RSS

Nasib Rupiah di Laos

18 Aug

Kota Vientiane tidak semegah Bangkok atau Jakarta. Jika dibandingkan, setara dengan kota Malang atau Palembang. Namun, beberapa gedung tinggi tetap tak luput dari wajah sebuah ibukota negara. Hanya saja tidak semenjulang sebagaimana gedung-gedung pencakar langit di Jakarta.

Aku meninggalkan kawasan Morning Market. Tampak di seberang jalan sebuah ruko kecil tempat penukaran uang yang berdiri terpisah di depan sebuah rumah. Tidak berjejer menempel sebagaimana ruko pada umumnya. Aku ingin mengubah persediaan rupiah ke mata uang negara setempat terlebih dahulu. Beberapa lembar rupiah Aku sodorkan kepada petugas Money Changer. Beberapa menit Aku menanti. Ia meninggalkan kursi kerjanya sejenak. Sepertinya Ia jarang melihat rupiah.

Tak lama kemudian petugas Money Changer itu kembali duduk di kursi kerjanya. Ia memberitahukan kepadaku bahwa uang yang Aku sodorkan tadi tidak bisa ditukar. Baiklah. Mungkin Ia sedang tidak memiliki stok rupiah, pikirku. Aku kembali berjalan mencari tempat penukaran uang lainnya. Ternyata beberapa Money Changer pun melakukan hal yang sama. Rupiahku tetap belum bisa terganti. Aku semakin khawatir. Bagaimana seandainya rupiah ini benar-benar tidak bisa ditukar.

Aku kembali ke toko milik Pedagang Pakistan tadi. Mencoba bertanya kepada istri Pedagang Pakistan terkait rupiahku yang tidak bisa ditukar. Barangkali Ia tahu tempat penukaran uang yang bisa menerima mata uang rupiah. Ia menyarankanku untuk menuju sebuah bank milik negara Malaysia. Setelah Ia menyebutkan nama bank yang harus Aku datangi kemudian bergegas Aku menuju ke sana.

Lokasinya tidak jauh dari Morning Market. Kawasan ini memang khusus dipenuhi oleh berbagai bank dengan gedung-gedung besar. Sebelum menemukan bank yang Aku cari, terlebih dahulu Aku hampiri bank-bank yang ada fasilitas penukaran mata uang asing. Iseng-iseng berhadiah. Namun tetap saja belum ada kabar baik. Bank-bank itu tetap kekeuh tidak menerima penukaran rupiah.

Bank milik negara tetanggaku, Malaysia, pun sudah di depan mata. Aku berpikir optimis. Sebagai negara yang berdekatan seharusnya bank ini memiliki stok rupiah. Aku masuk menaiki tangga yang langsung menuju lantai dua bank tersebut. Aku berikan lembaran rupiah kepada petugas bank. Ia mengambilnya kemudian pergi meninggalkanku sesaat. Harap-harap cemas. Lalu petugas itu kembali menghampiriku. Ia memberikanku mata uang yang sama! Rupiah itu kembali lagi ke tanganku. Tidak bisa ditukar.

Sejenak Aku lupakan permasalahan ini. Aku hanya bisa pasrah. Meyakinkan diri bahwa akan ada jalan keluar. Berpikir bagaimana bisa mendapatkan mata uang negara setempat demi kelangsungan perjalanan yang masih panjang ini. Ingatakanku tertuju pada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di ibukota negara ini. Ada secercah harapan.

Tiba-tiba Aku teringat persediaan dolar Amerika yang sempat ditukar saat di Batam. Selembar dolar bernilai tiga digit. Ada seratus dolar di dalam ranselku. Jujur saja Aku tidak pernah terpikirkan tentang dolar penyelamat ini sampai masalah pelik ini Aku hadapi. Aku cek di dalam salah satu kocek ransel. Alhamdulillah.

Selembar dolar ini Aku tukarkan sebagian dengan mata uang negara setempat. Sisanya tetap Aku bertahankan sebagai dolar untuk berjaga-jaga saat memasuki Vietnam nanti. Selanjutnya Aku menuju salah satu sisi mal untuk menanti kehadiran Pedagang Pakistan yang akan mengajakku sholat Jumat bersama. Matahari bersinar terik. Lalu lintas kendaraan terlihat ramai. Tak lama berselang, sebuah mobil sejenis Pajero berhenti di hadapanku. Wajah tak asing keluar dari jendela tersebut.

Pedagang Pakistan itu memberikan aba-aba kepadaku untuk masuk ke dalam mobilnya. Ia berdua dengan seorang keponakannya. Bukan Same yang Aku jumpai saat di terminal Nongkhai. Melainkan abangnya yang bernama Shahab berparas Arab dan berpostur besar khas orang Arab. Ia pernah mengenyam pendidikan tinggi di Malaysia. Sehingga sedikit fasih berbahasa Melayu.

Lokasi Masjid tidak seperti di negara-negara mayoritas Muslim. Akan sangat lelah jika ditempuh dengan berjalan kaki. Jumlah Masjid di Vientiane dapat dihitung dengan jari. Mobil mulai mencari posisi untuk tempat parkir di sisi jalan yang masih bertanah merah. Tidak terlihat tanda-tanda Masjid olehku. Harus masuk ke dalam sejauh 50 meter hingga tampak sebuah Masjid sederhana berlantai dua yang sepertinya sudah cukup tua.

Satu per satu jamaah memasuki Masjid. Tiba-tiba seorang pria paruh baya menyapaku. Dengan bahasa yang sangat familiar di telingaku. Sepertinya ia sangat paham kalau Aku berasal senegara dengannya. Pak Azhar namanya. Pensiunan KBRI di Laos menetap di negara tersebut. Setelah Aku memperkenalkan diri, ia mulai sedikit curhat mengapa tetap memilih tinggal di Vientiane meski sudah pensiun.

Pak Azhar menikahi seorang wanita Laos. Hidup mereka berjalan mulus hingga memiliki dua orang anak perempuan yang sudah beranjak dewasa. Namun takdir berkata lain. Sang Istri yang sempat menjadi mualaf, kembali ke keyakinan semula. Mengingat anak-anak yang merupakan darah dagingnya memilih tinggal di Vientiane sehingga membuat ia memutuskan untuk tetap berada bersama kedua buah hatinya.

Sholat Jumat telah usai. Aku dan Pedagang Pakistan kembali menuju mobil. Perjalanan selanjutnya menuju terminal bus. Ya, setelah nyasar di terminal yang salah sebelumnya, kali ini Aku diantar langsung oleh warga asli Laos menuju terminal bus yang memiliki keberangkatan menuju Vietnam. Tepatnya menuju kota Hanoi.

Ada saja hal-hal tak terduga selama berkelana. Berbagai kemudahan Aku dapatkan. Sampai diantar menuju terminal bus yang menjadi salah satu titik tujuanku. Sebelum ke terminal, terlebih dahulu kami mampir di kantor KBRI di Laos. Mencoba menukar rupiah yang tersisa. Barangkali ada solusi di sini. Namun KBRI masih tutup. Sedang istirahat siang tampaknya. Mengingat waktu yang terus mengejar, akhirnya Aku membatalkan mampir ke KBRI.

Kami tiba di terminal bus Vientiane. Suasana terminal tampak belum terlalu ramai siang ini. Tampak bus-bus berjejer rapi di halaman beralas tanah yang terhampar luas. Pedagang Pakistan memasuki salah satu bus untuk melakukan negosiasi harga tiket. Akhirnya didapat tarif sebesar USD 25. Petugas bus menerima dolar sebagai alat pembayaran mengingat pasokan kip-ku yang tidak mencukupi. Kemudian dikembalikannya dengan lembaran dong, mata uang Vietnam, sebagaimana permintaanku untuk digunakan saat tiba di Hanoi.

Bus berangkat jam 7 malam nanti. Masih tersisa waktu sekitar 5 jam. Sebelum berpamitan dengan Pedagang Pakistan Aku menyempatkan berfoto sejenak sebagai bukti kenangan. Ia memberikan kepadaku bekal berupa roti baguette. Roti ini dijual hampir di tiap sudut kota Vientiane. Roti besar sepanjang tangan orang dewasa khas Laos. Kami berpisah. (Makasih laos) Pedagang Pakistan.

Sisa waktu beberapa jam sambil menanti keberangkatan bus ini Aku manfaatkan untuk menjejaki sebagian kota Vientiane dengan menggunakan transportasi massal bernama Tuk-tuk. Tuk-tuk Aku pilih secara acak. Tak tahu entah kemana tujuannya. Sambil meraba-raba kemana saja arah belokannya. Namun Aku tidak berani menuju lebih jauh lagi. Tidak mau mengambil resiko mengingat tiket menuju Hanoi akan berlaku beberapa jam lagi.

Saat melintasi sebuah warnet Aku mampir sejenak. Memanfaatkannya sebagai alat komunikasi dengan kerabat di tanah air. Memberikan kabar tentang keadaanku di sini. Cukup membingungkan menggunakan komputer di Laos. Terkendala dengan aksara Laos yang digunakan sebagai bahasa di komputer yang tidak bisa Aku mengerti. Aku hanya membaca dari simbol-simbol yang umum digunakan.

Usai berselancar di internet Aku meminta izin kepada pemilik warnet untuk menunaikan sholat Ashar di dalamnya. Dengan ramah ia mempersilahkanku untuk menunaikan ibadah wajib tersebut. Tidak terlihat ekspresi aneh di wajahnya saat Aku meminta izin untuk sholat. Keadaan warnet saat itu kebetulan sedang sepi. Sehingga Aku dapat menunaikan sholat dengan tenang.

Jarum jam terus berputar. Aku kembali menaiki Tuk-tuk dengan tujuan terminal bus tadi. Sambil meraba-raba jalur saat perjalanan pergi. Untuk mengantisipasi agar tidak kelewatan Aku meminta bantuan kepada penumpang di dalam Tuk-tuk untuk memberitahu saat tiba di terminal bus Dongdok. Mataku senantiasa awas memperhatikan sisi kiri jalan untuk melihat keberadaan terminal.

Untunglah penampakan terminal mudah ditebak. Aku turun membayar tarif Tuk-tuk sebesar lima ribu kip (setara lima ribu rupiah). Mentari beranjak turun. Senja semakin jelas terlihat. Aku duduk menanti di ruang tunggu terminal yang terbuka tanpa sekat. Hiruk pikuk para calon penumpang mulai terasa. Beberapa turis ala backpacker pun tampak berseliweran.

Aku bersiap menuju bus. Melintasi halaman parkir bus yang cukup luas. Beberapa petugas bus tampak berlomba-lomba mendapatkan penumpang. Sedikit memaksa dengan menarik-narik tangan. Tidak semuanya. Namun harus tetap waspada. Aku salah satu yang diincar petugas bus. Namun Aku abaikan saja dengan terus berjalan hingga memasuki bus.

Bus yang Aku naiki merupakan jenis sleeper bus. Tidak berbentuk kursi sebagaimana biasanya. Melainkan memanjang seperti tempat tidur sehingga kaki bisa selonjoran. Bagian tempat bersandar didesain miring 135 derajat disertai sebuah bantal kecil dan selimut sehingga nyaman untuk ditempati. Aku menempati posisi persis di samping jendela. Serasa berada di kamar hotel yang sedang berjalan sambil memandangi kota-kota di luar sana. Menyenangkan sekali.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2015 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: