RSS

Sawadeeka, Bangkok!

18 Aug

Mataku seketika terbuka. Tersadar dari tidur lelap di dalam bis tingkat nan nyaman ini. Pesona pagi masih tampak remang. Mentari belum menampakkan dirinya. Panorama di luar sana berupa hamparan sawah. Sesekali terlihat pabrik industri yang tertutupi oleh pagar tinggi. Tak jarang juga rumah-rumah penduduk tampak memenuhi di kedua sisi jalan.

Tak ada Bedul di samping kursiku. Kami berpisah di Phuket. Masa cutinya yang akan segera berakhir mengharuskan Bedul untuk kembali ke Indonesia. Aku kembali menjajal bumi Asia Tenggara seorang diri.

Aku menyegerakan untuk menunaikan sholat Subuh yang tersisa. Menempelkan kedua telapak tangan untuk mendapatkan percikan debu sebagai pengganti air bersuci. Mengoleskannya pada wajah dan kedua lenganku. Sambil tetap duduk di atas kursi dengan posisi mengikuti arah bis berjalan aku memulai sholat wajib 2 rakaat. Hening. Lantunan hamdalah yang bermakna pujian rasa syukur kepada Allah SWT. dalam surat Al Fatihah aku lafazkan dengan penuh khusyu. Mensyukuri nikmat perjalanan yang diberikan-Nya kepadaku saat ini.

Pemandangan sawah dan pabrik tak lama kemudian berganti dengan hamparan gedung pencakar langit. Bis berjalan melintasi jalan layang sehingga panorama kota terlihat jelas. Jalanan dipenuhi dengan kendaraan para pekerja yang hendak memulai aktifitas. Penuh sesak. Aku telah memasuki Bangkok. Sawadeeka!

Bis terus berjalan membelah kota metropolitan ini. Jalanan lebar ini terlihat mulus dan bersih. Deretan gedung tinggi menjadi pemandangan lumrah. Sekilas mirip suasana di pusat kota Jakarta. Hanya saja yang membedakannya pada bagian tengah terdapat jalur lintasan MRT yang posisinya berada di atas serupa jalan tol.

Bis berhenti di sebuah lapangan cukup luas. Beralas paving block berupa kepingan batu hias yang menutupi tanah sehingga tampak lebih enak dilihat. Pada sebagian sisi dipenuhi para pedagang serupa kaki lima. Pada sisi lain terdapat sebuah bangunan terbuka memanjang. Sepintas terlihat seperti terminal bis di Pasar Senen, Jakarta. Namun disini lebih tertata rapi. Sangat jarang ditemui sampah berserakan. Sederhana namun bersih.

Aku masih sedikit bingung. Menerka-nerka posisi keberadaanku saat ini. Entah dimana. Aku ikuti saja para penumpang bis yang baru turun. Entah hendak menuju kemana mereka. Melintasi jalanan kecil serupa gang yang dipenuhi pedagang kaki lima. Seketika penampakan manusia menjadi lebih ramai. Ada apa gerangan di ujung sana.

Setelah melewati jalanan kecil sejauh 200 meter akhirnya Aku mengetahui tujuan segerombolan orang itu. Mereka hendak menuju terminal bis. Terminal bis? Bukankan tadi kami diturunkan di terminal bis. Keduanya memang berfungsi sebagai terminal. Hanya saja yang satu sepertinya peninggalan terminal lama. Sedangkan yang baru aku datangi ini adalah terminal bis yang berdiri megah.

Terminal ini berupa bangunan besar setinggi 4 lantai. Rasa penasaran membuat aku tergerak untuk memasukinya. Sembari survei tiket untuk tujuan kota selanjutnya. Fasilitas lift disediakan untuk menggapai lantai di atasnya yang merupakan tempat agen penjualan tiket. Sesaat keluar dari pintu lift aku melihat deretan panjang loket penjual tiket. Pada sisi tengah dipenuhi kursi-kursi berlapis besi yang dimanfaatkan sebagai ruang tunggu.

Shocikng therapy aku alami saat memasuki ruangan di lantai 3 ini. Mataku seketika kabur melihat tulisan-tulisan tujuan kota keberangkatan yang terpampang di atas loket masing-masing. Semua serba keriting. Menggunakan aksara khas Thailand. Seperti sedang melihat coretan anak TK.

Menghadapi situasi seperti ini memaksa Aku untuk berpikir bagaimana cara menuntaskannya. Selalu ada ide-ide cakep disaat berhadapan dengan keadaan terdesak. Ya, i’ve got the idea. Yang penting tahu nama kota yang hendak dituju. Tinggal sebutkan saja nama kota tujuan kepada petugas loket. Masalah hitung-hitungan harga bisa diselesaikan dengan kalkulator. Beres.

Ternyata pada bagian tengah ruangan nan luas memanjang ini terdapat sebuah pusat informasi yang dijaga oleh petugas yang mahir berbahasa Inggris. Berbagai kemudahan perlahan Aku dapatkan. Selalu ada jalan keluar dibalik aksi nekatku ke negeri orang seorang diri ini. Modal nekat memang selalu berbuah hal-hal manis tak terduga.

Aku akan berada di Bangkok selama sehari. Esok hari perjalanan aku lanjutkan menuju Nongkhai, sebuah kota perbatasan dengan Laos. Kesempatan berada di terminal ini aku manfaatkan untuk mengulik informasi tentang jadwal keberangkatan menuju kota yang akan aku tuju tersebut.

Dari terminal bis Chatuchak, sebelum mencari penginapan di daerah Khaosan, aku membebaskan diri menelusuri jalan dengan berjalan kaki. Menjejaki trotoar di sisi jalan raya. Wajah kota ini serupa Jakarta. Menyeberang jalan saja harus menempuh jarak yang cukup jauh melalui jembatan penyeberangan. Namun rasa penasaranku akan kota Thaksin Sinawatra ini membuat aku senantiasa bersemangat. Hingga alarm lelah mengingatkanku untuk beristirahat.

Belum jauh berjalan, aku mendapatkan sebuah taman nan indah di sisi kiri jalan. Keindahan taman hijau nan luas tersebut menghipnotisku untuk memasukinya. Hamparan rumput terpampang luas. Pohon-pohon hias serupa pohon Kamboja memenuhi pada salah satu sudut taman. Ditengah-tengah terdapat danau yang ditumbuhi anggunnya tanaman teratai.

Aku berjalan menyusuri jalan setapak selebar jalan gang yang disediakan bagi pejalan kaki. Aku ikuti saja kemana akhir dari jalan tersebut. Sembari berbincang dengan seorang warga Thailand yang kebetulan berjalan persis di sampingku. Jalan ini berakhir di sebuah pintu di antara pagar tinggi penutup taman. Tembus ke sebuah jalan yang di seberangnya terdapat pusat perbelanjaan JJ Mall.

Terus aku langkahkan kaki memasuki mal tersebut. Sembari melihat-lihat mencuci mata. Seseorang berpakaian gamis dan berpenutup kepala melintas di dekatku. Kesempatan untuk mencari tahu tentang keberadaan tempat makan halal. Aku hampiri orang tersebut. Ia mengatakan di lantai atas mal ini, tepat di area foodcourt, terdapat stan makanan muslim. Alhamdulillah. Selalu saja ada kemudahan mendapatkan tempat makan halal.

Di dalam mal yang berada di Kota Bangkok berpenduduk minoritas Muslim ini, selain tersedia tempat makan bagi Muslim, juga difasilitasi sebuah mushola yang terdapat di salah satu sudut berada pada lantai yang sama dengan area foodcourt ini. Usai mengisi perut aku lanjutkan menunaikan Sholat Dzuhur dijamak dengan Ashar. Larut menghadap-Nya dalam sebuah kewajiban yang mampu menciptakan rasa damai. Mensyukuri setiap jejak perjalananku hingga saat berada di kota pertengahan dari rute Asia Tenggara yang akan Aku tempuh ini, Bangkok.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2015 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: