RSS

Malam Pertama di Hanoi

18 Aug

Penampakan kota terlihat semakin modern. Bundaran jalanan tol yang disirami cahaya kuning lampu jalan tampak dari kejauhan. Beberapa gedung bertingkat mulai terlihat berdiri kokoh. Jarum jam hampir mendekati angka tujuh malam. Aku tiba di Hanoi.

Bus memasuki terminal. Para pengemudi taksi tampak telah bersiaga mencari penumpang. Aku mencari taksi bersama Hung. Kebetulan ia akan melewati jalur yang sama denganku. Sebelumnya Aku ceritakan kepadanya bahwa akan bermalam di kawasan Old Quarter. Sebuah kawasan terkenal bagi wisatawan di kota Hanoi.

Taksi di Hanoi berbentuk mini. Sedikit mirip mobil sedan pada komedi Mr. Bean yang sangat fenomenal itu. Seorang pengemudi taksi muda berusia sekitar duapuluhan tahun membawa kami. Taksi membelah kota Hanoi yang terlihat semarak di malam hari. Pusat perbelanjaan tampak dipadati pengunjung. Taksi yang Aku naiki akhirnya melintasi kawasan Old Quarter.

Hung bertanya kepadaku hendak menginap dimana. Aku katakan kepadanya akan berhenti pada penginapan mana saja yang terlintas. Terlihat olehku penginapan bertuliskan Hanoi Central Backpacker. Penginapan berbentuk ruko. Aku turun sejenak dari taksi. Mencari tahu terlebih dahulu apakah tersedia tempat yang kosong. Seorang resepsionis wanita menyambutku dengan logat Inggris yang sedikit cadel. Wanita imut berambut panjang itu mengatakan bahwa masih tersisa tempat menginap untukku. Alhamdulillah lega.

Aku kembali menuju taksi. Berpamitan pada Hung. Saat hendak memberikan ongkos taksi, ia menolaknya. Terimakasih Hung. Semoga kelak bisa berjumpa lagi. Tak jarang memang bantuan-bantuan tak terduga semacam ini aku dapatkan. The power of pergi traveling sendirian lah istilahnya.

Aku memasuki hostel. Kamarku berada di lantai tiga. Meski hostel ini berbentuk ruko, namun fasilitas di dalamnya tidak sembarangan. Ada lift! Sementara tarif per malamnya hanya membayar USD 5. Ya, kamar yang akan aku tempati memang berbentuk dormitori. Dalam satu kamar ada empat tempat tidur tingkat atau setara dengan delapan orang penginap. Tetapi fasilitasnya sungguh nyaman.

Selain hawa ruangan yang sejuk karena AC, tempat tidurnya pun empuk dilengkapi dengan selimut tebal yang sangat pas untuk menetralkan hawa tubuh dari geliat dinginnya AC. Kamar mandi bersih didesain menarik layaknya hotel berbintang.

Yak, betul sekali. Ini adalah tempat menginap pertama sejak awal perjalananku melewati tiga negara sebelumnya yang hanya menginap di dalam bus perjalanan malam. Hostel pertama yang tidak mengecewakan. Meski dengan sistem go show, yaitu mendapatkan hostel tanpa pesan online terlebih dahulu alias langsung pesan di tempat, tetapi yang didapat justru hostel yang ternyata sangat direkomendasikan oleh para traveler. Lagi-lagi pejalan sendirian sepertiku ini mendapatkan kemudahan. Lucky me.

Di dalam kamar ada beberapa penginap yang menempati tempat tidurnya masing-masing. Semua berwajah bule. Aku menyapa seseorang yang menempati di samping tempat tidurku. Namanya Brandon. Ia merupakan seorang traveler asal California. Sama sepertiku, ia pun berpetualang seorang diri. Rencana perjalanannya setelah ini adalah melanjutkan menuju Tiongkok melalui jalur darat yang hanya ditempuh selama 6 jam dari Hanoi. Lalu menuju Hongkong.

Sementara di atas tempat tidurku ditempati traveler asal Kanada. Dan di bagian atas lainnya tampak traveler yang sedang tertidur pulas entah darimana.

Aku membersihkan diri di kamar mandi. Selanjutnya kembali menuju meja resepsionis untuk menanyakan paket tur ke Halong Bay. Harga tiket untuk seharian tanpa menginap dipatok sebesar USD 25. Sedangkan jika hendak menginap semalam di dalam kapal yang memang menyediakan kamar layaknya hotel harus membayar USD 60. Aku membeli paket seharian saja.

Ternyata Brandon, traveler yang sekamar denganku juga membeli paket tur yang sama. Kami akan ke Halong Bay bersama besok.

Saatnya makan malam. Sepanjang perjalanan dari Vientiane perutku belum menyentuh makanan berat. Hanya sekedar roti berisikan saos sambal. Fasilitas internet gratis di hostel ini aku manfaatkan untuk mencari lokasi tempat makan halal. Setelah berselancar melalui Google, akhirnya ketemu juga restoran yang dicari. Aku tanyakan kepada resepsionis letak jalan tempat restoran tersebut. Ia memberikanku selembar kertas besar yang berisikan peta lokasi Old Quarter. Kemudian menandai jalan yang harus aku lalui. Sangat terbantu sekali menginap di sini.

Malam pertama di Hanoi. Bertepatan dengan malam Minggu. Jalanan dipenuhi kendaraan bermotor yang diteriaki oleh klason yang saling bersahutan. Ramai sekali. Aku terus berjalan menyusuri trotoar di pinggir ruko. Meraba-raba jalan sambil melihat peta. Sesekali Aku tanyakan kepada warga Hanoi yang ketemu di jalan. Orang Hanoi di sini sangat welcome dengan turis. Mereka terlihat antusias membantu saat ada turis yang bertanya. Memang kawasan ini selain disesaki warga Hanoi, juga dipenuhi oleh para traveler dari berbagai belahan penjuru bumi.

Akhirnya restoran yang Aku cari ketemu. Tandoor Restaurant. Adalah milik warga India. Di depannya terdapat label halal. Posisinya berada di antara deretan ruko. Namun didesain lebih elegan. Aku menuju lantai atas. Seorang pelayan menghampiriku sambil menyodorkan daftar menu yang menyerupai album foto. Aku memesan hidangan yang berbau nasi. Nasi Biryani dan Teh Vietnam menjadi pilihan menuku malam ini.

Nasi Biryani disajikan dalam sebuah panci berbentuk mini. Berwarna kuning mirip nasi tumpeng. Hanya saja bentuk nasinya panjang-panjang. Paduan rempah-rempah menyatu menjadi bumbu di dalam nasi ini. Enak sekali. Kemudian segelas teh vietnam disajikan dalam sebuah gelas kecil beralas piring mini. Warna tehnya terlihat agak bening. Aku penasaran untuk mencicipinya. Huek! Rasanya sungguh pahit. Mungkin karena belum ditambah gula, pikirku. Setelah ditambah pemanis rasanya tetap saja pahit. Sudahlah, aku beralih ke air mineral saja.

Usai sudah kebutuhan perutku terpenuhi. Cukup mengenyangkan. Aku kembali menuju hostel. Sambil meraba-raba jalan sebagaimana perjalanan pergi tadi. Melewati sebuah danau yang romantis. Dipenuhi cahaya lampu berwarna-warni di tepian danau tersebut sehingga tampak menarik. Warga Hanoi memadati setiap sudut jalan. Penuh sesak. Aku terus berjalan kembali ke hostel.

Tiba-tiba terasa asing dengan jalan yang aku lalui. Seperti bukan jalan yang aku lewati tadi. Aku salah jalan ternyata. Kembali aku melirik ke peta. Meraba-raba arah jalan pulang. Berbalik arah sambil mataku memandang awas. Ya, itu bangunan unik tadi yang aku hapalkan sebagai penanda jalan. Aku menuju arah bangunan tersebut. Dan akhirnya sampai ke hostel tempat aku menginap. Fiuh.

Ah, lelah sekali. Setelah menghabiskan waktu di perjalanan selama 24 jam di dalam bus. Lelah bercampur nikmat. Kasur nan empuk menggodaku untuk segera melabuhkan diri dalam mimpi indah. Hawa dingin di dalam kamar seketika menjadi hangat dengan balutan selimut tebal yang menutupi tubuhku. Nikmatnya. Zzz..zzz…zz

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2015 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: