RSS

Pertemuan Tak Terduga dengan Teman SMA

Ketemu teman SMA Dani

Tak sengaja, ketemu teman SMA di Pulau Kundur, setelah 12 tahun.

Masa SMA aku habiskan di Kota Gudeg, Yogyakarta. Kota ini dipenuhi dengan anak rantau dari berbagai daerah, Sabang sampai Merauke. Tidak hanya anak kuliahan, anak SMA juga banyak yang berstatus anak rantau di sini. Seperti di sekolahku, 60 persen siswanya merupakan orang luar Jogja. Mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

Tentu saja yang mendominasi dari daerah-dearah terdekat seperti Jawa Tengah. Semua kabupaten di Jawa Tengah ada di sekolah ini. Salah satunya temanku Dani yang berasal dari Cilacap, Jawa Tengah.

Setelah diterima di SMA, aku memilih kos tak jauh dari sekolah. Ternyata  selain aku, ada lima orang siswa baru yang kos di sini, salah satunya Dani. Dani merupakan anak yang pintar. Dari kelas satu hingga kelas tiga ia selalu meraih peringkat tiga besar. Meski tidak pernah sekelas, namun keakraban teman-teman satu kos terasa di sini.

Singkat cerita, tiba masa kelulusan SMA. Dani diterima di Kedokteran Umum UGM. Sejak lulus SMA kami tidak pernah bertemu lagi, komunikasi pun sangat jarang. Di media sosial pun Dani hampir tidak pernah aktif, dapat dihitung jari.

Terhitung selama 12 tahun aku tidak pernah bertemu Dani lagi.

12 tahun kemudian..

Suatu ketika, aku pulang ke Pulau Kundur melalui pelabuhan Selatbeliah. Pelabuhan ini terletak di ujung utara, berjarak dekat dengan Ibukota Kabupaten Karimun, Tanjungbalai. Namun pelabuhan ini lebih sepi, karena bukan pelabuhan utama. Pelabuhan utama terletak di ujung selatan, pusat kota Pulau Kundur, Tanjungbatu,. Dari utara ke selatan berjarak satu jam dengan menggunakan kendaraan bermotor.

Setiba di Pelabuhan Selatbeliah, aku mengambil sepeda motor yang dititipkan di Pelabuhan. Motor perlahan berjalan meninggalkan pelabuhan. Membelah hutan yang sebagiannya sudah berubah menjadi jalan lebar dan beraspal mulus sepanjang satu kilometer.

Kemudian memasuki wilayah penduduk, melintasi ruko-ruko yang masih jarang yang dijadikan pusat pasar di wilayah utara. Wilayah utara Pulau Kundur ini terdapat perusahaan milik negara, PT. Timah. Ya, hasil bumi berupa emas hitam itu banyak ditemukan di sini. Pulau Kundur merupakan salah satu dari tiga penghasil timah terbesar di Indonesia selain Bangka Belitung dan Lingga.

Aku membawa motor dengan santai. Menikmati udara segar yang masih alami di daerah ini. Dari arah yang berlawanan tampak seseorang mengendarai sepeda motor, wajahnya sangat familiar. Sempat tak percaya apakah benar orang itu adalah Dani teman SMA-ku?

Bagaimana mungkin ia bisa nyasar ke Pulau Kundur? Pulau yang sangat asing di telinga. Jangankan di Jawa sana, di provinsinya sendiri saja, Kepri, pulau ini nyaris tidak terdengar gaungnya. Berbeda jika aku melihatnya di Batam atau Tanjungpinang yang merupakan kota utama tempat orang-orang melancong atau melakukan perjalanan dinas.

Aku memberanikan diri mengejar motor sosok pria berkacamata yang berboncengan dengan wanita berhijab itu. Membalikkan arah motor. Ia memarkirkan kendaraannya di depan minimarket. Aku menyusul di sebelahnya. Dan memanggil namanya untuk meyakinkan apakah benar orang yang aku maksud. “Dani?”

Benar. Pria itu adalah Dani teman SMA-ku yang sudah 12 tahun tidak berjumpa. Wajahnya tidak berubah sehingga mudah dikenali. Dani tidak pernah meng-upload fotonya di media sosial. Ternyata wanita yang diboncengnya adalah istrinya. Dani diterima sebagai dokter di PT. Timah penempatan di Pulau Kundur.

Advertisements
 
5 Comments

Posted by on April 5, 2017 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , , ,

Kenalkan, Blog Baru!

Blog baru. Lebih spesifik dengan tema khusus, perjalanan. Blog ini dituju bagi mereka yang hobi berpetualang. Jalan-jalan kemana saja, tanpa memilah destinasi. Jalan-jalan ala Backpacker, namun tidak menutup bagi cerita perjalanan ala turis, terencana, dan ke tempat-tempat memesona.

Bagi saya, semua tempat di muka bumi memiliki pesona tersendiri. Khusus bagi pejalan bertipe ‘turis’, bagi mereka berwisata adalah mengunjungi tempat-tempat mainstream seperti Pulau Bali, Bunaken, Singapura, Bangkok, Maladewa, dll. Tidak salah memang. Setiap orang memiliki passion yang berbeda.

Jika Anda suka melihat keunikan pasar tradisional, budaya suatu daerah, kebiasaan tak lazim suatu penduduk, melihat suasana kampung, melancong ke pulau-pulau sepi, keliling naik pompong, bertandang ke tempat-tempat baru, dan hal-hal mainstream lainnya, kita memiliki passion yang sama. Selamat, blog baru saya ini juga milik Anda (ngomong gaya MLM).

Blog yang sedang Anda kunjungi ini, berisi gado-gado. Semua tema ada di sini. Usianya sudah 8 (delapan) tahun. Mem-posting-nya tergantung mood. Bahkan, sempat vakum lebih dari setahun.

Bersyukur saya menemui komunitas yang mempunyai passion serupa, sehingga blog ini tidak lagi dipenuhi sarang laba-laba. Artikel di blog ini jadi lebih sering update. Komunitas yang saling memotivasi. Blogger Kepri.

Sebelumnya, saya sudah pernah tergabung dalam sebuah komunitas blogger di Depok, Jawa Barat, deBlogger. Saat itu saya sedang menjadi pekerja di ibukota. Tidak jauh berbeda dengan Blogger Kepri, deBlogger juga sering diundang oleh perusahaan-perusahaan mulai dari telekomunikasi hingga brand-brand ternama. Hanya saja bedanya, Blogger Kepri yang berpusat di Kota Industri, Pulau Batam, lebih sering berhubungan dengan hotel dan resor. Wajar saja, karena pulau ini berjiran dekat dengan negara tajir: Singapura dan Malaysia.

Meski masih seumur jagung, saat ini blog baru saya sudah memiliki 15 artikel. Bagi yang ingin bermain-main sila berkunjung. Atau jika sekadar ingin melihat ‘rumah baru’ tanpa ingin membaca, sila klik saja domain blog terbaru ini. Sesaat lagi…

 
1 Comment

Posted by on March 29, 2017 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , ,

Tidore untuk Indonesia: Melihat Tidore

tidore republika

Keindahan laut Tidore (foto republika)

Mendengar kata Tidore, seakan dibawa kembali ke masa-masa ketika duduk di bangku sekolah. Aku mengenalnya pertama kali dari buku pelajaran sejarah. Tidore melekat di ingatanku hingga saat ini, selain Ternate, kerajaan di pulau seberangnya yang sering dikisahkan bersamaan di buku pelajaran sejarah.

Melihat Tidore. Banyak orang Indonesia yang mengetahui Tidore hanya dalam rangkaian aksara. Sama halnya denganku, sekadar mengetahui tentang kisah masa lalu Tidore yang terangkum dalam buku pelajaran sejarah. Umumnya, mereka yang pernah mempelajari sejarah Tidore di bangku sekolah, mengenal Tidore hanya dalam bentuk sebuah kerajaan. Khususnya, mereka yang hidup di Indonesia bagian barat.

Untuk itu, mengapa aku menggunakan judul ‘Melihat Tidore’ pada tulisan ini. Tidak lain adalah ingin mengajak mereka yang hanya mengetahui Tidore dari buku pelajaran sejarah, untuk melihat wujud sesungguhnya pulau cantik nan eksotis ini.

Sebagaimana diceritakan pada buku pelajaran sejarah, Tidore merupakan salah satu kerajaan Islam terbesar di Indonesia bagian timur, yang terletak di Pulau Tidore, sebuah pulau kecil di Provinsi Maluku Utara (Malut). Meski berukuran mungil, namun peran Pulau Tidore sangat berpengaruh bagi provinsi bermayoritas Muslim ini.

Malut merupakan provinsi kepulauan dengan pulau terbesarnya bernama Halmahera. Tahukah Anda, Pulau Tidore hanya sebesar sekitar lima persen dari Pulau Halmahera yang jauh lebih besar? Goresan sejarah yang tertoreh serta kekayaan rempah yang melimpah ruah membuat Pulau Tidore menjadi sangat penting.

Pulau Tidore berstatus kotamadya sejak tahun 2003 dengan nama Kota Tidore Kepulauan. Kecil-kecil cabe rawit, istilah ini pantas di sandang pulau imut ini. Sebagian daratan di Pulau Halmahera merupakan bagian dari wilayah administratif Kota Tidore Kepulauan.

Selama 10 tahun, Ibukota Provinsi Malut berada di Ternate. Namun, sejak tahun 2010, Ibukota Provinsi dipindahkan ke Pulau Halmahera, tepatnya di Kota Sofifi. Meski berbeda pulau, namun Sofifi masih berada di wilayah administratif Kota Tidore Kepulauan.

Kekayaan rempah-rempah yang dimiliki Tidore membuatnya menjadi sasaran empuk bagi penjajah asal Eropa pada masa lalu. Tidore kaya akan tanaman cengkeh dan pala yang melimpah. Hingga saat ini, produksi cengkeh dan pala di Malut masih menjadi primadona di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Nilai jualnya yang aduhai, mampu menjadi penopang bagi perekonomian masyarakat Malut, khususnya Tidore.

Kesultanan Tidore saat ini dipimpin oleh Sultan Tidore ke-37, Husain Syah, yang dinobatkan pada tahun 2014.

Provinsi Maluku Utara. Mungkin sebagian Anda yang mendengar kata ‘Maluku’ di dalamnya akan mengidentikkan dengan Ambon. Ya, Kota Ambon memang merupakan Ibukota Provinsi Maluku. Tetapi, kedua wilayah ini telah berpisah sejak 1999, membentuk provinsi masing-masing: Provinsi Maluku yang berpusat di Ambon dan Provinsi Maluku Utara yang berpusat di Sofifi.

Secara ras dan budaya, kedua wilayah ini memiliki perbedaan. Penduduk Maluku cenderung berkulit lebih gelap dibandingkan penduduk Maluku Utara. Dari segi agama, penduduk Malut bermayoritas Islam, bahkan dikenal kental dengan nuansa syariat Islam. Sedangkan penduduk Maluku, khususnya di Kota Ambon, bermayoritas Nasrani.

Dari segi bahasa, Malut cenderung mirip dengan Sulawesi Utara. Hal ini saya ketahui saat bertemu dengan delegasi asal Malut dan Sulawesi Utara pada sebuah program kepemudaan.

Kejayaan Islam di Indonesia Timur, khususnya di Maluku Utara, disebar oleh para pedagang dari Arab ke berbagai daerah mulai dari Sulawesi hingga Papua.

Tidore Bumi Pilihan

Rasanya tidak ada yang menyangkal bahwa keindahan alam laut di wilayah Indonesia bagian timur sangat memesona. Tak terkecuali Tidore. Secara geografis, Tidore terletak berdekatan dengan Sulawesi Utara yang terkenal dengan Taman Laut Bunaken-nya yang mendunia, dan Sulawesi Tenggara yang populer dengan Taman Laut Wakatobi. Jika pernah mendengar keindahan kedua tempat di Sulawesi itu, secara tidak langsung Anda akan mengakui keindahan laut Tidore yang berdekatan.

Malut bagaikan bumi pilihan alam semesta. Fenomena alam yang sangat langka memilih Tidore sebagai salah satu singgasana persinggahan. Gerhana Matahari Total (GMT). Ya, fenomena yang luar biasa ini sempat menjadi perhatian dunia pada tahun 2016 lalu. Hanya terjadi di beberapa daerah, salah satunya Malut.

Bahkan, Putri Raja Thailand, Maha Chakri Sirindhorn, memilih Malut sebagai tempat menyaksikan fenomena alam nan langka tersebut. Padahal, ada dua tempat lainnya yang menjadi titik persinggahan GMT.

 

 
7 Comments

Posted by on March 17, 2017 in Uncategorized

 

Tags: , ,

Legenda Si Badang (Cerita Rakyat Karimun)

buku si badang

Di sebuah pulau kecil hidup seorang pria bernama Badang. Ia merupakan seorang yang amat rajin. Ia bekerja sebagai budak pada seorang tuan yang amat kaya bernama Nira Sura.

Lokasi tempat tinggal Si Badang ini dikenal dengan nama Pulau Karimun, sebuah pulau yang kini telah berstatus kabupaten di Provinsi Kepri. Secara geografis, letak Pulau Karimun berdekatan dengan dua negara yaitu Malaysia dan Singapura. Hanya butuh 45 menit perjalanan saja menggunakan feri cepat menuju Johor, Malaysia.

Badang bekerja sebagai penebas pohon di hutan. Pohon-pohon yang ditebang guna untuk perluasan ladang-ladang baru. Pada zaman itu para pekerja tidak dibayar dengan uang melainkan dengan beras.

Beras yang diterima Si Badang ditanak menjadi nasi, untuk makanan sehari-hari. Badang merasa hambar dengan nasi yang dimakan tanpa lauk pauk. Kemudian terpikir olehnya untuk menangkap ikan di sungai.

Sore hari, selepas bekerja menebas pohon Badang memasang lukah di sungai yang dilewatinya. Lukah adalah alat perangkap ikan yang terbuat dari bambu atau rotan. Sekilas mirip tudung penutup ayam, namun bentuknya lebih kurus.

Badang memasang lukahnya setiap sore hari, dan diangkat setiap pagi saat memulai pekerjaannya. Namun, setiap kali Badang mengangkat lukahnya selalu yang terlihat adalah tulang-tulang ikan. Si Badang curiga ada yang memakan ikan hasil tangkapannya. Badang berang. Tidak hanya sekali, tetapi setiap hari kejadian ini selalu berulang.

Badang berinisiatif untuk mencari tahu siapa pelaku yang memakan hasil ikan tangkapannya. Ia menduga bahwa pelakunya adalah hewan buas yang ada di hutan itu. Hingga suatu ketika sebelum ia beraksi untuk melacak pelaku pencuri ikannya, malam harinya Badang bermimpi sedang berada di dalam perahu yang penuh dengan muatan dagang. Dalam mimpi tersebut ia menjadi seorang yang kaya raya serta hidup mewah bersama ayah, ibu, dan adiknya.

Masih di dalam mimpi, Badang mengangkat sebuah batu yang sangat besar. Lalu batu tersebut dilemparkannya ke atas hingga melayang dan jatuh ke muara sungai. Ada satu hal aneh dalam mimpi tersebut, ia memakan muntahan suatu makhluk yang wujudnya amat mengerikan.

Ketika terbangun dari mimpinya, Badang sedikit merasa terganggu, ketakutan. Lalu ia bergegas menuju sungai dengan membawa sebilah parang untuk mencari tahu pelaku yang memakan ikan-ikannya. Alangkah terkejutnya ia saat mengetahui bahwa yang memakan ikan di lukahnya bukan binatang buas melainkan sesosok yang amat mengerikan, mirip seperti di dalam mimpinya.

Badang mengintip dari celah popohonan. Makhluk yang memakan ikan hasil tangkapannya ternyata merupakan Jembalang Air atau Hantu Air. Bentuknya tinggi besar melebihi rumah Badang. Rambutnya gondrong sepinggang. Janggutnya panjang menutupi dadanya yang berbulu. Ia memiliki dua tanduk di kepalanya. Matanya merah redup.

Sehabis memakan ikan di dalam lukah tersebut, Jembalang Air itu pun tertidur pulas. Karena rasa emosi yang sudah memuncak, Badang pun memberanikan diri untuk menghadapi Jembalang Air itu. Ia mengikat rambut Jembalang yang panjang dengan jaring. Lalu jaring tersebut ditimpakan dengan batu besar.

Sambil memegang parang, Badang membentak makhluk tersebut hingga terbangun. Jembalang Air tampak ketakutan dengan ancaman Si Badang. Untuk menyelamatkan dirinya, Jembalang Air itu berjanji akan memenuhi apapun permintaan Si Badang.

Badang menyetujui kesepakatan yang ditawarkan Jembalang Air. Badang meminta untuk diberikan kekuatan agar tidak cepat lelah dalam menjalankan pekerjaannya. Jembalang Air sanggup memenuhi permintaan Si Badang asal ia mau melakukan syarat yang harus dipenuhi. Adapun syarat tersebut adalah memakan muntahan Jembalang Air.

Awalnya Si Badang cukup terkejut dengan syarat yang harus dipenuhinya, tetapi akhirnya ia mau melakukannya dengan posisi masih mengancam, memegang rambut Jembalang Air. Karena ia khawatir itu hanya akal-akalan Si Jembalang Air. Lalu Jembalang Air itu mengambil sebuah daun dan memuntahkan isi dalam perutnya.

Daun yang berisi muntahan Jembalang Air yang konon berupa dua buah batu geliga merah itu dimakan oleh Si Badang. Badang mencoba kekuatan barunya dengan mencabut sebuah pohon besar dengan satu tangan, karena tangan satunya lagi masih dalam posisi memegang jaring yang mengikat rambut Jembalang Air. Ternyata pohon besar tersebut berhasil dicabut Si Badang dengan mudah hingga akar-akarnya.

Badang melepaskan jaring yang dipegangnya. Jembalang Air berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya memakan ikan-ikan di dalam lukah tersebut. Saat dalam perjalanan pulang ke rumah, Si Badang mencoba kekuatan barunya dengan mencabuti pohon-pohon besar yang dillaluinya tanpa beban sedikitpun.

Hijrah ke Temasik

Suatu ketika sang majikan, Nira Sura, berkeinginan untuk memperluas lahan di Baruah. Ia menyuruh Badang untuk menebang pohon-pohon di sana. Nira Sura heran Badang pulang begitu cepat dari Baruah. Ia curiga Badang tidak melaksanakan perintahnya.

Badang mengatakan kepada Nira Sura bahwa ia telah melakukan pekerjaan dengan baik. Pohon-pohon di hutan Baruah telah rata, membentuk ladang baru. Badang juga berkata ia melakukannya seorang diri. Nira Sura masih tak percaya. Bagaimana mungkin pohon-pohon besar itu bisa dilakukan Si Badang dalam sehari, seorang diri.

Badang menceritakan kepada Nira Sura tentang kejadian yang dialaminya beberapa waktu lalu. Nira Sura terenyuh mendengar cerita Si Badang. Ia lalu membebaskan Si Badang. Badang pun terbebas dari status budaknya.

Badang bebas mencari pekerjaan baru yang diinginkannya. Hingga suatu ketika kekuatan Si Badang tersohor hingga Temasik (Singapura). Konon, kabar kekuatan Si Badang menyebar kemana-mana karena peran tuan lamanya, Nira Sura.

Badang memutuskan berlayar ke Temasik. Ia ingin mencoba peruntungan di tempat lain. Nira Sura berpesan kepada Si Badang agar tetap rendah hati dan mempergunakan kekuatan yang dimilikinya hanya untuk kebaikan.

Suatu ketika saat Badang sedang bersantai di teras rumahnya yang baru di Temasik ia melihat sekitar 50 orang sedang mendorong kapal besar ke laut. Ia menawarkan untuk membantu mendorong kapal tersebut.

Tetapi tawaran Badang ditolak. Badang hanya dianggap sebelah mata. Raja Temasik bernama Seri Rena Wikrama kemudian mengirim 300 orang lagi untuk membantu menggeser kapal tersebut ke laut. Nihil. Tetap tidak membuahkan hasil. Kapal besar tersebut masih tetap di tempat.

Mengetahui bahwa tawaran Si Badang ditolak untuk membantu mendorong kapal, Sang Raja memberikan kesempatan kepada Si Badang untuk melakukannya. Di hadapan Sang Raja dan ratusan orang Si Badang berhasil mendorong kapal besar tersebut ke laut hanya seorang diri. Semua mata terpana melihat apa yang barusan dilakukan Si Badang, tak terkecuali Raja Seri Rena Wikrama.

Setelah kejadian tersebut, Raja Seri Rena Wikrama memanggil Si Badang ke istana dan mengangkatnya menjadi Panglima Militer Tertinggi. Badang sering mendapatkan titah dari Sang Raja untuk hal-hal kebaikan.

Suatu ketika, Raja Seri Rena Wikrama sangat menginginkan daun kuras yang enak rasanya. Daun tersebut terdapat di daerah Kuala Sayong, Sumatera Utara, perbatasan dengan Aceh. Raja menyuruh Si Badang untuk mencarinya. Badang pun melaksanakan titah Sang Raja. Ia berlayar seorang diri menuju Kuala Sayong.

Setibanya di Kuala Sayong Badang memanjati pohon untuk mengambil daun kuras yang cukup tinggi. Tak disangka ternyata batang pohon tersebut sangat rapuh. Badang terjatuh. Kepalanya terhempas di bebatuan. Tetapi diluar dugaan, Si Badang tidak cedera. Kepalanya tidak terluka sedikit pun. Anehnya, yang pecah terbelah menjadi dua justru batu tersebut. Batu yang dipercaya terkena hentaman kepala Si Badang itu masih bisa disaksikan hinggga kini yang dikenal dengan nama Batu Belah.

***

Popularitas Si Badang semakin tersohor. Bahkan hingga ke telinga Kerajaan di India. Kerajaan India menawarkan kepada Raja Seri Rena Wikrama untuk mengadu kekuatan antara Si Badang dengan ksatria yang dimilikinya bernama Nadi Bijaya. Tanpa pikir panjang Raja Seri Rena Wikrama menyetujui tawaran tersebut dengan ramah.

Kemudian Sang Ksatria India, Nadi Bijaya, dikirim ke Temasik bersamaan dengan tujuh buah kapal yang di dalamnya terdapapt banyak muatan barang dagangan. Sebagaimana kesepakatan, bagi yang kalah dalam adu kekuatan nanti maka dia harus menyerahkan semua muatan dagang yang ada di kapal.

Adu kekuatan antara Si Badang dan Nadi Bijaya dimulai. Dari setiap pertarungan, hasilnya selalu imbang. Sementara barang dagangan yang diperebutkan bagi yang menang sudah siap untuk diangkut. Akhirnya diputuskanlah untuk adu kekuatan mengangkat batu besar yang ada di depan istana. Nadi Bijaya mampu mengangkat batu tersebut hingga setinggi lutut. Sementara Si Badang mengangkat batu yang sama hingga di atas kepalanya lalu dilemparkannya ke laut. Nadi Bijaya mengakui kekalahannya. Tujuh buah kapal berisi muatan barang dagang yang dibawanya dari India diserahkan semua kepada Kerajaan Temasik.

Si Badang mengabdi kepada Kerajaan Temasik sekian tahun lamanya. Selama pengabdian tersebut ia banyak mengalahkan ksatria-ksatria dari kerajaan lain. Termasuk ksatria dari Tanah Jawa. Si Badang mulai merasakan kejenuhan. Ia berkeinginan untuk mengundurkan diri dari Kerajaan Temasik. Ia memutuskan untuk kembali ke Sumatera.

Si Badang menghabiskan sisa hidupnya di sebuah pulau kecil di gugusan Kepulauan Karimun, Provinsi Kepri, tepatnya di Pulau Buru. Ia wafat di pulau kecil tersebut dan dimakamkan di sana.

Hingga kini makam Si Badang dapat disaksikan di Pulau Buru. Banyak pelancong yang datang ke Karimun menyempatkan untuk berziarah ke makam Si Badang. Dari Pulau Karimun Besar menuju Pulau Buru hanya berjarak 15 menit saja dengan menggunakan feri cepat. Di pulau ini juga terdapat sisa peninggalan masjid tua nan bersejarah bernama Masjid Abdul Gani.

Bagi yang ingin piknik cantik ke makam Si Badang di Pulau Buru, akses perjalanan dari Batam menuju Tanjungbalai Karimun terlebih dahulu. Kemudian berpindah ke pelabuhan KPK (pelabuhan antar pulau) yang hanya berjarak satu kilometer dari pelabuhan utama. Dari Pelabuhan KPK tinggal menyeberang ke Pulau Buru dengan menggunakan feri cepat selama 15 menit.

 
6 Comments

Posted by on March 13, 2017 in Sastra

 

Tags: , , , , , , , ,

The Shore 3D Interactive Park Malaka

a-masuk-the-shore

Jalan-jalan ke Malaka, Malaysia, tidak hanya melihat kota tua nan bersejarah dengan bangunan gereja merahnya yang populer. Tetapi, masih banyak tempat-tempat menarik lainnya yang bisa dikunjungi. Salah satunya adalah The Shore.

The Shore adalah sebuah gedung pencakar langit yang di dalamnya terdapat berbagai wahana yang bisa dinikmati. Salah satunya adalah The Shore 3D Interactive Park. Ya, dari namanya saja tentu sudah bisa ditebak. Saat ini memang lagi tren gambar tiga dimensi dalam ruangan yang digunakan untuk berfoto. Namun, 3D yang ada di The Shore ini tidak sekadar menghadirkan gambar saja, tetapi juga ada versi gambar bergerak alias video.

Pengunjung seolah-olah diajak masuk ke dalam video tersebut, seperti berinteraksi dengan harimau yang didesain mirip bentuk aslinya, bisa bergerak. Bagi yang ingin mencobanya, harus berdiri di titik yang telah ditandai. Kemudian berpura-pura seolah sedang berinteraksi dengan harimau. Tentu saja penampakannya hanya bisa dilihat dari sebuah monitor tv di depannya.

Sementara itu, aneka ruang tiga dimensi tersedia lengkap bagi yang ingin bernarsis ria. Mulai dari ruang terbalik, seribu cermin, dan tentu saja puluhan gambar tiga dimensi lainnya yang variatif, dan tentunya tidak membosankan. Penasaran? Lihat saja gambar-gambar yang ada di bawah ini.

a-jerapah

 

a-bear

a-suasana-malam

a-miring

a-naga

 

Program ini saya ikuti bersama Kementerian Pariwisata Malaysia (MyMotac) dan Gaya Travel (media pariwisata kemenpar Malaysia) dalam kegiatan Familiarization Trip (Famtrip). Saya dan dua orang dari Blogger Kepri dari Indonesia: Lina Sasmita dan Chahaya Simanjuntak turut hadir memeriahkan famtrip bertajuk In Case You Didn’t Know Melaka (ICYDKMelaka) ini.

Blogger Kepri sering terlibat dalam program famtrip yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata Malaysia. Baru-baru ini, program famtrip Rentak Selangor juga diikuti oleh perwakilan Blogger Kepri, Sri Murni.

 
8 Comments

Posted by on March 6, 2017 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , , , ,

Nagoya Mansion Hotel and Residence Batam

img_20160304_100400

Nagoya Mansion Hotel and Residence terletak di jantung kota Batam. Keberadaannya semakin melengkapi referensi hotel berbintang di kota industri ini. Lokasinya yang sangat strategis dapat dijadikan pilihan menginap saat berkunjung ke Batam. Hanya berjarak 500 meter dari pusat perbelanjaan Nagoya Hill dan satu kilometer dari pelabuhan internasional Harbour Bay. Pun mudah dijangkau jika hendak ke pusat pelabuhan Batu Ampar yang kini sudah dijadikan tempat bersandarnya Kapal Kelud milik PT. Pelni.

Lobi utama hotel ini terletak di lantai dua karena memanfaatkan lahan yang sempit sehingga di bagian bawah disediakan semacam ruang tunggu kecil. Meski begitu, area parkirnya cukup luas pada lantai bawah (under ground).

img_20160303_165815

Bersantai di kamar hotel

Lobi pada lantai terlihat luas. Terhubung langsung ke restoran oleh sebuah pintu kaca yang terletak di lantai yang sama. Pada area lobi ini terdapat berbagai jenis sofa yang bisa diduduki. Aktifitas menunggu atau bercengkerama di lobi akan terasa menyenangkan. Temboknya sebagian disekat oleh kaca, tembus pandang. Sehingga dapat menikmati panorama kota Batam sembari bersantai di lobi.

img_20160304_095733

Ruang lobi hotel

Dekorasi kamar hotel mampu membuat tidur lelap. Kasur double bed nan empuk diapit oleh dua lampu duduk hias bercahaya remang. Bed cover berwarna putih polos diselipkan sedikit desain batik di bagian bawahnya.

Karpetnya sungguh empuk dipijak. Di sudut kamar terdapat dua sofa single untuk bersantai. Jendela menghadap langsung ke panorama kota Batam, memandang dari ketinggian. Tidak hanya kamar, dekorasi kamar mandinya pun sungguh menarik. Membuat betah berlama-lama mandi di dalamnya.

Dua botol air mineral disuguhkan gratis bagi pengunjung. Jika hendak meminum kopi atau teh bisa membuatnya langsung di kamar dengan paket lengkap beserta pemanas air.

Ke restoran seperti berwisata

Tempat favorit saya di Nagoya Mansion ini adalah restorannya. Desainnya sangat menarik. Membuat seakan seperti di tempat wisata. Menu sarapan pagi disajikan komplit. Mulai dari makanan berat hingga sekadar camilan. Aneka kue dan roti pun membuat bingung untuk memilih karena saking banyaknya. Aneka sajian minuman pun banyak pilihan.

Bahkan makanan favorit saya pun bisa ditemukan di sini, Roti Canai. Sedap. Saya memilih menikmati nasi goreng dengan lauk pauk yang ramai. Semua makanan yang diambil kami boyong ke luar. Bukan keluar hotel tentunya. Tetapi, tempat makan di area luar.

Ya, ada banyak pilihan untuk duduk menyantap makanan di sini. Selain di dalam, yang juga sangat nyaman, di luar pun tak kalah menarik. Rasanya tak salah saya mengatakannya demikian, karena posisinya berada persis di tepian kolam renang. Kolam renang berbentuk mini, luasnya setengah kali lapangan badminton, berada persis di tepian gedung.

img_20160304_081031

Bersantap di tepian kolam renang

Kolam renang ini posisinya persis di tepian gedung. Disekat tembok setinggi dua meter, menutupi pinggiran kolam renang. Sebelahnya merupakan kawasan hutan. Sehingga selain bisa melihat kolam renang, mata pun dimanjakan dengan pemandangan pepohonan hutan di luar sana. Adem sekali.

img_20160304_080134

Restoran yang menghadap langsung ke kolam renang dengan sekat tembok kaca

img_20160304_080119

Pilih makan di dalam atau di luar? Sama-sama oke!

img_20160304_091209

Aneka camilan nikmat

img_20160304_080051

Restoran berdekorasi menarik lainnya tak jauh dari kolam renang

Tidak hanya itu, di sebelahnya lagi, sekitar 10 meter, juga terdapat area tempat makan yang payungi dengan hiasan tanaman yang menjalar di atasnya. Berasa seperti berwisata saja. Terlihat romantis. Tarif menginap per malam di hotel ini mulai dari Rp. 445.440.

img_20160304_085520

Nagoya Mansion Hotel and Residence

 

Address

Jl. Imam Bonjol No. 1, Kampung Utama, Lubuk Baja Kota, Batam Kota, Kota Batam, Kepri, 29444, Indonesia

Phone +62 778 7430077

 
9 Comments

Posted by on February 28, 2017 in Hotel

 

Tags: , , , , , , , ,

Wahai Manusia, Traveling-lah di Segala Penjuru Dunia!

jalan-jalan-halal

Sepasang kekasih halal menjelajahi alam (foto nadhillah gayvani)

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. [Al Mulk: 15]

Siapa yang tidak suka jalan-jalan? Rasanya belum pernah bertemu sama tipe orang seperti ini. Kalaupun ada yang mengatakan tidak suka jalan-jalan, biasanya orang tersebut mempertimbangkan tentang pengeluaran kepada hal-hal yang menurutnya lebih penting.

Sehingga tak jarang ada yang mengatakan jalan-jalan hanya untuk menghambur-hamburkan uang saja. Tidak salah memang. Tetapi yakinlah, meski ia memiliki idealisme seperti itu, namun jika diajak jalan-jalan, apalagi gratis, rasanya mustahil ia untuk menolak.

Umumnya, orang yang melakukan jalan-jalan tujuannya tidak lain adalah untuk refreshing. Menyegarkan diri setelah dihadapi dengan rutinitas pekerjaan. Jalan-jalan adalah obat penghilang rasa lelah. Memang banyak cara untuk meredam rasa lelah. Tetapi yakinlah, jalan-jalan adalah obat paling mujarab, walaupun sekadar bersilaturahmi ke rumah saudara atau berkunjung ke taman di komplek rumah.

Tentu saja jalan-jalan yang dimaksud di dalam Al Quran sebagaimana di awal paragraf ini adalah yang bermakna positif, mengandung manfaat. Yang membuat diri semakin dekat kepada Sang Pencipta. Dengan menjelajahi segala penjuru bumi, bahkan mungkin ke luar angkasa. Melihat ciptaan-Nya yang memesona, sehingga tak jarang membuat berdecak kagum.

Salah satu manfaat jalan-jalan adalah semakin menyadari bahwa diri ini sangat kecil di hadapan-Nya. Bagai butiran debu. Sehingga senantiasa untuk belajar menjadi lebih baik.

Menyaksikan keindahan alam, bahkan keajaiban dunia yang diakui dalam The Seven Wonder, tujuh keajaiban dunia. Merasakan perbedaan dengan ragam bahasa. Aneka ras dengan warna kulit yang berbeda-beda. Padahal sejatinya, nenek moyang manusia adalah satu, Adam dan Hawa.

Manusia disuruh untuk bertafakkur. Merenung. Bersyukur. Dan semakin mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Alam Semesta.

 

Berikut ayat-ayat Al Quran yang memaknai tentang perjalanan:

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku lalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku lalim kepada diri sendiri.” [Ar Rum: 9]

 

“Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [Al Ankabut: 20]

 

“Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.” [An Naml: 69]

 

“…berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” [An Nahl: 36]

 

“Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Adalah orang-orang yang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka.” [Ghafir: 82]

 

 

 
8 Comments

Posted by on February 20, 2017 in Uncategorized

 

Tags: , , , , ,