RSS

Telusur Old Quarter

18 Aug

Ini adalah hari kedua Aku berada di Hanoi. Tidak ada agenda khusus untuk hari ini. Hanya sekedar ingin mengelilingi kawasan Old Quarter. Banyak tempat-tempat menarik di kawasan persimpangan tua ini yang belum Aku sambangi. Hampir sebagian besar objek wisata di Kota Hanoi terdapat di kawasan ini. Areanya yang luas dan banyak persimpangan membuat tidak cukup untuk dijelajahi dalam sekejap.

Jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Usai mempersiapkan diri Aku turun ke lantai bawah. Memanfaatkan fasilitas internet gratis yang disediakan di hostel ini untuk menelusuri ragam informasi yang ingin Aku cari. Beberapa diantaranya adalah Danau Hoan Kiem, Red Bridge, dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KBRI) di Hanoi. Ya, daftar terakhir itu menjadi salah satu tujuanku karena ingin mempertanyakan nasib rupiah-ku yang tak laku saat di Laos, juga di Vietnam ini. Aku berharap permasalahan rupiah ini bisa terselesaikan dengan mendatangi KJRI.

Usai mengumpulkan semua informasi dari internet Aku mulai melangkahkan kaki menelusuri Old Quarter. Mengamati kehidupan sosial di kawasan tua yang menjadi rumah bagi para turis ini. Jumlah sepeda motor terlihat mendominasi daripada kendaraan roda empat. Suara klakson terdengar sering bersahutan di antara pengendara. Meski begitu, lengkingan suara klakson itu tidak memunculkan rasa emosi. Mereka saling memahami.

Jalur jalan di Vietnam menggunakan lajur kanan. Tidak seperti di Indonesia yang menerapkan lajur kiri. Ini merupakan peninggalan dari masa penjajahan oleh Perancis. Sehingga cukup membingungkan bagiku meski tidak memakai kendaraan. Karena perlu konsentrasi saat hendak menyeberang jalan.

Tujuan pertama yang hendak Aku tuju tentu saja KJRI. Seperti yang terlihat pada peta, rute menuju KJRI dari hostel hanya membutuhkan dua kali belokan. Aku terus menyusuri berjalan di atas trotoar sambil sesekali bertanya pada warga setempat. Beberapa orang yang Aku tanyakan memberikan informasi bahwa Aku harus menemukan gedung berwarna merah. Aku terus berjalan memandang sisi bagian kiri sebagaimana yang disarankan.

Terbaca olehku tulisan KJRI pada sisi depan sebuah tembok. Akhirnya ketemu juga. Lumayan jauh juga ternyata jaraknya. Aku menemui seorang petugas wanita di dalam sebuah ruangan yang dibatasi dengan kaca transparan. Mendengar Aku berbicara ia langsung bergegas ke belakang memanggil temannya. Dan datang seorang laki-laki yang menyapaku dengan bahasa Indonesia. Ternyata wanita tadi adalah warga negara Vietnam. Pantas saja.

Aku jelaskan permasalahan yang terjadi kepadanya. Pria paruh baya itu merupakan seorang sekuriti di KJRI. Ia mempersilahkanku masuk. Cukup luas juga kantor KJRI ini. Tamannya juga terlihat asri. Aku disuruh untuk menanti di sebuah ruang tamu kecil. Di dinding ruang tamu terpajang foto-foto yang menggambarkan kedekatan hubungan Indonesia dengan Vietnam. Salah satunya adalah foto Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno yang berdiri di sebuah mobil terbuka bersama Presiden Ho Chi Minh. Dari nama Presiden inilah negara Vietnam juga sering disebut dengan julukan negara Paman Ho.

Aku masih menanti di ruang tamu. Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya bertubuh subur menghampiriku. Ia memberikan lembaran uang Vietnam kepadaku. Aku membalasnya dengan memberikan rupiah. Akhirnya rupiahku berguna juga di sini. Telah berganti menjadi dong. Lumayan untuk dimanfaatkan selama di sini. Alhamdulillah.

Aku meninggalkan KJRI. Tujuan selanjutnya adalah pergi ke Danau Hoan Kiem. Jaraknya berada di pusat kawasan Old Quarter. Tidak terlalu jauh. Dari kejauhan danau ini sudah terlihat asri. Ditutupi dengan rindangnya pepohonan besar yang menaungi di sekelilingnya. Ramai orang-orang yang berkunjung ke sana. Lokasi danau berada persis di sisi jalan raya. Pada bagian bahu danau dibuat jalan khusus selebar 4 meter yang mengelilingi danau untuk pejalan kaki. Dihiasi dengan taman-taman indah di sekitarnya.

Beberapa warga Vietnam tampak melakukan prosesi foto pra pernikahan di sini. Keindahan dan sejarah yang melekat di dalamnya sepertinya menjadi alasan mereka untuk melakukan pemotretan spesial tersebut. Ada juga yang sekedar berlari-lari kecil berolahraga. Dan tak sedikit yang sekedar duduk bersantai pada bangku-bangku yang tersedia. Danau ini pernah menjadi lokasi syuting salah satu film Indonesia bertema perjalanan, Haji Backpacker.

Di tengah danau agak menjorok ke ujung terdapat sebuah pulau kecil. Luasnya hanya sebesar dua kali lapangan badminton. Di atas pulau tersebut berdiri sebuah kuil. Kuil tersebut bisa dikunjungi sebagaimana tempat wisata. Untuk menuju ke sana dapat dilewati melalui sebuah jembatan penghubung berwarna merah. Eits, sepertinya jembatan ini tidak asing. Seperti pernah melihatnya. Ya, ternyata inilah jembatan merah seperti yang ada pada foto-foto di internet atau dikenal dengan nama Red Bridge. Spot yang menjadi salah satu daftar kunjunganku. Oalah!

Sebelum memasuki kawasan kuil ini terlebih dahulu membayar tiket masuk sebesar 10.000 dong. Jalanan masuk agak sempit serupa gang. Tekstur jalan sedikit berbukit. Tiba di kawasan kuil terdapat sebuah halaman di depannya yang bisa dimanfaatkan untuk bersantai pada deretan bangku yang tersedia. Di samping kuil terdapat sebuah ruangan seperti kios yang menjual aneka souvenir. Memasuki kuil ini terasa seperti berada di pedesaan Tiongkok jaman dulu.

Hari beranjak siang. Perutku sudah memberi kode minta diisi. Beralih mencari tempat makan bernama Nisa Restaurant. Sebagaimana yang Aku telusuri melalui internet, selain restoran halal Tandoor, terdapat juga tempat makan halal lainnya di Old Quarter. Aku ingin mencoba suasana makan yang berbeda. Tidak mudah untuk menemukan keberadaan restoran Nisa ini.

Setelah agak lama mencari, akhirnya ketemu juga dengan restoran milik warga Malaysia itu. Letaknya sebenarnya tidak begitu jauh dari Danau Hoan Kiem. Hanya saja bentuknya yang agak kecil dan tertutup sedikit pepohonan hias sehingga membuat agak susah untuk menemukannya.

Aku memasuki restoran Nisa dan menaiki ke lantai dua. Daftar menu benar-benar khas Indonesia dan Malaysia. Aku memilih menu paling standar, nasi goreng. Dan juga minuman terstandar yang ada, teh manis hangat. Tapi, ah, ternyata harganya sungguh tidak sestandar yang dikira. Seporsi nasi goreng dipatok sebesar 80.000 dong. Iya, itu memang dalam bentuk mata uang Vietnam yang memang angkanya lebih besar. Tapi jika dikonversi ke rupiah, ya tetap saja mahal, 40.000 rupiah!

Ya sudahlah. Aku pasrah saja. Kebetulan persediaan masih cukup di dompet. Ini memang keinginanku sendiri. Bukan tipuan pedagang yang mempermainkan harga yang biasanya diketahui harganya saat hendak membayar. Karena daftar harganya juga sudah dicantumkan di samping menu makanan.

Usai melakukan ritual makan siang, Aku berniat untuk pergi mencari masjid. Ya, di kawasan Old Quarter ini terdapat sebuah masjid yang cukup populer bagi pelancong Muslim yang berkunjung ke Hanoi. Untuk menuju ke sana Aku memanfaatkan tukang ojek yang ada di pinggir jalan. Tidak mudah memang berkomunikasi dengan para tukang ojek karena terkendala bahasa. Untuk mengantisipasi hal tersebut Aku telah mempersiapkan pena dan kertas untuk membantu dalam berkomunikasi. Aku gambarkan sebuah kubah Masjid pada kertas tersebut. Lalu kuperlihatkan kepada tukang ojek sambil dibantu dengan bahasa isyarat bahwa Aku hendak menuju ke tempat itu. Tukang ojek itu langsung mengerti sambil mengangguk-anggukkan kepala yakin. Aku pun langsung duduk di belakangnya dengan tarif yang telah disepakati, 30.000 dong.

Tukang ojek menurunkanku di salah satu sisi jalan. Masih bertanya-tanya dengan lokasi tempat Aku diturunkan ojek tadi. Suasana di sekitar hanya terlihat deretan ruko. Di sisi sebelah kiriku hanya sebuah tembok setinggi dua meter. Dari balik tembok tersebut terdapat pohon besar yang daunnya keluar melampaui batas atas tembok sehingga menutupi langit. Aku masih belum menemukan Masjid.

Kuhampiri salah satu pemilik toko untuk menanyakan keberadaan Masjid. Ia menunjukkan ke arah tembok tinggi tadi. Namun ia menyarankan untuk memasukinya melalui pintu alternatif dari samping karena gerbang utama telah dikunci. Masjid ini memang sulit ditebak jika berada di dekatnya. Tetapi harus berjalan sedikit menjauh untuk melihat kubahnya karena terhalangi oleh rimbunnya dedaunan pohon.

Jarum jam menunjukkan angka dua siang. Aku memasuki Masjid untuk menunaikan sholat Dzuhur sekaligus dijamak dengan Ashar. Kemudahan beribadah bagi seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan. Masjid ini dilihat dari bentuk bangunannya, baik bagian luar maupun dalam, terkesan sudah tua. Dalamnya tidak terlalu luas. Namun terasa nyaman berada di dalamnya. Seorang wanita muslimah berwajah khas Vietnam tampak membersihkan halaman Masjid.

Waktu beranjak semakin sore. Sudah cukup penjelajahan mengitari Old Quarter meski tidak semua tersambangi. Aku berjalan pulang menuju hostel. Dilihat dari peta, jarak menuju hostel cukup ditempuh dengan berjalan kaki. Namun di tengah perjalanan hujan turun cukup deras. Aku menyiup sejenak di depan ruko. Khawatir hujan turun lama Aku berniat membeli jas hujan dengan bertanya pada toko di dekatku. Tetapi tidak ada yang menjualnya.

Aku berdiri pasrah menanti hingga hujan reda. Tiba-tiba terlihat olehku penjaja jas hujan keliling. Seorang wanita paruh baya beperawakan mungil. Aku tanyakan berapa harga jas hujan tersebut. Ia memperlihatkan digit-digit angka melalui kalkulator yang dibawanya. Ternyata hal-hal semacam itu sudah dipersiapkan oleh pedagang keliling ini. Sepertinya ia sudah hapal benar bahwa kawasan ini merupakan rumah para turis.

Penjual jas hujan tersebut menawarkan harga yang tak masuk diakal. Mahal sekali untuk ukuran jas hujan yang berbahan kantong kresek itu. Terlebih lagi persediaan uangku yang pas-pasan. Akhirnya Aku tawar hingga mendapatkan harga yang pas. Aku membelinya satu.

Aku melanjutkan perjalanan menuju hostel sambil berbalut jas hujan. Namun baru beberapa langkah hujan reda seketika. Beruntung Aku tidak gegabah membeli begitu saja dengan harga selangit saat membeli jas hujan tadi. Aku masukkan jas hujan ke dalam tas dan meneruskan perjalanan pulang.

Tak berapa lama Aku tiba di hostel. Matahari masih terlihat di ufuk barat. Tubuhku terasa lelah sekali. Tanpa sadar Aku tertidur dengan pulasnya di atas kasur. Hingga tak terasa jarum jam menunjukkan pukul 10 malam saat terbangun. Tidak memungkinkan lagi rasanya untuk menuju tempat makan langgananku karena dipastikan sudah tutup. Bersyukur masih ada stok makanan yang bisa menambal perutku. Cukup mengenyangkan juga.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2015 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: