, aroma hingar bingar para wisatawan akan semakin jarang terlihat. Lucky Hostel ini memang sangat strategis. Tak salah menjadi salah satu rekomendasi tempat menginap.

Tarif kamar per malam dipatok 400 baht dengan tipe kamar single. Tidak terlalu luas memang. Tetapi cukup nyaman untuk ditempati. Fasilitas AC dan kamar mandi yang nyaman cukup melegakan. Sejenak Aku beristirahat sebelum berkeliaran keluar menuntaskan rasa penasaran tentang kehidupan malam di Khaosan.

Usai membersihkan diri, Aku bersiap mencari makan malam sembari menjejali sudut-sudut Khaosan melihat kemeriahan di malam hari. Jalanan Khaosan dipenuhi para turis berparas bule. Pada salah satu jalan yang bebas dari kendaraan, terlihat cafe dan restoran dengan ragam desain dan arsitektur menarik menjamuri di sisi kiri kanan jalan. Ramai pengunjung duduk di dalamnya. Entah sekedar minum-minum sambil bercengkarama atau mengisi perut dengan santapan malam yang tersedia. Mulai dari pengunjung yang berkelompok, tak sedikit juga yang duduk seorang diri sambil mengamati hiruk pikuk pejalan kaki. Namun Aku tidak menyentuh salah satu cafe yang ada.

Para penjaja ala gerobak di tempatkan khusus pada ujung jalan. Aneka jajanan mulai dari gorengan khas Thailand hingga potongan buah-buahan tersedia di sana. Namun perlu berhati-hati bagi pengunjung yang terlarang terhadap makanan tertentu. Terdapat tulisan ‘pork’ pada menu jajanan tersebut. Yang berarti makanan tersebut mengandung daging Babi.

Aku terus membebaskan kaki melangkah kemana saja di area Khaosan ini. Sembari bertanya tentang keberadaan halal food pada warga sekitar. Seorang warga yang mengetahuinya memberikan arahan jalan kepadaku untuk menuju tempat makan tersebut yang bernama Sarah Restaurant.

Cukup sulit untuk menemukan keberadaan Sarah Restaurant ini. Posisinya agak masuk sekitar 20 meter dari bahu jalan utama. Sebuah plang bertuliskan Sarah di bahu jalan tersebut berbaur dengan banyak plang lainnya. Sehingga sedikit terganggu untuk mendeteksinya.

Suasana di restoran ini cukup tenang. Pancaran udara dingin dari AC yang menyala mampu melenyapkan rasa lelah setelah berjalan kaki. Namun sepi pengunjung di dalamnya. Hanya aku seorang diri. Mungkin kedatanganku memang bukan pada waktu favorit pengunjung.

Seorang wanita paruh baya tampak sedang mengupas sayur di meja depan duduk bersama anaknya yang sedang menikmati acara televisi. Wanita berparas Thailand itu merupakan pemilik restoran ini. Uniknya sang anak memiliki wajah orang Arab. Setelah sedikit mengulik informasi ternyata wanita tersebut bersuamikan orang Timur Tengah. Ia adalah warga asli Thailand yang menjadi seorang mualaf. Sang anak terlihat unik ketika berbicara dengan Bahasa Thai yang fasih dibungkus fisik Arab-nya yang dominan. Anak ini juga fasih berbahasa Inggris.

Aku memesan nasi goreng dan segelas the manis hangat. Rasanya sungguh memikat. Sepertinya tak berlebihan jika Aku mengatakan nasi goreng Thailand ini memiliki rasa yang khas. Membuat candu untuk menambah kembali. The manis hangat yang Aku pesan pun tampil berbeda. Di atasnya diletakkan setangkai daun mint. Sedikit heran. Namun ketika mencobanya ternyata mampu membuat segar tenggorokan. The dengan rasa mint. Sedap!

Setelah selesai mengisi perut, Aku kembali berjalan menyisir jalanan Khaosan menuju hostel. Malam semakin larut. Meski hingar bingar kehidupan malam semakin semarak, namun Aku memilih mengistirahatkan tubuh di penginapan. Mempersiapkan energi untuk eksplorasi Kota Bangkok esok hari.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2015 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: