RSS

Chiang Mai Delapan Derajat

19 Apr

Masjid Chiang Mai

Dari Bangkok, perjalanan aku teruskan ke Chiang Mai. Perjalanan ditempuh selama sembilan jam. Pukul enam pagi bis yang aku tumpangi tiba di Chiang Mai. Rintik hujan menyambut kedatanganku. Udara dingin semakin menjadi. Musim dingin belum usai.

Chiang Mai terletak di utara Thailand. Hampir mendekati Tiongkok. Tidak heran jika atmosfer Negeri Tirai Bambu itu agak terasa di daerah ini. Jaket yang aku kenakan tidak mampu menahan dinginnya udara. Musim dingin menyebar di sebagian wilayah Thailand, termasuk ibukotanya, Bangkok.

Jika kota metropolitan seperti Bangkok saja yang terkenal panas bisa membuat aku menggigil kedinginan, apalagi Chiang Mai yang berjarak sekitar 200 kilometer ke utara. Ditambah lagi hujan di pagi hari. Sukses membuat aku bergetar menggigil sepanjang jalan.

Suasana di terminal bis ini belum terlalu ramai. Iseng aku menanyakan tiket ke kota tujuanku selanjutnya. Ternyata aku diarahkan untuk menyeberang ke terminal sebelahnya. Terminal tempat aku diturunkan ini merupakan terminal lama. Bersyukur, terminal baru berjarak tak jauh dari sini.

Terminal baru berkonsep terbuka, sebagaimana di kota-kota sebelumnya, kecuali Bangkok. Sepertinya Thailand ingin menyeragamkan terminal bis di semua provinsinya. Konsep terminal baru ini memang lebih nyaman, bersih, dan ramah bagi pengunjung.

Terminal bis ini memiliki rute internasional. Bisa langsung menuju Luang Prabhang yang berada di negeri jirannya, Laos. Jarak tempuhnya 24 jam. Harga tiket sekitar 300 ribu rupiah. Aku sekadar mencari informasi saja. Karena perjalanan panjangku ini akan bertahap ke kota-kota terdekat, meski nantinya akan melewati Luang Prabhang.

Tak jauh dari terminal aku melihat tempat sewa kendaraan. Sepeda motor terpajang berjejer di dalam ruko dua pintu. Aku memilih jenis matic untuk disewa. Tarifnya 200 baht per hari dengan meninggalkan paspor sebagai jaminan.

Sepertinya getaran tubuhku akan semakin bertambah. Pagi, hujan, serta  diterpa angin karena laju motor yang berjalan. Gigiku mengerutuk. Brrr. Namun tidak aku hiraukan. Mataku awas mencari penginapan. Di sekitar terminal ini pun terdapat beberapa penginapan.

Aku mencari penginapan di pusat kota. Aku menghentikan motor sejenak untuk bertanya arah ke pusat kota kepada warga setempat. Belum turun dari motor, tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah plang di sisi kiri jalan, persis di depanku, bertuliskan Masjid Hidayatullah Banhaw. Dengan mudahnya aku ditunjukkan rumah ibadah di negara minoritas Muslim ini. Alhamdulillah.

Ya, memang di setiap perjalanan yang selalu aku cari adalah Masjid. Tidak menyangka bisa semudah ini aku menemukan Masjid. Pada plang tersebut tertera empat bahasa, selain Melayu, juga ada aksara Mandarin, Arab, dan Thai. Aku percaya bahwa ada kemudahan bagi orang-orang yang sedang dalam perjalanan atau musafir.

Di dekat plang tersebut terdapat jalan yang lebih kecil. Gerbang memasuki jalan itu di atasnya terdapat gapura bertuliskan Halal Street Hilal Town dan lambang bulan sabit. Tidak hanya Masjid, tetapi aku menemukan lebih dari itu, permukiman Muslim. Nikmat mana lagi yang harus aku dustakan.

Aku memasuki kawasan Muslim itu. Berjalan sekitar lima puluh meter, di sisi kiri tampak bangunan mewah bertingkat empat bagaikan hotel berbintang. Mataku tak berkedip menyaksikan apa yang aku lihat. Aku membandingkan bangunan megah tersebut dengan kondisi wilayah di sini yang Muslimnya sangat minoritas. Masya Allah.

Aku menembus gerbang masuk tersebut. Ternyata Masjidnya terletak di seberang bangunan bertingkat empat itu. Sepertinya bangunan yang menyerupai hotel itu tempat menuntut ilmu umat Muslim Chiang Mai. Suasana sepi. Mungkin sedang liburan. Hanya tampak beberapa orang, termasuk dua orang pengunjung mengenakan hijab yang datang menggunakan mobil.

Di sepanjang jalan ini berderet rumah makan halal. Aku pun tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mencicipi kuliner di utara Thailand ini. Suasana rumah makan di sini terkesan tradisional, tetapi nyaman dan bersih. Udara dingin menambah kesan romantis.

Aku memesan khao soi. Makanan sejenis mi kuah. Mi disajikan kering, melunak sendiri di dalam kuah yang panas. Di dalamnya terdapat irisan daging ayam dan aneka bumbu penyedap. Rasanya cocok dilidahku. Sedap. Sejenak aku melupakan penginapan yang belum didapat.

Advertisements
 
5 Comments

Posted by on April 19, 2017 in Uncategorized

 

5 responses to “Chiang Mai Delapan Derajat

  1. Dian Radiata

    April 19, 2017 at 4:44 pm

    Jadi pengen juga traveling ke Thailand utara, kayaknya asik..

     
  2. Yulia Marza

    April 20, 2017 at 11:01 am

    Masih meraba-raba daerah thailand nya bang..padahal pengen banget jalan kesana. Gak ada teman. Mungkin BK janjian pergi bateng seru juga tuh.

     
  3. sri murni

    April 20, 2017 at 11:29 am

    Kapan ke sininya Fadli… hehehe gak ada keterangannya… sayang foto makanannya gak ada, padahal kalau ada pasti bikin lebih ngiler….

     
  4. ahmadi sultan

    April 22, 2017 at 9:31 am

    Pengen ke Chiang Mai kalo ada kesempatan lagi mengunjungi Thailand.

     
  5. Fauzi

    June 14, 2017 at 1:43 am

    Wah senengnya nemu masjid di sana ya..
    Ditunggu cerita lainnya kak.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: