RSS

Melintasi Nongkhai

18 Aug

Kunjungan di Bangkok akan segera berakhir. Sambil menggendong ransel Aku bergegas untuk memasuki bis. Seorang pramugari bis berseragam rapi bak pramugari pesawat menyambut satu per satu penumpang yang menaiki bis. Setiap penumpang yang masuk selalu ditanya kemana kota tujuan. Tiba giliranku, sang pramugari tersebut bertanya dengan dua bahasa. Begitu tahu Aku bukan orang Thailand ia segera mengganti dengan menggunakan Bahasa Inggris. Mendengar pertanyaan yang dilontarkannya Aku pun segera merespon, “Nongkhai!”.

Bis yang aku naiki ini akan membawa menuju Nongkhai, Thailand. Sebuah kota di perbatasan dengan negara Laos. Jarak tempuh akan memakan waktu selama 8 jam perjalanan. Seperti biasa, sengaja Aku pilih keberangkatan pada malam hari agar tiba di tujuan sudah menjelang pagi. Sang Pramugari tadi membagi-bagikan makanan dan snack kepada setiap penumpang. Pramugari tersebut merupakan seorang lady boy. Ya, seorang pria berwujud wanita. Awalnya Aku sedikit khawatir. Namun ternyata Ia sangat ramah. Sebungkus nasi, beberapa snack, dan sebotol air mineral menjadi santapanku di dalam bis. Hanya nasi saja yang tidak ku sentuh karena khawatir akan jaminan kehalalannya.

Tepat pukul 8 malam bis beranjak meinggalkan Bangkok. Sang supir membawa dengan laju. Bak seorang pebalap profesional. Sempat jantungan dibuatnya. Namun tak beberapa lama mataku mulai terpejam. Terlelap dalam tidur. Rasa capai selama seharian membuatku tidak sulit untuk bergegas menuju alam mimpi. Meski di dalam bis yang sedang melaju kencang. Semoga semua baik-baik saja, harapku dalam hati.

Aku terbangun. Bis telah tiba di terminal bis Nongkhai. Semua penumpang turun. Suasana terminal sedikit mirip dengan terminal bis di Phuket. Terbuka tanpa sekat. Cukup ramai orang di dalamnya. Mereka hendak menunggu pagi untuk melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya. Lebih tepatnya, negara selanjutnya, Laos, yang hanya berjarak sekitar 15 menit dari sini.

Suasana hening. Terkesan sepi oleh ketenangan subuh. Beberapa ada yang melanjutkan tidur di kursi ruang tunggu terminal ini. Aku meraba-raba waktu subuh tiba. Mencoba bertanya keberadaan Masjid terdekat. Ya, Aku tahu Islam sangat minoritas di sini. Tidak gampang untuk mencari fasilitas ibadah seperti Masjid. Tetapi tidak ada salahnya mencoba bertanya walau hasilnya nihil.

Tampak olehku seseorang berwajah Arab yang duduk di kursi seberang sana. Mungkin ini jawaban dari kegelisahanku untuk bisa menunaikan Sholat Subuh. Aku hampiri orang tersebut. Seorang pria paruh baya. Aku tanyakan kepadanya perihal Masjid. Ia mengatakan bahwa jarak Masjid cukup jauh dari sini. Ia menawarkan untuk menggunakan sajadah miliknya. Ia membantu membentangkan sajadah untuk menunjukkan arah kiblat. Usai berwudhu, aku segera melaksanakan Sholat Subuh di tengah-tengah terminal ini. Bergantian.

Pria tersebut merupakan warga Laos keturunan Pakistan. Ia baru saja tiba dari Pakistan bersama seorang keponakan laki-lakinya yang berusia sekitar 20 tahun. Ayahnya berdarah Pakistan, sedangkan ibunya adalah warga asli Laos. Namun keluarganya memilih menetap di negara sederhana itu.

Ia membuka usaha di salah satu toko di kawasan pasar terkenal di Laos, Morning Market. Berdagang kain dan pakaian sebagaimana orang keturunan Arab pada umumnya. Ia menawarkan kepadaku untuk mampir ke tokonya setibanya di Laos nanti. Perjalanan ke Laos terpaksa memisahkan Aku dan Pedagang Pakistan itu karena permasalahan visa yang harus Aku buat terlebih dahulu.

Keponakannya menyuguhkan the hangat yang dibelinya di warung terminal kepada kami yang sedang berbincang. Pagi terus beranjak. Perlahan kegelapan memudar. Remang-remang cahaya pagi sedikit mulai tersingkap. Loket penjualan tiket mulai menampakkan aktifitasnya. Orang-orang mulai berbaris antri di depan loket tersebut. Mereka hendak melintas batas negara menuju Laos.

Pedagang Pakistan itu membantuku mencari tahu kepada petugas loket terkait tujuanku yang akan menembus Laos. Kemahirannya dalam berbahasa setempat sungguh memudahkanku untuk mendapatkan informasi. Menurut informasi yang ia dapat, Aku disarankan untuk langsung menuju imigrasi perbatasan Thailand dan Laos. Dengan menggunakan Tuk-tuk Aku segera menuju perbatasan. Tuk-tuk yang aku naiki ini dicarikan olehnya dengan harga yang telah dilakukan penawaran sebelumnya.

Pagi belum memancarkan kecerahan. Supir Tuk-tuk membawaku seorang diri menembus dinginnya pagi di Kota Nongkhai. Belum tampak akitiftas warga setempat. Hanya jalanan sepi dan dingin yang kurasakan. Tak berselang lama, Tuk-tuk tiba di imigrasi perbatasan Thailand dan Laos.

Pagi semakin terang. Beberapa orang tampak hendak melakukan perjalanan serupa. Sebuah bis perbatasan terlihat mondar-mandir. Bis ini beroperasi hanya untuk mengantarkan penumpang dari imigrasi Thailand menuju imigrasi Laos di perbatasan. Sejenak Aku mengabadikan foto-foto di sekitar imigrasi yang tampak bersih ini. Usai melakukan pemeriksaan paspor Aku beranjak beberapa langkah untuk menanti bis perbatasan. Tarif menggunakan jasa bis ini dikenakan 20 baht per orang.

Bis yang Aku nanti telah tiba. Hanya beberapa penumpang saja yang naik ke dalamnya. Didominasi oleh wajah-wajah berparas bule. Mereka adalah pelancong sepertiku juga. Dari imigrasi Thailand bis berjalan melintasi jembatan yang membelah Sungai Mekong. Ah, nama sungai ini sungguh tidak asing di telingaku. Pernah aku pelajari pada pelajaran Geografi semasa duduk di bangku Sekolah Dasar. Dulu hanya berupa imajinasi di dalam kepala. Namun sekarang nyata terlihat di hadapanku. Aku semakin percaya dengan makna mimpi sesungguhnya.

Dua menit kemudian bis tiba di imigrasi Laos. Ya, jarak perbatasan Thailand-Laos ini memang tidak jauh. Hanya dipisahkan oleh aliran Sungai Mekong. Aku turun beserta penumpang lainnya. Penampakan imigrasi Laos terlihat lebih sederhana. Namun tetap bersih. Mungkin baru saja disapu oleh petugas kebersihan.

Aku turut berbaris antri dengan para pelancong bule lainnya di depan loket yang masih tutup. Tiba-tiba seseorang menghampiriku. Warga Laos yang parasnya tak jauh berbeda dengan ras Melayu. Pemuda itu menanyakan asal negaraku. Wajahku yang terkesan khas Melayu membuatnya yakin bahwa Aku berasal dari rumpun negara yang berdekatan.

Aku diarahkan olehnya untuk mengikutinya menuju tempat pemeriksaan paspor. Namun masih tetap ragu karena Aku belum membikin visa. Kuserahkan paspor kepada petugas imigrasi. Beberapa saat ia mengamati paspor milikku. Harap-harap cemas Aku menanti. Cop! Akhirnya sang petugas melayangkan stempel izin masuk ke negaranya tanpa visa. Ya, tanpa visa.

Aku baru tahu kalau warga Indonesia telah dibebaskan dari visa untuk memasuki Laos. Biaya pembuatan visa untuk mengakses ke Laos yang kuketahui sebesar USD 25 Aku kantongi kembali. Bekal untuk perjalanan selanjutnya. Alhamdulillah.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2015 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: