RSS

Laos Rasa Timur Tengah

18 Aug

Bla bla bla Vientiane! Ibukota Laos yang memiliki wajah kota nan sederhana. Posisinya persis terletak di perbatasan dengan negara Thailand. Pertama kali menembus Laos dari Thailand maka akan langsung menjejaki ibukota negaranya, Vientiane. Tidak seperti beberapa negara di kawasan Asia Tenggara lainnya yang ibukota negaranya tidak menyentuh perbatasan.

Vientiane merupakan bekas jajahan oleh Perancis. Sehingga beberapa kebiasaan di negara setempat meng-copy dari negara yang pernah menguasainya. Salah satunya adalah lajur jalan bagi kendaraan. Jika di Indonesia terbiasa menggunakan sisi kiri sebagai lajur jalan. Maka Laos sebaliknya, menggunakan sisi kanan. Sehingga harus diperhatikan bagi petualang asal Indonesia yang menggunakan kendaraan pribadi jika hendak menembus Laos. Agar tidak kebingungan saat harus berhadapan dengan lajur yang tak lazim.

Aku menggunakan Tuk-tuk dari imigrasi Laos menuju pusat kota. Kendaraan ini sedikit mirip dengan bemo. Tarif per orang dipatok sebesar 100 baht. Ya, warga di perbatasan negara ini masih memperbolehkan untuk bertransaksi dengan mata uang negara tetangganya, Thailand. Sementara mata uang Laos adalah kip. Nilai nominal kip setara dengan rupiah. 5 ribu kip sama dengan 5 ribu rupiah.

Jalanan di Kota Vientiane dipenuhi debu. Pasir yang menggenangi di bahu jalan menimbulkan debu yang beterbangan setiap kali dilintasi oleh kendaraan. Ibukota negara ini terkesan sederhana. Berbeda jauh dengan Thailand yang sedang giat-giatnya memoles diri menjadi sebuah negara maju. Jalan alternatif yang terdapat di beberapa bahu jalan utama masih ada yang belum tersentuh aspal.

Tuk-tuk berhenti di sisi jalan yang terletak tak jauh dari terminal bis. Aku berjalan sekitar 50 meter menuju terminal tersebut. Ya, ini memang tujuanku selanjutnya sebagaimana yang Aku katakan kepada pengemudi Tuk-tuk tadi. Aku hendak mencari informasi mengenai bus langsung menuju Hanoi, Vietnam.

Terminal ini terlihat sederhana. Terbuka tanpa sekat. Hanya seluas lapangan tenis. Aku semakin curiga. Bentuk terminal yang sepertinya tidak mungkin melayani keberangkatan internasional. Kemudian bertanya pada orang di sekitar. Orang yang Aku tanyai tersebut mengatakan bahwa terminal ini hanya melayani tujuan antar kota saja. Benar dugaanku.

Aku melupakan sejenak kecerobohan itu. Sekarang ingin mencari keberadaan Morning Market saja dulu. Sebuah pusat perbelanjaan yang di dialamnya terdapat toko kain milik Pedagang Pakistan yang Aku temui saat di Nongkhai. Sebagaimana yang diinformasikannya, bahwa toko kain miliknya bernama Laila. Aku mulai menelusuri mencari toko tersebut.

Beberapa pedagang sekitar menjadi sumber informasiku. Kendala bahasa membuat Aku harus kreatif dalam berkomunikasi. Wajah Pedagang Pakistan yang khas Arab memudahkan Aku untuk memberitahu ciri-cirinya. Aku katakan saja dengan beberapa kata yang familiar seperti ‘Pakistan’ sambil tanganku mengisyaratkan ke wajahku.

Aku menelusuri koridor depan toko sesuai dengan informasi dari warga. Saat mulai kebingungan Aku bertanya kembali kepada warga. Mataku senantiasa awas memandang papan nama toko yang terpajang di depan setiap toko. Hingga terbaca olehku dari kejauhan tulisan ‘Laila’. Wohoo! Akhirnya ketemu juga.

Seorang wanita paruh baya berwajah Arab tampak duduk di dalam toko tersebut. Aku bertanya kepadanya untuk meyakinkan kalau ini adalah benar toko milik Pedagang Pakistan yang Aku temui tadi. Ya, benar. Wanita itu adalah istri si Pedagang Pakistan itu.

Sembari menanti kedatangan Pedagang Pakistan, yang kata istrinya masih di dalam perjalanan, Aku mencari pengganjal perut pagi hari. Aku menuju lantai tiga di pusat perbelanjaan kawasan Morning Market ini. Sebagaimana informasi dari istri si Pedagang Pakistan itu, terdapat sajian makanan halal di lantai atas.

Setibanya di lantai tiga, Aku melihat sebuah label halal yang di dalamnya terdapat seorang pekerja berparas India. Menu-menu khas India tertera di daftar menu. Aku memesan Nasi Biryani dan Masala Tea. Tentu saja bukan teh bermasalah. Melainkan Teh Tarik. Porsi Nasi Biryani cukup mengenyangkan. Ditemani dengan paha ayam goreng yang dilumuri kuah kari sebagai lauk.

Usai mengisi perut Aku kembali ke toko milik Pedagang Pakistan. Istrinya memberitahu bahwa Aku disuruh berada di sini pada pukul duabelas siang nanti. Karena akan diajak untuk sholat Jumat bersama Pedagang Pakistan itu. Aku lirik jam di layar telepon genggam. Masih tersisa dua jam. Bosan juga jika harus duduk menanti di toko ini. Aku manfaatkan waktu yang tersisa untuk jalan-jalan di sekitar. Melihat sepotong wajah kota Vientiane.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2015 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: