RSS

Sensasi Menembus Vietnam

18 Aug

Tepat pukul tujuh malam. Bus berjalan meninggalkan terminal bus Dongdok, Vientiane. Di sampingku ditempati seorang warga Vietnam bernama Hung Dong Minh. Ia merupakan seorang pekerja bank di kota Vientiane. Hampir sebaya denganku.

Kami berbincang menceritakan negara masing-masing. Menarik sekali mendengar pemaparannya tentang sejarah negaranya yang pernah beradu senjata dengan negara adidaya Amerika Serikat. Sambil mengemil kacang atom pedas yang Aku bawa dari Indonesia. Ternyata ia sangat menggemari kacang atom tersebut.

Hung mengira para pemuda di Indonesia menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari. Entah mengapa dia bisa menduga seperti itu. Malam itu perbincangan kami memang disatukan dengan bahasa yang menjadi bahasa internasional tersebut.

Bus terus berjalan membelah malam. Semakin jauh meninggalkan kota Vientiane. Sesaat berhenti di sebuah rumah makan. Semua penumpang diwajibkan turun dari bus. Aku turun tanpa turut makan di rumah makan tersebut. Antisipasi makanan terlarang untukku. Hanya menambal perut dengan persediaan roti dan saos yang Aku beli saat di Indonesia.

Di dalam bus Aku tertidur pulas. Hingga jarum jam menunjukkan pukul 2 dinihari. Bus berhenti. Tampak di sekitar bus-bus lainnya yang turut terparkir di area yang sama. Menanti pagi untuk bisa menembus batas negara. Kantor imigrasi masih tutup. Aku melanjutkan tidur hingga rona langit mulai terlihat sedikit bercahaya.

Satu per satu para penumpang keluar dari bus. Aku pun turut melangkahkan kaki merasakan udara di luar sana. Sangat dingin. Hamparan tebing nan tinggi mengelilingi. Sebuah gedung berlantai dua terlihat tak jauh di depanku. Itu adalah kantor imigrasi. Kabut menyelimuti kawasan bernama Cau Treo ini.

Sesaat membersihkan diri di toilet umum berbayar. Airnya dingin seperti es. Seperti tak sanggup berkumur saat hendak menyikat gigi. Hawa dingin tercium segar memasuki melalui sela-sela tenggorokan. Bus ramai terparkir di area ini.

Kantor imigrasi telah buka. Para petugas bus sibuk menyerahkan paspor ke dalam kantor imigrasi. Hanya warga Laos saja yang bisa dilayani melalui petugas tersebut. Sementara Aku yang memegang paspor Indonesia harus mengantar paspor sendiri ke kantor imigrasi. Aku mengikuti petugas bus memasuki kantor. Antri bersama warga negara lainnya selain Laos. Dominasi traveler asal Eropa terlihat di antaraku.

Satu per satu nama dipanggil. Hingga tiba giliranku mengambil paspor dari petugas imigrasi. Akhirnya petugas bus telah selesai mengurus pengecekan paspor para penumpangnya. Ia tampak sedikit berlari mengejar bus yang mulai berjalan. Aku diberikan aba-aba olehnya untuk bergegas berlari menuju bus tersebut. Goodbye, Laos.

Bus menembus Vietnam. Kembali Aku dan para penumpang turun melakukan pemeriksaan paspor di imigrasi Vietnam. Stempel paspor melayang di lembar pasporku dengan mudah. Petugas imigrasi mengembalikan paspor milikku sambil tersenyum ramah.

Hujan turun deras. Aku dan para penumpang lainnya masih berlindung di sekitar kantor imigrasi. Bus tampak belum bergerak. Kabut semakin menebal. Jarak pandang hanya lima puluh meter. Dingin.

Petugas bus memerintahkan kami untuk mengikutinya. Para tentara Vietnam tampak berjaga-jaga di depan sana. Mereka turut memeriksa paspor. Tidak terlalu rumit tampaknya memasuki negeri Paman Ho ini. Setelah melewati para tentara tersebut Aku bergegas memasuki bus.

Perjalanan membelah Vietnam dimulai. Sebagaimana layanan provider kartu telepon genggam. Perasaanku seketika berganti sinyal. Merasakan sensasi di negara baru. Hujan mulai mereda. Hanya tampak rintik-rintik gerimis di luar sana.

Suasana desa mendominasi perjalanan perdana di Vietnam. Hamparan perkebunan hijau terlihat dari balik jendela bus. Sungai Yang Tze tampak dari kejauhan. Alirannya membelah area perkebunan. Pepohonan hutan tak jarang terlihat di sepanjang perjalanan ini. Rumah-rumah kayu khas pedesaan juga sesekali terlihat.

Beberapa jam kemudian peradaban terlihat lebih ramai. Sekelompok anak sekolah bergerombol mengendari sepeda. Masyarakat setempat pun sering terlihat mengendarai kendaraan kayuh roda dua tersebut. Seperti belum tersentuh modernitas. Perbukitan karst yang eksotis menjadi pemandangan yang menarik. Bukit-bukit tinggi sejenis gumpalan batu yang diselimuti tanaman hijau. Berjejer pada sebagian perjalanan ini.

Seiring berjalannya waktu penampakan tampak mulai lebih maju. Jalanan beraspal rapi. Deretan ruko beton memenuhi di sisi jalan. Meski masih terkesan sederhana. Geliat aktifitas warga Vietnam semakin riuh. Suasana mengendarai sepeda masih terlihat wajar. Terutama bagi anak-anak sekolah. Kehidupan modern yang masih disentuh dengan suasana tradisional. Rasa senang terus menyentuh relung hatiku. Seakan tak peduli dengan perjalanan yang akan memakan waktu 24 jam ini.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2015 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: