RSS

Ragam Spot Wisata di Pusat Kota Bangkok

18 Aug

Pagi menjelang. Suara riuh pekerja toko dan warga setempat terdengar samar-samar dari lantai 3 tempat aku berada. Aksen orang Thailand yang sedikit mirip dengan Tiongkok seketika membuat imajinasiku seperti berada di kawasan Kampung Cina. Khas sekali.

Aku bangun membersihkan diri sebelum memulai petualanganku hari ini menjelajah Kota Bangkok. Aku keluar kamar dan berdiri di samping pagar persis di sebelah kamarku memandang panorama kota yang terlihat cukup jelas. Gedung-gedung pencakar langit terlihat serupa Kota Jakarta. Sebuah bangunan beratap khas Thailand semakin meyakinkanku bahwa saat ini benar-benar sedang berada di negeri orang.

Setelah mempersiapkan segala kebutuhan petualangan hari ini Aku bergegas keluar dari hostel. Menelusuri koridor di depan deretan ruko. Para pedagang dan pekerja tampak sedang bersiap memulai aktifitas mereka. Penjaja pakaian kaki lima tampak mulai menata barang dagangan milik mereka. Pagi ini di Khaosan tidak seperti suasana malam. Terlihat lebih sepi. Jalanan lengang. Para turis tampaknya masih terlelap dalam tidur mereka.

Mataku tertuju pada sebuah gerobak yang menjual aneka gorengan oleh 2 orang pemilik yang mengenakan peci dan jilbab. Ini kesempatanku untuk mencicipi jajanan pinggir jalan di Thailand. Tidak mudah memang menemukan penjual gorengan berlabel Muslim seperti ini di Bangkok. Aku mencicip gorengan yang ditusuk seperti sate berupa irisan daging ayam seharga 5 baht. Dibumbui kecap sedikit mirip ayam bakar. Rasanya cukup lezat.

Penjual gorengan ini letaknya berada satu jalur dengan hostel tempat Aku menginap. Begitu keluar dari Hostel Lucky ke arah kiri dan berjalan lurus sejauh 500 meter. Posisinya persis berada di seberang sebuah swalayan. Selain itu, di samping gerobak gorengan ini terdapat beberapa pedagang aneka jajanan lainnya jika ingin mencari makanan halal.

Menurut pengakuan penjual gorengan tersebut, dulunya kawasan Khaosan ini adalah sebuah perkampungan Muslim. Tak heran jika bisa dengan mudah menemukan pebisnis travel atau pedagang yang beragama Islam di sini. Hanya saja sekarang jumlahnya sudah menjadi minoritas.

Di Khaosan juga terdapat sebuah Masjid yang cukup besar. Letaknya cukup dekat dari tempat penjaja gorengan tersebut. Menuju ke sana harus melewati sebuah gang kecil selebar 2 meter yang berada di antara deretan ruko. Gang ini terletak persis di samping gerobak penjaja gorengan tersebut. Sebuah plang penunjuk di depan gang bertuliskan Masjid Chakkabrongse bisa dijadikan sebagai acuan.

Aku penasaran ingin melihat seperti apa Masjid tersebut. Berjalan melintasi gang sejauh 50 meter untuk mencapai Masjid tersebut. Dekat sekali ternyata. Seketika mulutku bergumam tasbih melihat penampakan di hadapan. Masjid ini meski berada di sisi gang kecil namun halamannya cukup luas. Gedungnya pun terlihat besar bertingkat dua. Ornamen-ornamen yang menghiasinya terlihat artistik. Ternyata di tengah hiruk pikuk kawasan turis ini ada sebuah Masjid cantik. Suasananya menentramkan hati.

Seorang pria bertubuh besar beperawakan India tampak sedang menyemprot tanaman di area pekarangan Masjid. Setelah bertegur sapa Aku mengetahui bahwa pria tersebut adalah Marbot Masjid (penjaga Masjid). Ia bukan orang asli Thailand melainkan dari Pakistan. Tapi sudah cukup mahir berkomunikasi dengan bahasa setempat. Aku meinta izin kepadanya untuk melihat-lihat keadaan di Masjid yang ditata cukup apik ini. Mirip seperti sebuah rumah.

Keadaan di dalam Masjid tidak terlalu luas. Tetapi sangat nyaman. Aku merasakan ketenangan berada di dalamnya. Angin yang bertiup sepoi membuat Aku merasa damai. Terdapat sebuah bangku sepanjang 1,5 meter di dalam Masjid. Desain tempat berwudhu juga dirancang cukup menarik. Setiap keran air tempat wudhu disediakan tempat duduk yang berbentuk seperti paku payung yang terbuat dari batu alam.

Usai melihat-lihat Masjid Chakkabrongse Aku kembali berjalan menyusuri gang keluar hingga tembus ke jalan raya, persis di tempat penjaja gorengan tadi. Jarum jam masih menunjukkan angka 9 pagi. Aku melanjutkan perjalanan menuju Grand Palace, sebuah kuil terbesar di Thailand yang terletak tak jauh dari Khaosan sebagaimana pengamatanku pada peta di Google Maps.

Aku memutuskan untuk berjalan kaki. Sembari melihat-lihat wajah Kota Bangkok dari dekat. Sambil bertanya-tanya Aku terus mengarah menuju Grand Palace yang terletak di pusat kota Bangkok. Persis seperti posisi Monas yang berada di jantung Kota Jakarta.

Semakin mendekat menuju Grand Palace penampakan kota terlihat semakin megah. Jalanan terlihat sangat lebar. Trotoar bagi pejalan kaki pun cukup luas. Sangat nyaman berjalan melintasinya. Tampak beberapa pedagang dadakan yang membentangkan dagangannya secara lesehan. Sepertinya mereka menjual barang-barang seken. Para supir taksi dan jasa tukang ojek tampak berkumpul di sebuah halte. Ada juga yang menghabiskan bermain catur tradisional khas Thailand. Mirip seperti papan catur namun biduknya menggunakan tutup botol.

Di samping tempat Aku berjalan melintasi di trotoar ini tampak sebuah taman yang sangat luas. Posisinya persis berada di seberang jalan. Taman yang berbentuk oval tersebut terlihat seperti lapangan sepak bola. Di tengah-tengahnya terdapat hamparan rumput luas. Pada bagian pinggir yang mengelilinginya terdapat taman yang ditumbuhi pepohonan dan tanaman hias serta bangku cantik tempat bersantai.

Taman yang bernama Sanam Luang tersebut terlihat sangat jelas dari peta Kota Bangkok. Jika membuka Google Maps dan mengetik kata ‘Bangkok’ maka akan terlihat sesuatu berbentuk oval. Itu adalah Taman Sanam Luang. Taman ini ramai dikunjungi oleh warga pada sore hari. Ragam aktifitas dilakukan di sini. Mulai dari berolahraga atau sekedar bersantai bersama keluarga atau sahabat.

Posisi Grand Palace terletak persis di seberang jalan dari Sanam Luang ini. Meski hanya dipisahkan oleh sebuah jalan, namun menuju ke sana jaraknya cukup menguras energi jika di tempuh dari ujung taman ini. Karena sebelum menyeberang jalan harus menyusuri terlebih dahulu kawasan taman yang sangat luas ini. Sebagian orang terlihat bersantai di atas padang rumput di dalam taman. Ada juga yang terlihat sedang tiduran santai.

Memasuki Grand Palace dikenakan biaya masuk sebesar () baht. Namun perlu diketahui bahwa kuil ini hanya dibuka pada waktu-waktu tertentu, yaitu (). Di dalamnya terdapat ornamen-ornamen khas tempat peribadatan umat Buddha.

(google)

Usai memuaskan hasrat melihat isi kuil terbesar di Thailand tersebut Aku melanjutkan perjalanan menuju tempat-tempat menarik lainnya. Masih dengan berjalan kaki. Beberapa objek wisata memang terletak tidak berjauhan di dalam pusat kota ini. Lalu lalang kendaraan tampak saling berpacu di jalan raya. Matahari semakin terik. Aku beristirahat sejenak di sebuah warung sambil menyeruput es jeruk. Mengisi energi sesaat sebelum melanjutkan perjalanan. Ah, segarnya.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2015 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: