RSS

Tag Archives: overland

Jalan-jalan ke Langsa

Keliling Aceh 2

Deretan pondok makan mi kepiting di atas tambak-tambak ikan di Langsa, Aceh

Mengunjungi Aceh adalah impianku sejak kecil. Sebagai seorang pejalan tentu sangat mendambakan bisa menjejaki bumi paling barat negeri ini. Libur lebaran kemarin aku dan keluarga memanfaatkan waktu untuk mengeskplorasi bumi yang terkenal dengan sebutan Serambi Mekkah.

Perjalanan dimulai dari Medan. Kami beranjak dari rumah tepat pukul tujuh pagi. Sebelum menembus tapal batas provinsi, terlebih dahulu akan melewati tiga kabupaten dan kota di Sumatera Utara (Sumut). Pertama, Kabupaten Deliserdang. Ini merupakan kabupaten terbesar di Sumut. Letak geografisnya berada di pinggiran ibukota provinsi atau mengelilingi Kota Medan. Sehingga tidak terlalu lama untuk melintasinya. Wilayah kedua, kami melewati Kota Binjai. Kota mungil ini terlihat lebih bersih dan tertata dibandingkan Kota Medan. Perjalanan melintasi dua wilayah ini memakan waktu sekitar satu jam.

Wilayah ketiga yang kami lewati adalah Kabupaten Langkat. Kabupaten ini merupakan batas terakhir dari Provinsi Sumut. Perjalanan menempuh wilayah ini memakan waktu sekitar dua jam perjalanan. Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan berupa pemukiman penduduk yang terlihat agak jarang. Suasana ramai hanya terlihat saat melintasi ibukotanya, Stabat, dan sebuah kecamatan tua nan bersejarah bernama Tanjungpura.

Semakin mendekati tapal batas provinsi pemandangan berganti menjadi deretan pohon kelapa sawit. Gapura perbatasan menyapa kami. Selamat datang di Provinsi Aceh. Daerah pertama yang kami masuki adalah Kabupaten Aceh Tamiang. Terlihat sekali perbedaan jenis aspal jalan saat menembus batas dua provinsi ini. Jalanan di Aceh memang terkenal lebih mulus, hanya sebagian kecil yang masih perlu perawatan. Ibukota Aceh Tamiang adalah Kualasimpang.

Selanjutnya memasuki Kota Langsa. Sebelum berstatus kotamadya, kota ini pernah menjadi bagian dari Aceh Timur, tentu saja penampakannya memenuhi standar sebuah kota, terlihat lebih maju. Di kota ini kami rehat makan siang sejenak di kawasan yang dipenuhi area pertambakan hewan seafood. Disini terkenal dengan menu mi kepiting. Beberapa pondok makan berjejer di sepanjang jalan yang mengarah ke Pelabuhan Kuala Langsa.

Mie kepiting merupakan mi aceh yang dipadu dengan kepiting rebus utuh di dalamnya. Pondok-pondok makan disini berbentuk saung, bagai rumah makan terapung, berdiri di atas tambak-tambak ikan. Suasana sekitar terlihat tenang. Riak gelombang kecil air tambak yang dihembus angin menambah syahdu suasana. Jalanan yang mulus dan bersih meski hanya selebar tiga meter turut memperindah tatanan di kawasan ini. Pemukiman sekitar terlihat sederhana, rumah-rumah berbahan kayu. Namun tidak mengurangi keindahan tempat ini.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on April 26, 2017 in traveling

 

Tags: , , , , ,

Mimpiku Dimulai!

Jarum jam menunjukkan pukul 5 pagi. Aku beranjak dari tidur bersiap untuk ke kantor melaksanakan pekerjaan terakhir sebelum melakukan perjalanan panjang melintasi beberapa negara. Ya, hari ini tepat sore hari sepulang dari kantor aku akan memulai petualangan keliling Asia Tenggara.

Hari ini aku merasa semangat sekali bekerja. Meski terkadang tidak begitu fokus karena terbagi dengan memikirkan pertualangan yang akan aku mulai di hari yang sama. Semua rekan di kantor tidak ada yang mengetahui rencana perjalanan nekat ini. Sengaja aku tidak menceritakannya karena tidak ingin ada suara-suara yang menghalangi niatku ini. Hanya ingin fokus selama perjalanan nanti.

Detik-detik jarum jam terus berputar. Hingga tiba saat jam pulang kantor. Aku meminta izin kepada beberapa rekan untuk pulang tepat waktu. Tidak seperti biasanya ketika jam kantor berakhir masih ada sisa pekerjaan yang harus diselesaikan. Setelah berpamitan dengan temanku, Yogi dan Angel, aku menyempatkan sejenak menyentuh sosial media ciptaan Zuckerberg dengan meninggalkan sebuah kalimat, “Petualangan Dimulai!”.

Dengan sedikit berlari, aku hampiri tukang ojek di pangkalan seberang kantor yang telah dibooking. Sebelum menuju pelabuhan aku mampir sejenak ke rumah untuk berganti pakaian dan mengambil ransel. Aku meminta kepada sang ojek untuk mempercepat laju kendaraan. Perjalanan menuju pelabuhan feri internasional di Batam Centre memakan waktu selama 10 menit.

Tiket feri Batam – Stulanglaut sudah ditangan. Aku beli 5 jam sebelumnya saat istirahat jam makan siang kantor. Stulanglaut adalah nama pelabuhan di Johor Bahru, Malaysia. Setelah melakukan proses pengecopan paspor aku masuk ke ruang tunggu menanti keberangkatan yang tak berapa lama lagi.

Ini adalah kali pertama aku memasuki negaranya Dato’ Siti Nurhaliza. Tidak ada persiapan khusus untuk memasukinya. Hanya bermodal nekad dan doa. Rasa nekat ini umumnya timbul dari passion yang tersimpan di dalam diri seseorang. Sehingga mampu mengikis rasa khawatir yang berlebih.

Terdengar suara petugas informasi mengumumkan feri tujuan Stulanglaut akan segera diberangkatkan. Aku beranjak dari kursi dan turut berbaris antri dengan penumpang lainnya di pintu pemeriksaan tiket. Langkah kaki ku ayunkan melintasi koridor selebar gang dengan panjang 200 meter menuju tempat feri bersandar.

Penumpang feri kali ini tidak terlalu ramai. Terisi sepertiga dari total bangku yang tersedia. Tampak beberapa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di dalamnya. Mereka berbincang akrab dengan logat medok sambil tertawa riang. Senang sekali rasanya mendengar keceriaan mereka. Karena selama ini aku hanya melihat kisah-kisah tragis yang dialami teman-teman mereka yang disiarkan melalu media. Perasaanku saat ini serupa dengan keriangan mereka yang duduk dikursi belakangku.

Sore nan cerah berganti remang yang kemudian redup menghadirkan kegelapan di luar sana. Aku masih duduk manis di dalam feri. Semarak cahaya lampu berwarna kuning terlihat dari balik jendela feri. Lampu-lampu itu milik berbagai perusahaan seperti galangan kapal, kilang minyak, dll. yang saling berdekatan. Feri berada persis di sisi negara Singapura, yang pernah menjadi bagian dari negara Malaysia.

Aroma tanah Malaysia semakin jelas tercium. Feri mulai merapat di pelabuhan Stulanglaut. Rupiah di saku celana seakan pudar tak bernilai. Lidahku tak begitu kaku untuk menyesuaikan dengan logat negara Melayu ini karena sedari kecil tumbuh dan besar dengan logat serupa di Pulau Kundur. Kaki kananku melangkah keluar dari pintu feri dan untuk pertama kalinya menginjak tanah yang masih satu daratan dengan benua Eropa ini. Hello, Malaysia!

 
Leave a comment

Posted by on May 14, 2015 in Uncategorized

 

Tags: , , , ,

Bermimpi Keliling Asia Tenggara melalui Jalur Darat

Membayangkan berkelana ke negeri orang merupakan kenikmatan tersendiri. Merasakan hidup di lingkungan aku tak paham berbahasa. Rupiah menjadi tak berharga. Adat kebiasaan yang tak lazim ku jumpa. Merasakan hal baru nan berbeda dengan sensasi tak biasa.

Impian ini sudah lama terpendam. Semenjak kecil setiap membaca majalah langgananku yang mengulas tentang kehidupan di luar negeri aku senantiasa larut dalam apa yang ku baca. Seakan sedang berperan dalam bacaan tersebut. Seolah sudah berada di negeri orang.

Ketika menjadi seorang karyawan swasta di Pulau Batam, terbesit keinginan untuk mencoba menjejal negeri seberang yang berjarak dekat, Malaysia. Mengamati peta dengan seksama. Aku dapati negeri jiran tersebut berbatasan langsung dengan Thailand. Sehingga muncul hasrat untuk menembus batas negara yang sepertinya tak jauh berbeda dengan jarak Jakarta – Jogja.

Aku mulai mencari informasi akses antar negara tersebut. Selama ini yang ada di pikiranku bahwa batas-batas negara itu memiliki akses yang tak mudah. Berpikir tidak ada transportasi yang melintas di wilayah perbatasan. Namun setelah mengulik berbagai informasi dari dunia maya, melihat catatan perjalanan para pejalan yang pernah meelakukan lintas negara, keraguanku selama ini terdobrak. Ternyata tidak sulit untuk berpindah negara. Bahkan tersedia transportasi yang melayani akses negara berbeda.

Mengetahui kemudahan akses antar negara tersebut, hasratku yang semula hendak mengunjungi Malaysia saja, menjadi meluas ke negara-negara lain yang terhubung daratan. Dari Malaysia menuju Thailand lalu tergerak untuk mencari tahu negara selanjutnya yang berbatasan yaitu Laos. Setelah berselancar di dunia maya, informasi yang sama juga aku dapatkan, akses menuju Laos tidak begitu sulit. (Visa).

Semakin tertantang untuk mencari tahu negara berikutnya yang masih berada di wilayah Asia Tenggara. Mengingat sebagian besar akses di negara-negara di tenggara benua Asia tersebut tidak memerlukan Visa. Hanya sekedar membawa paspor. Walau ada beberapa yang memberlakukan visa, tetapi pengurusannya tidak memberatkan. Bisa diurus langsung di pintu masuk imigrasi perbatasan negara tanpa harus membuatnya di negara sendiri.

Setelah Laos aku berselancar kembali di dunia maya mencari tahu akses menuju Vietnam. Tanpa diduga ternyata tidak sulit menembus negeri Paman Ho tersebut. Melihat pengalaman-pengalaman para pejalan yang mengurai lengkap disertai foto-foto tentang perjalanannya menuju Vietnam. Senyumku semakin mengembang. Harapan untuk melintasi negara-negara Asean semakin terbuka lebar. Merasakan perubahan bahasa, budaya, dan kebiasaan setempat beberapa kali di beberapa negara. Ini kesenanganku.

Aku mulai merancang rencana perjalanan melintasi beberapa negara Asean. Semua informasi aku kumpulkan sebulan sebelum memulai perjalanan. Pertama kali yang aku lakukan adalah membeli tiket pesawat dari Vietnam ke Singapura di agen penjualan tiket di Batam. Hal ini untuk menguatkan niatku yang semakin membara. Dengan sudah adanya tiket di tangan, segala keraguan diharapkan bisa terkikis. Apalagi harga tiket yang mencapai di atas satu juta. Sehingga tidak terjadi tarik ulur niat yang berujung pembatalan. Karena tentu saja aku akan berpikir dua kali untuk menghanguskan tiket bernilai rupiah tersebut.

Prioritas membeli tiket Hanoi – Singapura menjadi perhatianku karena merupakan hal terpenting dari perjalanan panjang ini. Aku tidak ingin direpotkan saat tiba di Hanoi dan harus dipusingkan dengan kepulanganku ke negara asal. Jika harus membelinya saat tiba di Hanoi maka aku akan dihadapi dengan harga tiket yang tak terduga dengan harga selangit.

Selain mengurus pembelian tiket, persiapan lainnya yang aku lakukan adalah mengajukan cuti kepada bos kantor. Kemudian mempersiapkan barang-barang utama yang harus dibawa. Lalu bertanya sana-sini sama orang-orang yang sudah berpengalaman baik di dunia maya maupun bertanya langsung kepada beberapa teman. Selama sebulan sebelum keberangkatan, meski masih sekedar persiapan, namun yang terlintas dibenakku adalah rasa bahagia.

 

 
Leave a comment

Posted by on May 14, 2015 in Backpacker

 

Tags: , , , , ,