RSS

Eksotisme Taman Nasional Ujung Kulon

08 May

Nama Ujung Kulon sudah sangat familiar di telinga sebagian orang. Nama ini umumnya diketahui melalui buku pelajaran geografi di sekolah. Sebuah daerah di Provinsi Banten yang dikenal sebagai habitat binatang langka Badak Bercula Satu.

Selama ini Ujung Kulon memang lebih dikenal sebagai habitat hewan langka tersebut. Tetapi tahukan Anda, kawasan yang juga sebagai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) ini juga menyimpan pesona alam yang memesona.

Letak geografis Ujung Kulon berada di paling barat Pulau Jawa. Berbatasan langsung dengan Pulau Sumatera. Di sekitarnya terdapat gugusan pulau-pulau kecil yang berhadapan langsung dengan laut lepas Samudera Hindia. Salah satu pulau yang menjadi incaran para petualang adalah Pulau Peucang.

Pulau Peucang adalah salah satu pulau tak berpenghuni di Ujung Kulon. Hanya ditempati oleh penjaga pulau yang disediakan rumah tinggal di dalamnya. TNUK merupakan kawasan taman nasional tertua di Indonesia. United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) meresmikannya sebagai salah satu Warisan Dunia pada tahun 1991.

Pesona pantai di Pulau Peucang menyuguhkan keindahan sekaligus ketenangan. Pasir putihnya sangat lembut, bagai tepung saja. Airnya sebening kristal. Segerombolan ikan-ikan yang berlarian seirama di dalam air tampak jelas dari permukaan air.

Tidak terlihat riak gelombang yang mengalun. Permukaan laut di tepi pantai terlihat tenang. Pantai ini jarang dijamah oleh wisatawan, mengingat akses lokasinya yang cukup sulit untuk ditempuh. Rata-rata yang berkunjung ke sini para petualang yang menyukai tantangan.

Berkunjung ke pantai ini serasa milik sendiri. Sepi. Tidak ada pengunjung lain selain penjaga pulau. Garis pantainya sekitar 500 meter. Sangat cocok untuk dijadikan tempat rileksasi. Melepas penat selama bekerja. Menyegarkan pikiran. Mengecas kembali energi sebelum dihadapkan kembali dengan rutinitas.

Pulau Peucang dihuni oleh monyet-monyet liar. Tetapi tidak perlu khawatir, hewan primata ini tidak mengganggu secara fisik. Namun, harus berhati-hati terhadap barang-barang yang diletakkan, karena tangan-tangan jahil monyet-monyet tersebut siap beraksi.

Terdapat ucapan Selamat Datang di Pulau Peucang di sebuah spanduk berbahan tembok. Tingginya satu setengah meter. Cocok untuk dijadikan tempat mengabadikan momen. Bukti kenanangan di masa mendatang bahwa pernah menjejakkan kaki di taman nasional bersejarah nan eksotis ini.

Menuju Ke Sana

Pulau Peucang merupakan salah satu pulau kecil yang berada di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Akses menuju pulau cantik ini memang tidak semudah mengunjungi tempat-tempat wisata pada umumnya.

Umumnya para petualang yang berkunjung ke Ujung Kulon mengawalinya dari Jakarta. Ibu kota negara tersebut memang berbatasan dekat dengan provinsi yang menaungi Ujung Kulon, Banten. Namun, letak Ujung Kulon berada di ujung barat Pulau Jawa.

Dari Jakarta sebaiknya menyewa kendaraan roda empat. Karena tidak ada angkutan umum yang menuju ke Ujung Kulon yang berada di pelosok Pulau Jawa. Lama perjalanan dari Jakarta ke Ujung Kulon memakan waktu tujuh jam perjalanan. Sebaiknya berangkat pada malam hari agar tiba di Ujung Kulon pagi hari.

Saat sudah memasuki pusat kota di Banten, perjalanan masih dilanjutkan menuju sebuah desa di pelosok Pulau Jawa bernama Taman Jaya. Jarak tempuh dari pusat kota ke Desa Taman Jaya memakan waktu sekitar satu setengah jam perjalanan.

Sejatinya, jarak tempuh ke Desa Taman Jaya bisa ditempuh jauh lebih cepat. Hanya saja, dikarenakan jalanannya yang belum beraspal dan masih beralas tanah keras nan bergelombang sehingga memakan waktu lebih lama dan harus siap menghadapi goncangan medan jalannya.

Setibanya di Taman Jaya, diharuskan untuk meminta izin kepada petugas kawasan TNUK yang merupakan warga setempat yang bernama Pak Komar, sebelum menyeberang ke pulau-pulau di sekitarnya.

Semua perlengkapan sudah tersedia mulai dari kapal kayu/pompong, life jacket, hingga tukang masak untuk makan selama di pulau-pulau tersebut. Tentu saja semua fasilitas tersebut harus disewa. Umumnya, para petualang yang bertandang ke Ujung Kulon menginap di pulau selama tiga hari dengan membawa tenda.

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on May 8, 2017 in Uncategorized

 

One response to “Eksotisme Taman Nasional Ujung Kulon

  1. Yulia Marza

    May 30, 2017 at 5:29 am

    Berpetualang memang seru. tapi sisa cuti kerjaan tidak seenak semangat berpetualang.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: