RSS

Singapura, Negara Transit Dunia

18 Aug

Penampakan gedung-gedung bertingkat semakin terlihat jelas dari ketinggian. Sebuah panorama kota yang tertata sangat apik. Hamparan hijau padang rumput pun menjadi pemandangan yang menarik. Itulah Singapura.

Pesawat mendarat di Bandara Changi. Salah satu bandara terbesar dan tersibuk di dunia meski berada di sebuah pulau yang luasnya tak jauh berbeda dengan Pulau Batam. Ini kali kedua Aku menginjakkan kaki di negeri Singa ini. Pertama kali ke negeri ini Aku hanya mampir untuk transit. Saat itu dari Bali hendak ke Batam. Ya, tiket pesawat dari Bali ke Singapura saat itu memang lebih murah sehingga banyak warga Batam yang memilih cara transit tersebut.

Singapura merupakan salah satu negara terkaya yang mungil. Negara bekas bagian dari Malaysia yang memisahkan diri sejak tahun (). Kesempatan transit kedua kali di Singapura ini Aku manfaatkan untuk berkunjung ke beberapa tempat menarik. Salah satunya tentu saja patung berbentuk kepala Singa, Merlion.

Untuk menuju Merlion Aku menggunakan MRT dari bandara Changi. Hanya melewati () stasiun MRT untuk tiba di patung tersebut. Akses menuju dari satu tempat ke tempat lainnya sungguh mudah di sini. Semua tempat saling terhubung. Baik itu di Bandara maupun pelabuhan feri semua tersedia tempat pemberhentian MRT. Tidak perlu takut untuk tersesat. Tetapi rajin-rajinlah bertanya. Warga Singapura meski terkesan agak cuek namun sebenarnya mereka sungguh ramah saat diajak ngobrol.

MRT yang Aku naiki melaju meninggalkan bandara menuju stasiun (). Hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk tiba di stasiun tujuan tersebut. Sesampainya di staisun () Aku meneruskan dengan berjalan kaki untuk menuju Merlion. Jaraknya memang tidak terlalu dekat. Tetapi juga cukup mudah ditempuh dengan berjalan kaki sambil melintasi tempat-tempat menarik.

Patung Merlion tampak berdiri gagah sambil menyemburkan air dari mulutnya saat Aku tiba di sana. Ramai wisatawan bertandang ke sini sekedar melampiaskan rasa penasaran dengan ikon negara mungil ini yang gaungnya sudah mendunia tersebut. Padahal jika dilihat dari dekat patung ini memang terlihat biasa saja. Kreatifitas Singapura dalam mempromosikannya sungguh patut diacungi jempol sehingga membuat orang-orang di seluruh dunia penasaran untuk melihat bentuk aslinya.

Patung ini terletak berada di tepi sebuah teluk. Di sekeliling teluk terlihat gedung-gedung bertingkat menjulang di ujung sana. Salah satunya gedung Marina Bay yang sangat populer. Gedung kembar tiga yang terlihat seperti menopang sebuah perahu panjang di atasnya itu memang terlihat jelas dari sini. Para fotografer sering memanfaatkannya sebagai sasaran kamera mereka. Sementara jika melihat ke arah kiri maka kan terlihat sebuah bangunan yang bentuknya terkesan seperti setengah durian. Gedung tersebut bernama Esplanade yang merupakan sebuah gedung teater.

Tepat di dekat patung Merlion terdapat jasa perahu wisata yang bisa dimanfaatkan untuk mengelilingi teluk yang luas tersebut. Sembari melihat-lihat gedung-gedung bertingkat itu dari dekat. Tarifnya dipatok SGD per orang. Jika perut terasa lapar tersedia restoran di sebelah patung ini. Atau bisa menjajal restoran lainnya di bawah jembatan dekat patung tersebut. Meski di bawah jembatan namun cafe yang berdiri di sana bukan sembarang cafe. Salah satunya adalah starbucks. Ya, cafe-cafe mahal memang di sana. Perlu dana lebih untuk merogoh kantong.

Rasa penasaran akan patung berkepala Singa itu pun telah puas terlampiaskan. Aku beralih ke spot selanjutnya. Kali ini tujuanku adalah hendak menjelajah kota. Ada dua tempat populer yang merupakan kawasan khusus yang didominasi etnis tertentu di Singapura yaitu Little India dan China Town.

Little India, seperti namanya tempat ini memang tempat bermukimnya dominasi etnis dari keturunan India. Untuk menuju Little India lebih praktis menggunakan MRT. Pada peta MRT, jalur menuju little India ditandai dengan warna ungu. Tinggal lihat saja nama stasiun MRT bernama Little India.

Di kawasan ini ragam jenis perdagangan hampir semuanya didominasi warga keturunan mereka. Mulai dari pemilik toko, rumah makan, bahkan pengemisnya. Toko-toko musik seringkali menyetel musik-musik India sehingga membuat serasa benar-benar berada di negeri Taj Mahal. Tapi ada satu hal unik yang saya lihat di sini, rata para pemilik toko emas berketurunan India mempekerjakan salah satu karyawan dari etnis tionghoa. Kedekatan antar etnis di negeri mini ini sepertinya memang terjalin harmonis.

Tidak sedikit etnis India beragama Islam di sini. Bisa dengan mudah untuk menemukan tempat makan halal di sepanjang kawasan. Sebuah Masjid dengan ornamen khas India juga terdapat di dalam kawasan Little India ini. Jika sedang dalam keadaan haus saat hendak menunaikan sholat di Masjid ini, minum saja air kerannya. Selain digunakan untuk berwudhu air keran ini juga berfungsi sebagai air minum. Seperti yang diketahui bahwa di negara maju ini air kerannya bisa untuk dikonsumsi.

Setelah melakukan city tour di Little India, tempat menarik lainnya adalah bertandang ke kawasan yang sangat terasa budaya tionghoa yaitu China Town. Menuju China Town dengan menggunakan MRT bisa dengan melihat jalur berwarna () pada peta MRT. Sesuai dengan namanya, stasiun pemberhentian juga dinamakan sama, Cina Town.

Pemandangan di China Town sedikit berbeda dengan Little India. Suasanya benar-benar dirancang untuk wisatawan. Deretan pedagang kaki lima yang teratur memenuhi di sepanjang salah satu jalan. Pusat kuliner yang menyatu dengan taman kota menjadikan kawasan ini tempat favorit untuk bersantai.

Uniknya di kawasan ini meski didominasi budaya etnis tionghoa, namun sebuah kuil milik umat Hindu berdiri megah di sini. Kuil ini juga dijadikan salah satu destinasi melancong bagi wisatawan. Memasukinya harus melepas alas kaki dan dilarang membawa kamera. Jika cuaca sedang panas terik jangan coba-coba menginjak lantai bagian luarnya, karena kaki terasa seperti terbakar.

China Town menjadi destinasi terakhirku dalam lawatan di negeri Singa ini. Sekaligus akhir dari lawatan penuh dalam penjelajahan Asia Tenggara. Aku tidak memutuskan untuk menginap mengingat waktu cuti yang tersedia akan segera habis. Mengunjungi tempat-tempat tersebut dalam satu hari memang memungkinkan karena selain jaraknya yang tidak terlalu jauh juga akses transportasi yang sangat memudahkan dalam bepergian.

Hari semakin senja. Aku kembali menaiki MRT dengan tujuan stasiun Harbour Front. Stasiun ini berada di dalam sebuah mal bernama Vivo City. Di dalamnya juga terdapat pelabuhan feri yang menghubungkan dengan Indonesia tepatnya di wilayah Provinsi Kepri, yaitu tujuan Batam, Tanjungpinang, dan Karimun. Aku menuju tempat penjualan tiket di lantai tiga. Terdapat banyak deretan agen feri di tempat tersebut. Tiket feri tujuan Batam Aku dapatkan seharga SGD 29.

Usai membeli tiket Aku langsung menuju pos pemeriksaan imigrasi. Berbaris antri untuk mendapatkan stempel pengesahan dari petugas. Kemudian menuju ruang tunggu yang terdapat satu lantai di bawahnya. Ramai penumpang sedang duduk menanti di ruang tunggu tersebut. Wajah-wajah Indonesia tampak mendominasi di ruangan ini.

Petugas pelabuhan menginformasikan bahwa kapal feri yang akan Aku naiki akan segera melepas sauh. Aku bergegas menuju barisan antrian sambil memegang tiket untuk diperiksa. Kemudian terus berjalan menyusuri koridor sepanjang 200 meter untuk tiba di feri. Suasana di luar telah berganti dengan gelapnya malam. Feri pun perlahan meninggalkan Singapura.

Feri tidak terisi penuh. Hanya sepertiga penumpang. Sepi sekali di dalam ruangan. Penumpang lainnya lebih suka memilih berada di atas feri sambil menikmati panorama gedung bertingkat. Aku memilih merebahkan tubuh di dalam ruangan ber-AC nan nyaman untuk meredakan rasa lelah setelah seharian menguras energi. Rasa lelah yang terasa nikmat.

Selang 40 menit kemudian feri tiba di Pulau Batam. Akhirnya Aku kembali ke negeri tercinta, Indonesia. Tak sabar rasanya ingin sampai di rumah. Dari pelabuhan Aku masih harus berjalan menyusuri koridor sepanjang 100 meter untuk sampai di pemeriksaan imigrasi. Para petugas imigrasi telah siaga menanti kedatangan kami.

Stempel imigrasi berhasil mendarat di pasporku. Rasa lelah bercampur nikmat masih Aku rasakan. Aku keluar dari terminal feri dan berjalan keluar mencari tukang ojek. Malam semakin larut. Seorang tukang ojek datang menghampiriku sambil berkata, “Mau cari penginapan, Mas?.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2015 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: